
Shofie sedang berusaha keras merayu suami berondongnya yang merajuk karena dia telah asal menuduh tanpa mau mendengar penjelasan terlebih dahulu. Baju kebesaran sudah dia kenakan, tetapi sang suami masih juga cemberut tanpa mau melihat ke arahnya.
Shofie pun berinisiatif untuk memulai permainan malam ini. Melihat sang suami duduk bersandar di headboard sambil memainkan ponselnya, Shofie langsung duduk di atas pangkuan suaminya. Dia sengaja duduk dengan posisi inti tubuhnya menempel pada batang sang suami, sengaja menggerakkan bo*ongnya agar batang itu menggeliat dan membesar.
Awalnya Raka cuek saja dengan kelakuan sang istri. Namun, semakin didiamkan istrinya itu semakin berani bertindak sehingga batangnya pun membesar dan tegak bak menara. Tanpa menunggu lama, pemuda itu langsung mengeksekusi sang istri tidak ada ampun
Malam itu, akhirnya terjadi pergulatan sengit antara Shofi dan Raka. Awalnya Raka pura-pura cuek tetapi sebenarnya dia sangat menikmati saat-saat sang istri berubah menjadi nakal dan liar.
Seperti biasa, setiap pagi Shofie menyiapkan sarapan untuk suami dan ayahnya. Alex sudah mulai membaik, setiap pagi dia akan berolah raga ringan agar syaraf-syarafnya bisa kembali berfungsi dengan baik. Setiap kali melakukan olah raga selalu ditemani oleh menantunya.
Selesai menemani mertua berolah raga, Raka langsung masuk ke kamarnya. Mandi dan bersiap-siap untuk sarapan lalu berangkat kuliah. Berbeda dengan sang menantu, Alex memilih sarapan terlebih dahulu baru kemudian mandi.
"Ingat, di kampus jangan ganjen! Jangan suka tebar pesona! Jangan pamer senyum pada semua wanita...."
"Apa kamu nggak bosen setiap pagi ceramah, melarang suamimu? Dia itu sudah besar, sudah dewasa, jangan perlakukan dia seperti anak TK! Hormati dia, percaya sepenuhnya padanya...."
"Laki-laki kalau terlalu dipercaya ngelunjak, kebanyakan ulah. Tidak ingat di rumah sudah ada anak istri, tetap saja main hati!" potong Shofie pedas sembari berjalan menuju wastafel membawa piring kotor.
Alex terdiam begitu saja. Kata-kata Shofie bagaikan anak panah yang menghujam jantungnya. Sesak. Itulah yang dirasakan oleh Alex.
Dalam pepatah Jawa mengatakan ’kebo nyusu gudel’, seperti itulah yang dialami oleh Alex. Lelaki yang tak muda lagi belajar hidup dari menantu dan anaknya. Perasaannya semakin merasa bersalah pada istri dan anak-anaknya.
__ADS_1
Raka pamit pada sang mertua, mencium punggung tangannya sebelum akhirnya meninggalkan rumah itu. Shofie mengantarkan sang suami sampai teras lalu mencium punggung tangan sang suami yang dibalas dengan kecupan di kening.
"Hati-hati di rumah. Jangan terlalu capek! Kalian berdua harus tetap sehat sampai lahiran nanti," pesan Raka sebelum pergi.
Shofie mengangguk menjawab ucapan sang suami. Setelah suaminya pergi, wanita berperut buncit itu ke ruang keluarga. Seperti biasa, dia akan melakukan senam hamil sambil melihat layar televisi.
Sementara itu, Pak Chandra sedang memarahi menantunya, padahal sarapan pagi itu belum usai. Beliau sangat kecewa dengan kebohongan yang dilakukan oleh menantunya itu.
"Sekarang dokter itu sudah kamu dapat? Belum, 'kan? Kamu pikir cari dokter yang mau ditempatkan di pelosok itu gampang?" cerca Pak Chandra kesal.
"Pa, jangan marah-marah! Ingat tensi," ucap Bu Hotma mengingatkan.
"Menantumu ini memang oto! Sudah menemukan anak kita malah diam saja. Kalau sejak awal dia bilang ke aku, aku pasti akan secepatnya mencari dokter untuk menggantikan Ary di sana."
"Halah! Karena Brandon itu lakimu makanya kamu bela," ketus Pak Chandra semakin kesal karena anak dan istrinya seperti membela menantunya.
Pak Chandra langsung memegang ponselnya begitu selesai memarahi anak dan menantunya. Tak berselang lama, beliau sudah berbincang dengan seseorang.
"Nanti siang akan ada dua dokter yang datang. Mereka yang akan menggantikan Ary. Besok pagi kamu antar mereka dan bawa pulang anakku!" Pak Chandra meninggalkan ruangan itu setelah memberikan perintah pada menantunya.
Esok harinya, Brandon harus meninggalkan pekerjaannya demi menjalankan perintah sang mertua. Walau bagaimanapun juga, titah mertua adalah sumber kebahagiaannya. Jika tak patuh jangan harap bisa hidup tenang.
__ADS_1
Dua puluh jam perjalanan kembali ditempuh agar bisa bertemu dengan Ary lagi. Para dokter itu ternyata masih gadis, yang satu baru saja mendapatkan izin praktek sedangkan yang satunya seorang dokter spesialis kandungan. Sengaja mendaftar sebagai sarana obat hati setelah ditinggal rabi.
Ary terkejut dengan kedatangan Brandon dan dua orang dokter. Dia tidak menyangka akan secepat ini mendapatkan dokter yang mau dikirim ke tempat seperti ini. Mengingat bagaimana dulu dia harus mengalah di tempatkan di daerah terpencil karena tidak ada temannya yang mau ditempatkan di sana.
"Cepat sekali, Brand? Padahal belum ada sebulan," tanya Ary begitu mereka duduk di sofa di ruangannya.
Saat ini mereka berada di klinik desa karena Ary tinggal di klinik itu. Hal ini dikarenakan dia tidak punya rumah sebagai tempat tinggal. Kepala desa memintanya tinggal di klinik agar penduduk desa lebih mudah mendapat penanganan jika sakit.
Di klinik itu memang disediakan beberapa kamar untuk dokter selain kamar inap pasien tentunya. Walaupun bangunan klinik tidak begitu besar, tetapi masih bisa menampung pasien dan dokternya.
Setelah berkenalan dengan dokter yang akan menggantikannya, Ary menjelaskan bagaimana keadaan desa itu. Dia juga memberikan pesan apa saja yang tidak boleh dilakukan di desa anggrek. Wanita pensiunan dokter itu juga berjanji akan membantu walaupun sudah tidak tinggal di sana.
Sore harinya dengan ditemani Brandon, Ary menemui kepala desa. Dia menyampaikan bahwa ada dua orang dokter yang akan menggantikan dirinya. Wanita itu juga meminta kepala desa untuk datang ke klinik berkenalan secara langsung dengan para dokter muda itu.
Ary meminta bantuan para ibu-ibu di desa anggrek untuk memasak. Hari ini dia sengaja membuat acara perpisahan dengan makan siang bersama para warga setempat. Makan dengan menu khas desa anggrek.
Kepala desa beserta keluarga datang pagi hari untuk berkenalan dengan dokter baru itu. Warga juga berdatangan ingin berkenalan dengan para dokter muda yang masih cantik dan segar. Bidan desa juga tidak ketinggalan dalam acara tersebut.
Semua warga berkumpul ingin merekam momen terakhir bersama dokter cantik walaupun sudah berusia setengah abad lebih. Kehadiran Ary sangat berarti bagi warga desa anggrek karena memberikan pelajaran tentang hidup sehat. Tidak hanya itu saja, banyak hal positif yang dilakukannya sehingga bisa menambah pendapatan warga desa.
Sebagian besar warga desa anggrek memberikan buah tangan serta kenang-kenangan untuk Ary. Sebenarnya ingin menolak tetapi tidak sampai hati mengecewakan mereka. Akhirnya dengan dibantu warga, dia membawa barang-barang itu ke kapal.
__ADS_1
Ary memeluk para ibu-ibu dan anak perempuan warga itu sebelum naik ke kapal. Dengan air mata menggenang dia meninggalkan desa yang penuh dengan kenangan itu. Tangannya terus melambai walau kapal sudah semakin jauh meninggalkan desa anggrek.