
"Apa kabar Bu Shofie?" sapa Rohman Bagaskara.
"Seperti yang Anda lihat. Saya baik-baik saja, bukan?"
"Oh, saya senang mendengarnya. Saya menghubungi Bu Shofie ingin memberikan penawaran yang menggiurkan buat Bu Shofie. Hmm, tunggu sebaiknya saya memanggilmu Nak karena kamu lebih pantas jadi menantu di rumah kami." Kekehan Rohman terdengar setelah setelah berucap demikian.
"Anda mau memanggil apapun silakan, senyamannya saja," sahut Shofie datar.
"Apa kamu tidak tertarik dengan penawaran saya?" Rohman merasa heran melihat sikap tenang yang ditunjukkan oleh Shofie.
"Apa yang akan Anda tawarkan, sepertinya Anda sangat bersemangat menemui saya?"
"Kamu bisa mengajar lagi di SMA Nuswantara dengan satu syarat, yaitu tinggalkan bocah ingusan itu dan menikah dengan anak saya. Bagaimana?"
Shofie hanya menarik sudut bibirnya tipis, sangat tipis sehingga tidak terlihat oleh pemilik yayasan pendidikan di kota Semarang itu.
"Ditto sangat mencintai kamu. Dia menerima kamu apa adanya, walau janda. Saya hanya tidak ingin melihat dia bersedih meratapi nasib ditinggal nikah sama pacarnya," lanjut Rohman yang mengundang tawa Shofie pecah seketika.
"Anda lucu sekali, hahaha... aduuhh, seharusnya Anda harus meluangkan waktu untuk bersama anak-anak Anda. Jadi, Anda akan tahu bagaimana kelakuan mereka di luar sana." Wanita itu tetap tenang menghadapi laki-laki yang jauh lebih tua darinya.
Pemilik yayasan Nuswantara, Rohman Bagaskara, tadi pagi sengaja mengubungi Shofie untuk bertemu. Dia ingin membujuk agar Shofie mau menjadi menantunya.
"Kamu...."
Shofie langsung undur diri begitu melihat lawan bicaranya mulai emosi. Sungguh dia sedang tidak ingin berdebat hari ini. Badannya terasa tidak seperti biasanya lesu dan mudah lelah.
Dengan langkah gontai, Shofie meniggalkan restoran itu. Dia malas berurusan lagi dengan pemilik yayasan Nuswantara dan seluruh yang berhubungan dengannya.
"Shofie, tunggu! Kamu belum memberikan jawaban," teriak Rohman sambil berjalan menyusul Shofie.
Shofie berdecak kesal karena laki-laki setengah abad itu masih juga mengganggunya.
__ADS_1
"Anda seharusnya bisa menyimpulkan sendiri, tidak perlu bertanya pada saya lagi," jawab Shofie sembari tetap melangkahkan kakinya menuju motor sang suami yang tadi dipinjamnya.
Tadi sebelum Raka berangkat ke sekolah, Shofie meminta izin untuk menemui Pak Rohman. Selain itu, dia juga meminjam motor sebagai alat transportasi menemui orang nomor satu di Nuswantara itu.
Raka belum memiliki mobil, dia juga belum membelikan motor untuk Shofie. Pikiran mereka saat ini masih tertuju pada sekolah Raka dan kafe. Sebenarnya laki-laki muda itu sudah mampu membeli motor lagi untuk dipakai Shofie. Namun, dia belum sempat untuk membelinya.
Dalam perjalanan pulang menuju ke kafe cabang dua, Shofie dihadang oleh beberapa orang laki-laki. Mereka mengaku diminta untuk menjemput Shofie pulang. Merasa tidak mengenal mereka, Shofie pun tetap memaksa melanjutkan perjalanan menuju kafe cabang dua.
Orang-orang itu tidak memberi Shofie jalan, salah satu diantara mereka mendekati Shofie.
"Nona, Anda lebih baik menurut saja pada kami atau kami akan melakukan kekerasan. Kami hanya orang yang disuruh untuk menjemput Anda," ucap laki-laki berpenampilan seperti preman.
"Cuih, tidak sudi aku ikut kalian! Kalian siapa saja aku tidak mengenal. Minggir, aku lewat!" bentak Shofie tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kami tidak akan menyakiti Anda, Nona. Tolong kerjasamanya dengan kami," pinta laki-laki itu lagi, masih dengan baik-baik.
Shofie yang tidak mau mengikuti kemauan mereka pun langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Saking kencangnya dia hampir menabrak mobil yang melintang di depannya.
"Kalau seperti ini tuan kita pasti marah dan menjadikan kita bulan-bulanan!"
"Kita susul saja dia, Bos! Masak kalah sama cewek!" usul salah satu dari mereka.
Akhirnya tanpa banyak bicara mereka mengejar Shofie sehingga terjadi aksi kejar-kejaran antara Shofie dengan orang suruhan siapa dia tidak tahu.
Begitu sekolah Raka terlihat dari kejauhan, Shofie langsung masuk ke pintu gerbang tanpa permisi. Sekolah itu hanya sekolah biasa yang tidak memiliki pintu pagar atau pun satpam. Hal ini memudahkan Shofie untuk sembunyi.
Orang-orang suruhan itu kehilangan jejak Shofie karena tadi perjalanan mereka terhalang oleh kendaraan yang hendak menyeberang jalan.
"Adooh, hilang Nona itu!"
"Kita masuk saja ke sekolah itu, siapa tahu ke sekolah itu!"
__ADS_1
"Go*lok! Mana mungkin orang bersembunyi di sekolah, yang ada diusir oleh pihak sekolah!"
*
*
*
Mampir yuk ke karya temanku, jangan lupa tinggalkan jejak ya 🤗
Judul: Gamon ( Gagal Move On )
Author: Navizaa
Farel Stuart Alfredo harus merelakan wanita yang dicintainya secara diam-diam yaitu Salmafina bertunangan dengan kekasihnya.
Nada Maura Hermawan juga baru saja patah hati diputuskan oleh pria yang dipacarinya selama Lima tahun.
Keduanya bertemu di pesta pertunangan Salma dan berakhir di atas ranjang dengan sama-sama tidak menggunakan pakaian.
Sebulan kemudian Nada hamil dan Farel yang mengetahui hal itu langsung berinisiatif untuk bertanggung jawab.
"Ayo kita nikah, aku akan bertanggung jawab!" ucap Farel.
Nada masih tidak percaya jika dirinya hamil oleh pria asing yang baru ditemuinya dipesta sahabat baiknya itu.
Akankah Nada dan Farel bisa mempertahankan pernikahan mereka yang begitu tiba-tiba karena adanya anak di antara mereka, padahal keduanya sama-sama memiliki cinta lain yang sulit dilupakan.
Apakah cinta akan hadir, ataukah mereka memilih berpisah setelah Nada melahirkan?
__ADS_1