I Love You, Ibu Guru

I Love You, Ibu Guru
Part 50


__ADS_3

Pak Chandra yang mendengar kabar hilangnya Ary di perairan Sumatera, langsung mengerahkan orang-orang terpercaya untuk mencari mantan menantunya itu. Bagi Pak Chandra, ditemukannya Ary adalah hal yang paling penting. Pak Chandra dan istrinya sudah menganggap Ary sebagai anaknya sendiri.


Belum juga ketemu sang anak kesayangan, kini Pak Chandra sudah mendengar kabar bahwa, suami Ary masuk rumah sakit karena serangan jantung. Pak Chandra dan istrinya, Hotmaida, segera bertolak ke Jogja tanpa bertanya terlebih dahulu dimana Alex dirawat.


"Ompung dimana sekarang?" tanya Nathan saat sang kakek menghubungi.


"Baiklah, Nathan tunggu di sini kalau begitu. Sebentar lagi Nathan juga mau berangkat ke Semarang," sahut Nathan setelah mendengar jawaban dari sang kakek angkat.


Tak sampai satu jam lamanya, Pak Chandra dan istrinya tiba di klinik milik Ary. Tanpa menunggu lama, mereka langsung menuju Semarang.


Tiga jam kemudian, mereka sampai di rumah sakit dimana Alex dirawat. Shofie langsung menghambur memeluk sang nenek, menumpahkan tangisnya.


Wanita yang berambut putih semua mengusap punggung sang cucu dengan tangan keriputnya. Meredakan tangisan cucu kesayangannya.


"Sudah. Sekarang tunjukkan dimana ruangan ayahmu dirawat!"


Shofie mengangguk sembari berjalan menuju ruangan sang ayah. Mereka memasuki ruangan di mana Alex dirawat.


Alex yang mendengar suara langkah memasuki ruangannya langsung menoleh ke arah pintu yang baru saja dibuka oleh Shofie. Mengikuti di belakangnya, Pak Chandra, Ibu Hotmaida serta Nathan.


Alex tampak terkejut melihat kedatangan orang yang tidak diinginkannya. Dia merasa malu karena kedua orang tua almarhum Rendy datang di saat kondisi dia yang tidak baik-baik saja. Dulu dia selalu menghindar jika mereka datang mengunjungi istri dan anak-anaknya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya laki-laki yang berusia tujuh puluh delapan tahun itu.


"Ba- ik," jawab Alex terbata karena tidak bisa berbicara dengan lancar seperti biasanya.

__ADS_1


Alex hanya bisa berbaring tanpa bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Ucapannya pun terbata karena lidahnya masih kaku. Hanya tangan kanan yang bisa digerakkan secara perlahan, untuk pindah posisi tidur saja dia tidak bisa.


Shofie meneteskan air mata melihat wajah sang ayah yang memerah, antara marah dan malu.


"Shofie, mana suami kamu? Ompung ingin berkenalan dengannya," tanya Ibu Hotmaida mengalihkan perhatian karena dia merasa Alex tidak suka dengan kedatangan mereka.


"Masih di sekolah, Pung. Hari ini acara pelepasan siswa yang lulus. Mungkin sebentar lagi sampai, tadi katanya sepulang sekolah akan ke sini," jawab Shofie dengan jelas.


Saat ini mereka berempat duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Mereka memilih membicarakan bungsu Kusuma Wijaya.


Orang tua mantan suami Ary itu menanyakan pekerjaan Shofie dan suaminya. Selain itu, mereka juga menanyakan kuliah Nathan dan Nicholas saat ini. Tidak hanya itu saja, rencana apa yang akan mereka lakukan pun tak luput menjadi pertanyaan sang ompung.


Shofie menjelaskan tentang pekerjaan yang sangat disukainya, yaitu menjadi tenaga pendidik seperti almarhum kakek dan neneknya dari sang ibu. Cita-cita menjadi guru bukan karena warisan dari orang tua sang ayah, melainkan karena jiwa sosial yang diturunkan dari keluarga sang ibu.


Sifat baik Ary banyak menurun pada ketiga anaknya, walaupun wajah mereka adalah duplikat Alex. Wajar saja jika mereka lebih dekat dengan Ary dan keluarganya dibanding dengan keluarga dari Alex.


"Yank?" tanya Raka kebingungan melihat orang asing di ruangan itu.


"Ompung, kenalin ini suami aku. Raka, ini ompung dari Sumatera Utara," sahut Shofie yang mengerti arah pertanyaan sang suami.


Tiba-tiba saja kedua lansia itu tertawa lepas bersamaan ketika melihat Raka yang masih memakai seragam abu-abu.


Shofie dan Raka bingung melihat kakek dan nenek itu tiba-tiba tertawa, seakan-akan ada yang lucu. Pasangan muda itu saling pandang penuh tanda tanya.


"Kata mommy, kisah mommy terulang pada kalian! Kedua ompung ini adalah orang tua suami mommy yang pertama. Makam yang sering kita kunjungi di daerah Kaliurang itu adalah suami mommy yang pertama, anak dari Ompung Chandra dan Ompung Hotmaida," jelas Nathan yang sudah tahu masa lalu sang ibu sebelum menikah dengan ayahnya.

__ADS_1


"Suami pertama mommy umurnya lima tahun lebih muda. Bedanya sama kalian, mommy menikah dengan ayah Rendy saat keduanya sudah sama-sama sukses. Kalian menikah saat Raka masih merintis usaha," lanjut Nathan dengan senyum mengembang.


Wajah Shofie dan Raka memerah menahan malu. Menikah di usia muda dan terlalu banyak masalah yang harus mereka hadapi. Masalah restu saja sulit untuk mereka dapatkan, sedangkan Ary dan Rendy keduanya sama-sama mendapat restu, hanya jodoh mereka hanya sebentar.


"Menikah muda itu lebih baik dari pada menunda menikah tapi mengumbar syahwat. Hanya menuruti nafsu belaka. Akhirnya hanya mendapat dosa," kata Pak Chandra menenangkan cucu-cucunya.


Alex yang mendengar ucapan Pak Chandra langsung meneteskan air mata penyesalan. Hidupnya selama ini hanya menuruti nafsu tanpa memikirkan akibat yang timbul oleh perbuatan itu. Laki-laki yang tidak muda lagi itu menangis tergugu sampai suaranya terdengar oleh mereka yang duduk di sofa.


"Dad? Daddy kenapa?" tanya Shofie panik, dia langsung mendekati sang ayah.


"Kak Nathan, tolong periksa daddy! Kenapa tiba-tiba nangis?" teriak Shofie pada sang kakak.


Pak Chandra dan Ibu Hotmaida pun berdiri mendekati Alex yang masih menangis. Sampai akhirnya, Raka memanggil dokter yang menangani sang ayah mertua.


Nathan mengecek keadaan sang ayah sampai dokter dan seorang perawat datang untuk memeriksa Alex.


"Ma- aaff...."


*


*


*


Mampir yuk ke sini, masih sepi 😭

__ADS_1



__ADS_2