
Shofie melemparkan sapu tangan warna pink bersulamkan tulisan Andini Larasati Sukoco. Dia melemparkan begitu sapu tangan itu setelah membaca tulisan dengan benang wol merah. Sungguh jijik sekali rasanya ada seorang perempuan yang berani menggoda suami orang.
Shofie menggelengkan kepala seolah tak percaya dengan barang yang ditemukannya. Sebuah sapu tangan dan jepit rambut milik seorang wanita kini sudah berada di tangannya.
"Kalau mau sembunyikan segala sesuatu itu jangan di tempat yang bisa aku lihat!"
"Yank, jangan marah dulu, itu bukan punyaku. Itu punya adik kelas, rencananya mau aku pulangin besok. Malah ketemu sama kamu," ucap Raka mencoba membujuk sang istri agar tidak marah.
"Adik kelas? Pacar kamu? Kamu selingkuhi aku, iya 'kan? Ayo ngaku!" cerca Shofie dengan wajah merah padam karena amarah.
"Bukan, Yank. Bukan pacarku apalagi selingkuhan, dia tadi tuh kasih pinjam ke aku. Saat pelajaran olah raga, keringat aku banyak banget jadi dia pinjamin sapu tangan buat lap keringat. Pas mau aku balikin dia sudah masuk kelas. Aku taruh aja di jok aja. Nah, kebetulan pas aku mau ke parkiran nggak sengaja mijak itu jepit rambut yang ternyata punya dia juga. Berhubung sudah mau pulang, aku taruh di jok motor besok pagi baru dibalikin. Begitu ceritanya, mengerti?" jelas Raka panjang dan lebar agar sang istri tidak marah.
"Jangan ngambek, ya! Please," ucap Raka lagi dengan wajah memelas karena sang istri tetap tidak mau bergeming dari tempatnya.
__ADS_1
"Buang saja! Ngapain disimpan! Aku nggak suka," sahut Shofie dengan posisi tangan hendak melemparkan barang itu.
"Jangan dibuang, Yank! Nanti dia mikirnya aku simpan barang itu. Kalau dibalikin tahunya dia aku tolak. Jangan dibuang ya, Sayangku," larang Raka dengan perasaan was-was, takut dibuang betulan oleh Shofie.
Sumpah serapah Raka tujukan pada sang adik kelas yang kecentilan itu. Namun, hanya di dalam hati tidak berani mengeluarkannya secara bebas, takut sang istri salah paham dan semakin marah.
Shofie pun urung membuang sapu tangan dan jepit rambut itu. Dia mengembalikan lagi ke jok motor. Walau begitu, dia tetap marah pada sang suami yang mau saja didekati oleh adik kelasnya.
Sebenarnya bukan mau Raka juga didekati, tetapi kalau sudah cemburu tetap saja Raka yang salah di mata Shofie. Wajah Shofie cemberut saja, bahkan saat sudah sampai di kafe Rasha.
Keadaan kafe cukup memuaskan dan pembukuannya juga rapi tanpa ada selisih. Raka dan Shofie tidak lama berada di kafe mengingat mereka tidak bisa menginap di Jogja. Besok Raka harus kembali mengikuti ujian praktek.
Satu bulan lagi ujian kelulusan diadakan sehingga Raka tidak bisa seenaknya saja izin tidak masuk sekolah. Raka dan Shofie sampai di rumah saat menjelang Maghrib. Ary juga baru saja tiba di rumah besar itu bersama Nathan, sedangkan Nicho masih kerja di Rend Comp.
__ADS_1
Ary langsung mengajak anak-anak dan menantunya makan malam bersama karena tadi Ary singgah dulu ke warung Lamongan, untuk membeli nasi bungkus. Mereka makan dengan tenang, hanya sesekali ada obrolan ringan sebagai pengusir sepi.
"Mommy satu minggu lagi berangkat ke Mekah. Mommy harap kalian tetap seperti ini, saling menyayangi, saling support dan tentunya saling melindungi dalam kebaikan. Jangan berebut warisan karena semua yang bunda miliki itu bukan hasil kerja keras Mommy, tetapi hasil kerja keras seseorang yang sangat baik hati. Kalian harus mengingat pesan yang Mommy katakan!"
Ary memutuskan melakukan umroh agar pikirannya kembali jernih. Selain itu dia juga ingin menyendiri, dia butuh refreshing. Berat rasanya, hidup dalam ketidaknyamanan.
"Mommy mau umroh? Mendadak banget sih kasih kabarnya," tanya Shofie tidak percaya.
*
*
*
__ADS_1
Mampir yuk gaess!