I Love You, Ibu Guru

I Love You, Ibu Guru
Part 56


__ADS_3

Alex beserta anak dan menantunya itu telah sampai di bandara Kualanamu Deli Serdang. Mereka harus menempuh perjalanan lima jam lagi untuk sampai di kediaman Pak Chandra.


Raka menyewa taksi untuk mengantarkan mereka ke alamat tujuan. Alamat itu didapat saat sang mertua sakit. Kakek angkat istrinya itu memintanya untuk berkunjung ke kediaman sang kakek.


Menjelang Subuh rombongan itu tiba di halaman luas kediaman Pak Chandra. Ary yang kebetulan sedang mengaji usai melaksanakan salat malam, merasa heran ada suara mobil berhenti di halaman depan rumah.


Masih mengenakan mukenanya, Ary keluar dari kamarnya menuju pintu utama. Dia menyibak gorden agar bisa mengintip keluar, melihat halaman yang luas itu. Wanita pensiunan dokter itu terkesiap melihat rombongan keluarganya yang datang dari Jawa.


Belum sempat membuka pintu, Anggita sudah berdiri di belakang Ary. Anggita terbangun karena mendengar aktivitas yang terjadi di halaman rumah sang ayah. Suara mesin mobil serta pintu mobil yang tertutup mengagetkan istri Brandon Adhinata.


"Siapa Kak?" tanya Gita dengan berbisik sehingga membuat mantan kakak iparnya itu terjengit kaget.


"Kamu ini, seneng banget bikin orang tua kaget saja! Untung jantung aman," gerutu Ary seraya memukul pundak adiknya.


"Kakak sih, serius banget ngintip orang. Awas sakit mata!" sahut Gita dengan gurauan.


Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang meletakkan barang berat seperti koper atau tas berisi pakaian. Setelah itu, terdengar suara tongkat beradu dengan lantai semakin mendekat ke pintu utama.


Sebelum pintu diketuk dari luar, Ary sudah membuka kunci pada pintu. Dia melakukan itu bukan untuk menyambut sang suami, melainkan menjaga agar tidak terjadi keributan sehingga membangunkan Papa Chandra yang sedang istirahat. Egois memang, tetapi seperti itulah kenyataannya saat ini.


Ary lebih menghormati sang mantan mertua dan memperlakukannya seperti anak sendiri. Oleh karena itu, sebisa mungkin dia akan lebih mengutamakan kenyamanan kedua orang yang sudah tua itu.


"Ary...."


Alex mematung begitu melihat wajah sang istri yang masih berbalut kain mukena. Wanita yang dinikahinya dua puluh enam tahun yang lalu itu masih terlihat sehat dan semakin cantik. Tak jauh berbeda dengan sang ayah, Shofie dan Raka pun ikut membatu saking terkejutnya melihat sang ibu masih sehat.

__ADS_1


"Mommy!" teriak Shofie begitu tersadar dari rasa terkejutnya lalu tangis pilu mulai terdengar di telinga.


Ary pun mendekati anak perempuan satu-satunya lalu memeluk anak itu. Tangis mereka berdua pecah saat berpelukan. Tangis bahagia karena bisa melepaskan rindu yang membelenggu sekian waktu.


Melihat hal itu, Alex mendekati anak dan istrinya. Dia juga ingin memeluk sang istri yang yang sangat dirindukan. Namun, saat sudah dekat sang istri langsung mengambil jarak darinya.


"Ary...."


"Sebaiknya kita masuk dulu," ucap Ary mengajak mereka masuk.


Raka sibuk membawa masuk barang bawaan mereka. Setelah itu, dia ikut bergabung duduk di ruang tamu. Pemuda itu duduk di samping sang istri yang tampak lelah karena menempuh perjalanan jauh.


Ary menyuruh mereka istirahat di kamar setelah Anggita selesai menyiapkan kamar tamu.


"Kak, kenapa Bang Alex tidak tidur di kamar Kakak saja?" tanya Anggita heran.


"Suami istri beda agama yang berhubungan badan itu termasuk zina. Kakak tidak ingin itu terjadi, makanya sewaktu dia kembali pada keyakinannya Kakak tidak melarang. Kakak hanya tidak mau melayani dia lagi di ranjang. Walaupun begitu, urusan perut dan kesehatan Kakak tetap mengurusnya," lanjut Ary memperjelas semuanya.


(Pernikahan beda agama memang di luar tampak bahagia. Mereka tampak hidup rukun, bisa saling menghormati. Akan tetapi, ketika kita menilik lebih jauh ke pribadi mereka. Ternyata kebahagiaan mereka hanya kamuflase belaka, terlalu banyak tekanan batin yang membuat mereka harus tetap tersenyum.


Dari beberapa narasumber, mereka terlihat bahagia di luar. Mereka yang awalnya sepakat untuk merelakan anak-anak untuk memilih keyakinan mulai mempermasalahkan hal itu. Hal ini dikarenakan, semua anaknya memilih mengikuti keyakinan si ayah saja atau ibu saja.


Pertengkaran kecil yang setiap hari terjadi tiba-tiba senyap tak ada lagi, ternyata pasangan itu sudah tidak saling sapa. Namun, mereka tampak bahagia saat berkumpul di tempat umum. Mereka saling menutup aib itu, bahkan senyum keduanya terus mengembang.


Maaf author bahas ini, ada beberapa orang dekat, bahkan rumahnya nempel dengan author. Pernikahan beda agama yang awalnya aku kira baik-baik saja, ternyata menyimpan sejuta luka bagi pasangan itu.

__ADS_1


Ini hanya sebatas cerita, mohon tidak menghujat. Ini berdasarkan cerita kisah nyata, walaupun tidak seratus persen.)


Pagi hari saat waktunya sarapan, Mama Hotma terkejut mendapati tamu tak diundang sedang duduk mengelilingi meja makan.


"Ry, Papa sudah diambilkan makan?" tanya Mama Hotma pura-pura tidak menyadari ada tamu.


"Sudah, Ma. Ini Ary mau antar ke kamar," jawab Ary sembari berjalan ke arah kamar Papa Chandra dan Mama Hotma.


"Eh, ada tamu rupanya. Kapan kalian sampai? Maaf ya, Ompung tidak tahu," sapa Mama Hotma sambil berjalan mendekati tamunya.


Mereka menikmati sarapan setelah saling sapa. Sementara Ary, masih menyuapi sang ayah angkat di kamar. Ary sengaja menghindar dari Alex untuk menenangkan pikiran.


"Ary, Papa dengar kamu akan bercerai dengan Alex. Kenapa? Apa tidak bisa lagi dipertahankan?" tanya Pak Chandra di sela mengunyah makanannya.


"Dalam agama pun kami sudah bercerai tujuh tahun yang lalu, Pa. Saat ini Ary hanya ingin mengesahkan perceraian itu secara hukum. Lagian, anak-anakku juga tidak bisa menjadi ahli waris Alex, lebih baik disahkan saja," jelas Ary.


Pak Chandra tidak berani lagi bertanya atau pun mengomentari penjelasan Ary. Dia menyerahkan semua keputusan pada anak angkatnya itu. Mereka sudah dewasa seharusnya tahu jalan keluar yang terbaik lagi bijaksana.


Tanpa sepengetahuan Ary dan Anggita, Papa Chandra dan Mama Hotma sudah meminta pengacara untuk memindahkan kepemilikan beberapa aset berharga pada Ary. Aset berharga itu sebenarnya sudah atas nama Rendy sebelum menikah dengan Ary. Jadi, wajar jika Ary yang mendapatkan itu semua.


"Ary, bisa bicara tentang kita?" tanya Alex meminta waktu pada wanita yang memberinya anak tiga.


"Boleh, aku juga ada yang ingin aku sampaikan. Ayo, kita duduk di gazebo samping rumah saja," sahut Ary dengan senyum mengembang.


"Kenapa kamu selalu menghindar dariku? Aku masih suami kamu...."

__ADS_1


"Maaf, sudah lama aku tidak menganggap kamu suamiku sejak kamu memilih wanita itu," potong Ary cepat dengan perasaan berdenyut nyeri.


__ADS_2