
Pagi-pagi sekali Alex menghubungi sang istri, tadi malam saat dia dihubungi oleh istrinya dia sudah tertidur.
"Ada perlu apa, malam-malam telepon?" tanya Alex pada sang istri via telepon.
"Kapan kamu pulang? Sebaiknya kita bicara saat kamu sudah di rumah saja," balas Ary dengan pertanyaan.
Alex terdiam, masalah di kafe belum sepenuhnya selesai. Namun, jika urusan di Jogja lebih penting, dia akan pulang segera. Hari ini juga dia akan bertolak dari Singapura.
"Apa ini penting?"
"Penting atau tidak tergantung dari sisi orang yang melihat. Bisa saja aku katakan tidak, tetapi ternyata kamu menganggap penting. Sebaiknya selesaikan dulu urusan kamu di sana. Jika sudah benar-benar selesai dan bisa ditinggal, kamu pulang."
Ary menjeda sejenak, antara mengucapkan kata-kata itu atau tidak. Akan tetapi, rasanya dia harus mengatakan itu. Demi kebaikan bersama.
"Di sana sudah ada Kevin yang mengurus kafe. Dia sudah dewasa, apa dia tidak bisa menghandle kafe itu sendiri? Sedangkan Nathan dan Nicholas saja bisa dipercaya untuk mengurus Rend Comp yang jauh lebih besar, padahal mereka seorang dokter. Maaf aku tidak bermaksud membandingkan antara anak kandungku dengan anak ba-...."
"Kamu ini bicara apa? Kenapa setiap kali aku pergi ke Singapura selalu saja membahas hal ini?" potong Alex cepat.
Ary hanya bisa menghela napas berat, wanita mana yang tidak khawatir, jika sang suami pergi menemui mantan istri yang sudah menjanda. Alex sangat sering mengunjungi Singapura dengan alasan kafe yang dikelola Kevin bermasalah. Padahal Kevin sudah memiliki anak dan istri.
Sikap Kevin berubah 180 derajat setelah tinggal bersama ibu kandungnya. Padahal sebelumnya, dia sangat mandiri dan berperangai baik. Akhir-akhir ini, Kevin juga mendominasi perhatian Alex.
"Baiklah, selamat bekerja. Aku harus menyiapkan sarapan. Setelah itu aku akan pergi ke Semarang untuk melihat Shofie," ucap Ary mengakhiri percakapan.
Ary sengaja tidak memberi tahu tentang pernikahan Shofie dengan Raka. Dia tidak ingin Alex mengamuk di sana.
Sementara itu, semua murid SMA Nuswantara sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Solo, melanjutkan perjalanan studi tour.
__ADS_1
Tampak Raka yang menggendong tas ransel dan menjinjing tas pakaian milik Shofie. Pemuda itu memaksa membawakan barang-barang sang istri.
"Raka, Lo bawa tas siapa? Kenapa bawaan Lo jadi banyak? Padahal gue nggak lihat Lo belanja segitu banyaknya," tanya teman sekelas Raka, saat Raka menyimpan tas itu di rak yang terdapat di bagian atas bus.
"Oh, jadi kalau gue belanja gue harus laporan dulu ke Lo. Begitu?" jawab Raka mode sensi.
Mood Raka pagi ini sedang tidak baik karena tadi malam gagal membujuk Shofie untuk tidur satu kamar. Padahal dia sudah sangat ingin memeluk pujaan hatinya itu. Namun, Shofie menolak dengan alasan jika ketahuan menikah oleh pihak sekolah, maka mereka akan dikeluarkan dari sekolah itu.
Shofie tidak ingin Raka berhenti sekolah. Jika ketahuan menikah sudah dapat dipastikan semua sekolah akan menolak Raka menjadi siswa mereka. Demi masa depan Raka, biarlah mereka tetap merahasiakan pernikahan itu untuk sementara waktu.
Raka mengikuti semua keinginan Shofie demi menjaga perasaan sang kekasih. Sebisa mungkin Raka akan mengikuti keinginan Shofie selagi itu bisa ditoleransi. Dia tidak tega membuat wanita yang dicintainya itu kecewa.
Malam hari, semua peserta studi tour sudah pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Raka dan Shofie. Shofie belum mau tinggal serumah dengan Raka sebelum pernikahan mereka terdaftar di KUA. Raka bisa menerima alasan itu dan pulang ke rumah tanpa membawa serta istrinya.
"Padahal sudah halal, tapi kenapa belum bisa memeluknya? Hhh... nasib menikah siri, tidak bisa sebebas nikah resmi di KUA," keluh Raka seraya menghembuskan napasnya melalui mulut.
"Usaha kita alhamdulillah berjalan lancar. Semakin hari semaki bertambah pengunjungnya. Walau pun kafe baru, kafe kita termasuk kelas atas. Ide kamu buat ambil para pengamen yang memiliki suara bagus, sangat brilian."
"Para pengunjung kafe tidak hanya bisa menikmati makanan yang lezat, mereka juga ditemani suara merdu para penyanyi kita. Tanpa kita gaji pun mereka sudah dapat duit banyak. Sama-sama untunglah pokoknya," cerita Pak RT antusias.
"Syukurlah kalau seperti itu, secara tidak langsung kita memberi lahan pekerjaan buat para pengamen itu. Semoga kafe kita semakin rame pengunjungnya dan bisa membuka cabang di kota lain," ucap Raka penuh harap.
"Ngomong-ngomong, memang kalian sudah dapat restu? Kok tiba-tiba saja sudah menikah," tanya Pak RT usai menceritakan usaha mereka.
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mendengar pertanyaan dari Pak RT. Tidak mungkin dia menceritakan aibnya pada orang lain. Dia bingung mau jawab jujur atau berbohong.
"Hehehe ...." Raka nyengir sembari mengusap tengkuknya berulang kali.
__ADS_1
"Kalian tidak melakukan dosa 'kan?" desak Pak RT curiga.
Dia sangat paham jika anak-anak muda sekarang ini banyak yang nekat. Melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.
"Dikit, Pak RT. Cuma cium bibir aja, nggak lebih. Suwer!" jujur Raka sambil mengangkat kedua jari tangan membentuk huruf V.
"Jika kamu mencintai wanita, jangan lakukan 'itu' sebelum sah menjadi istri kamu! Mencintai itu berarti menjaga kehormatan, bukan merusak. Paham kamu?" nasehat Pak RT bijak.
"Raka beneran belum pernah melakukan 'itu' Pak RT. Sumpah! Walau pun Raka kek gini, tapi Raka tahu batasannya."
"Belum pernah? Berarti kamu ada niatan buat merawani anak gadis orang?" tanya Pak RT dengan mata membulat karena terkejut.
"Bukan begitu, Pak RT! Duuh, gimana ngomongnya ini," bantah Raka, bingung bagaimana menjelaskannya pada Pak RT.
"Mau ngomong apa? Tinggal ngomong aja, apa susahnya?" balas Pak RT kesal.
"Pak RT salah paham. Aku tuh nggak ada niatan buat merusak anak gadis orang. Masih ingat dengan pesan almarhumah ibu. Kata ibu, kalau aku sayang ibu tidak boleh merusak perempuan mana pun. Aku boleh melakukan 'itu' setelah menikah," ungkap Raka.
"Terus?"
"Terus? Nggak ada! Tadi kata Pak RT aku ada niat buat merusak anak orang, itu tidak benar. Raka cuma mau melakukan 'itu' setelah menikah. Sekarang sudah menikah masih juga tidak bisa melakukan 'itu'." Akhirnya keluar juga keluh kesah Raka yang gagal mencetak gol di malam pertama.
"Owalah, itu maksud kamu tadi? Huahahaha ...."
"Huh, tertawa aja teroosss... sampai pagi," dengkus Raka kesal, memutar bola matanya malas. Kemudian keluar dari rumah Pak RT, pulang dalam keadaan kesal.
"Raka... Raka... baru nikah aja sudah sibuk mau cetak gol. Masih bocah juga!"
__ADS_1