I Love You, Ibu Guru

I Love You, Ibu Guru
Part 19


__ADS_3

Betapa terkejutnya Shofie, di depannya berdiri seorang laki-laki masa lalu itu tersenyum. Shofie lebih syok lagi saat laki-laki itu tiba-tiba mendekati dan menyapa.


"Apa kabar, Honey? Lama tidak bertemu kamu semakin cantik saja," sapa laki-laki yang bernama lengkap Anandito Bagaskara biasa dipanggil Dito, sang mantan pacar.


Antara terkejut dan marah, sehingga Shofie tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Bayangan kejadian delapan bulan yang lalu masih terekam dengan jelas di otaknya. Kini, bayangan itu seperti kaset yang diputar kembali.


"Aku harus kuat! Aku tidak boleh di hadapan laki-laki pengkhianat seperti dia. Di sini aku kerja, aku harus fokus pada pekerjaan dan Raka. Tidak boleh goyah! Aku pasti bisa!"


"Miss Shofie sudah mengenal Pak Dito? Kenapa nggak pernah cerita?" tanya salah satu guru di ruangan itu.


Shofie memaksakan senyum untuk menutupi kemarahannya. Dia berjalan membaca jadwal untuk hari ini, lalu mengambil lembar soal dan lembar jawaban, masing-masing satu amplop. Setelah itu, dia meninggalkan ruangan itu.


Shofie sangat bersyukur, pagi ini mendapat jadwal masuk ke kelas Raka. Akan tetapi, sungguh sangat disayangkan dia tidak membaca siapa yang menjadi partner pengawas di kelas itu.


Bel tanda masuk kelas dimulai, Shofie berdiri bersandar pintu kelas. Menunggu semua murid masuk ke dalam kelas. Dia sengaja menunggu sampai lima menit seperti biasanya jika dia mengajar.


Shofie melakukan itu untuk menunggu murid yang terlambat, agar tidak mengganggu proses belajar para siswanya. Hal inilah yang membuat anak-anak SMA Nuswantara menyukai dirinya.


"Kenapa masih di depan pintu? Sebaiknya kita masuk lalu membagikan lembar soal dan lembar jawaban dengan segera!" tegur Dito yang baru saja datang.


Hhhh....


Ingin rasanya Shofie berlari pergi meninggalkan SMA Nuswantara saat ini juga. Menjauh dari masa lalu yang membuatnya terluka. Tanpa Shofie dan Dito ketahui, jika sejak tadi gerak-gerik mereka sangat mencurigakan.


Raka yang sejak tadi melihat interaksi keduanya pun curiga. Apalagi pujaan hatinya terlihat sangat tidak nyaman, dengan kehadiran guru yang baru satu hari masuk itu.


Raka mencoba memendam sejuta tanya di hati dan juga cemburu. Ingin rasanya Raka mendatangi guru baru itu dan menghadiahi bogem mentah. Namun, dia menahan keinginan itu demi kekasih hati.


Shofie membagikan lembar soal dengan mendatangi murid itu satu persatu. Saat tiba giliran meja Raka, tangannya ditahan oleh murid tersebut. Raka menggenggam dan mengusapnya lembut, tak lupa tatapan penuh cinta dia berikan untuk guru yang berwajah baby face.


Shofie buru-buru menarik tangannya karena takut ketahuan oleh murid-muridnya.


"Selamat mengerjakan soal ujian ... kerjakan dulu soal yang dianggap mudah! Kerjakan soal dengan teliti, jika sudah selesai cek lagi lembar jawaban," ucap Shofia dengan suara keras di depan.

__ADS_1


"Baik, Miss ...."


Waktu berlalu, satu persatu murid yang sudah kelar mengerjakan soal ujian keluar dari kelas. Raka termasuk murid yang pandai, bahkan dia bisa menjawab semua soal ujian dalam waktu singkat.


Melihat Raka yang santai saja sejak tadi, Shofie pun berjalan mendekati murid itu.


"Kerjakan dengan teliti, jangan melamun aja!" bisik Shofie ketika sudah berdiri di samping meja Raka.


"Udah kelar. Mau keluar nungguin Ayang, takut digondol Rahwana," sahut Raka berbisik dengan tangan mencoreti meja.


Mata Shofie membulat, terkejut dengan jawaban dari 'muridku sayang, muridku malang' itu. Mengabaikan ucapan dari Raka, Shofie berjalan menuju pintu karena kursinya sengaja diletakkan di sana untuk memudahkan mengawasi murid.


Beberapa jam kemudian, waktu ujian hari ini telah habis. Raka sengaja menunggu Shofie keluar dari ruang guru. Dia ingin menanyakan tentang laki-laki yang menjadi guru baru di sekolahnya. Namun, karena terlalu lama Shofie tidak kunjung keluar dari ruang guru, Raka pun mendatangi tempat itu.


"Aku minta maaf, Honey. Aku tahu, aku salah telah menduakan kamu. Sekarang aku dan dia sudah tidak ada hubungan lagi. Dia setelah wisuda langsung pulang ke kampung halamannya," ucap Dito penuh dengan permohonan.


"Berarti, kalau dia tidak pulang kampung kamu masih menjalin hubungan dengan dia? Aku sudah memaafkan kalian. Jadi, tidak perlu sampai memohon seperti itu," sahut Shofie menahan emosi.


"Dalam mimpi pun aku tak sudi! Aku sudah bertunangan. Lebih baik kamu cari perempuan lain yang bisa kamu tiduri sepuasnya!"


Raka yang mendengar kata tiduri sepuasnya pun langsung menerobos masuk. Dia sangat marah, entah marah pada siapa dia tidak tahu.


"Yang?" panggil Raka.


Kedua orang yang berada di ruangan itu terkejut dengan kedatangan Raka.


"Kamu tidak punya sopan santun sama sekali! Ini ruang guru, bukan arena bermain," tegur Dito marah.


Shofie bergegas mengambil tasnya lalu keluar dari ruangan itu.


"Honey, tunggu! Aku belum selesai bicara," teriak Dito sambil berlari mengejar Shofie yang sudah menjauh.


Raka memasang wajah datarnya mengantarkan sang kekasih pulang ke rumah. Begitu motor berhenti, Raka langsung bertanya dengan nada datar dan terkesan marah.

__ADS_1


"Dia siapa?"


"Dia? Dia yang mana?"


"Ck, tidak usah berpura-pura! Apa hubungan kamu dengan laki-laki tadi?"


"Turun dulu, kita ngobrol di dalam!" pinta Shofie, dia tidak mau menjadi bahan gunjingan karena berantem dengan muridnya di pinggir jalan.


Raka mengikuti langkah Shofie masuk ke dalam rumah. Tak lupa dia melepas sepatu dan meletakkan di atas rak, bersebelahan dengan sepatu Shofie.


"Aku ganti baju dulu, kamu tunggu di sini sebentar. Oh ya, kamu mau minum apa?" kata Shofie begitu Raka duduk di sofa ruang tamu.


"Apa saja yang penting dingin dan ikhlas," jawab Raka, masih tampak kemarahan di wajahnya.


"Ok, tunggu sebentar! Setelah ini aku akan jelaskan sama kamu," janji Shofie seraya melangkahkan kakinya menuju dapur.


Usai meminta Sumini untuk membuat minum dan menyajikan kue, Shofie bergegas masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Tak butuh waktu lama, Shofie pun keluar dari kamar sudah berganti dengan baju rumahan.


"Silakan diminum, Den," ucap Sumini pada Raka.


"Terima kasih, Bi," sahut Raka.


Tak lama kemudian datang Shofie membawa minumannya sendiri. Raka tidak berkedip dengan penampilan Shofie yang berbanding terbalik saat berada di sekolah.


"Maaf ya, lama. Diminum dulu esnya, keburu mencair!" ucap Shofie sembari mengambil gelas es kopi di meja.


Raka pun mengikuti jejak Shofie, minum seteguk untuk membasahi tenggorokannya.


"Sudah siap mendengar cerita?" tanya Shofie dengan sabar, padahal dia sebenarnya belum siap. Akan tetapi demi masa depannya dia harus jujur karena dalam suatu hubungan kejujuran itu penting.


Raka mengangguk tanda siap mendengarkan.


"Laki-laki yang di ruang guru tadi adalah mantan pacarku saat kuliah."

__ADS_1


__ADS_2