I Love You, Ibu Guru

I Love You, Ibu Guru
Part 9


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu, kaki Raka sudah membaik dan sudah dua hari dia pergi ke sekolah. Seperti biasa, Raka sering terlambat datang karena harus bekerja dulu sebelum berangkat sekolah.


"Terlambat lagi! Kamu niat sekolah nggak sih?" bentak guru BP SMA Nuswantara.


"Perasaan bulan ini baru sekali ini terlambat, Pak. Itu pun karena saya belum bisa jalan cepat," bantah Raka.


"Kamu! Huhh," teriak guru BP yang biasa dipanggil Pak Warsa.


"Saya kenapa, Pak?"


"Kamu saya hukum lari keliling lapangan lima kali!"


"Hah? Yang benar saja Bapak ini, kaki saya belum pulih sepenuhnya. Kalau nanti kaki saya kembali cidera, Bapak saya tuntut!" ucap Raka kesal, bagaimana mungkin dia bisa berlari, sedangkan jalan saja masih pakai bantuan kruk.


Pak Warsa menepuk dahinya sendiri begitu mengingat murid di depannya itu masih menggunakan kruk.


"Baiklah, kamu saya hukum berdiri menghormat bendera di lapangan sampai jam istirahat," ujar Pak Warsa berubah pikiran.


Mendengar hal itu, Raka berpikir jika menghormat bendera sampai jam istirahat, berarti dia tidak bisa mengikuti kelas Miss Shofie. Oleh karena itu, dia mencari cara agar tidak dihukum selama itu.


"Sepertinya Bapak ingin sekolah ini viral dengan hukuman saya," gumam Raka yang masih bisa didengar oleh Pak Warsa.


"Apa maksud kamu?"


"Pasti Bapak tahu maksud saya. Pasti sekolah ini akan langsung booming dengan caption sebuah berita 'Seorang murid cidera dihukum berdiri menghormat bendera selama tiga jam mata pelajaran'. Bagus nggak, Pak?"


Pak Warsa membulatkan matanya mendengar pernyataan murid itu. Belum sempat hilang rasa terkejutnya itu. Sang murid sudah mengeluarkan ajian berikutnya.

__ADS_1


"Di bawah caption itu tertulis. Seorang murid SMA Nuswantara mengalami cidera saat menolong guru yang hampir tertabrak motor. Murid tersebut terlambat datang ke sekolah dikarenakan susah berjalan ...."


"Diam! Baiklah kamu saya hukum berdiri menghormat bendera selama tiga puluh menit terhitung dari sekarang! Jika besok kamu terlambat lagi, maka saya akan melakukan skorsing selama tiga hari," bentak Pak Warsa menahan amarahnya.


Dia meringankan hukuman Raka bukan karena takut akan ancaman sang murid. Semua karena jasa Raka terhadap sekolah itu. Walau pun dia sering terlambat datang ke sekolah, akan tetapi dia selalu mempersembahkan banyak piala dan thropy untuk SMA Nuswantara.


Raka juga dikenal anak yang ringan tangan membantu para guru, jika membutuhkan bantuan tenaga. Selain itu, Raka juga sering menggantikan guru mengajar jika guru berhalangan hadir.


(Tidak gampang menggantikan guru lho, teman yang tidak suka akan cenderung mengganggu jalannya pelajaran. Akan tetapi, kelebihannya teman yang suka akan lebih mudah menyerap pelajaran. Selain itu, bisa membantuku belajar mengulang pelajaran, rasanya seperti belajar bersama. Sedikit pengalaman othor yang diminta menggantikan guru matematika. Semua cerita hanya hasil menghalu karena gabut.)


Raka keluar ruangan BP menuju lapangan upacara, dia berdiri di bawah tiang bendera lalu mengambil posisi sikap hormat.


Dari koridor kelas, tampak seorang murid perempuan berjalan mendatangi Raka. Dia anak salah seorang donatur tetap SMA Nuswantara. Clara Andhara, murid yang menjadi idola mayoritas murid laki-laki di SMA Nuswantara karena body yang aduhai dan kecantikannya.


Sejak masuk SMA Nuswantara dan mengenal Raka saat acara MOS, Clara sudah terpesona pada Raka. Namun, Raka selalu bersikap dingin padanya. Ralat, bukan hanya pada Clara saja Raka bersikap dingin dan menutup diri, tetapi pada mayoritas murid perempuan.


"Ck, si Oneng datang. Mau ngapain dia berjalan ke sini?" Raka berdecak kesal saat melihat Clara mendekatinya.


"Eh, Kak Raka kena hukuman juga? Clara juga nih, nggak kerjain PR," ucap Clara sambil menampakkan deretan gigi ciptadentnya.


"Nggak tanya!" jawab Raka ketus.


"Dih, Clara cerita Kak. Cerita! Kak Raka tidak usah tanya apapun ke Clara. Clara akan cerita dengan senang hati apa yang terjadi pada Clara," cerocos gadis dengan penuh percaya diri.


Raka hanya memutar bola matanya malas, tidak mau menanggapi ataupun menoleh ke arah gadis itu. Semakin ditanggapi gadis itu semakin senang berceloteh ngalor ngidul tidak jelas juntrungnya.


Tiga puluh menit telah berlalu, Raka kini sudah berada di kelasnya untuk mengikuti pelajaran Miss Shofie. Jam pelajaran pertama tadi adalah guru yang tidak disukainya, jadi dia tidak begitu menyesal terkena hukuman. (Jangan ditiru ya, adik-adik yang masih sekolah!)

__ADS_1


Senyum Raka selalu mengembang selama jam pelajaran Miss Shofie. Pelajaran yang disampaikan mudah diserap jika perasaan sedang bahagia. Begitu juga dengan Raka, dia bisa menyelesaikan soal latihan yang diberikan oleh guru cantik tersebut.


Tidak berbeda jauh dengan sang murid, senyum guru cantik itu pun tidak pernah luntur dari bibirnya. Semua murid pun ikut senang karena pagi ini, tidak ada sosok guru dengan tatapan tajam bak elang mengincar mangsa.


Bel tanda jam istirahat berbunyi, Raka masih setia duduk di kursinya. Setelah semua temannya keluar, dia menawarkan diri membantu sang guru membawakan buku tugas yang tadi dikumpulkan ke ruang guru.


"Saya bantu, Miss," ucap Raka langsung mengambil tumpukan buku di atas meja tanpa menunggu persetujuan dari gurunya.


"Ehh, tidak usah! Kaki kamu masih sakit, sebaiknya kamu duduk saja. Saya bisa bawa sendiri," tolak Shofie secara halus.


"Ck, ayo Miss. Keburu waktu istirahat habis," ajak Raka sudah keluar kelas, berjalan mendahului gurunya.


Mau tidak mau Shofie mengikuti Raka dari belakang. Dia sengaja berjalan di belakang laki-laki yang membuat jantung disko. Gadis itu merasa ada yang mengawasi gerak-geriknya setelah kejadian di rumah Raka tempo hari.


Raka meletakkan buku-buku tadi di atas meja Shofie. Dengan mengangguk kepala dan badan sedikit tertunduk, Raka meninggalkan ruangan itu.


"Tumben si Tengil sopan banget? Heran saya," ucap Bu Dhini, guru matematika.


"Selama saya mengajar di sekolah ini, dia memang sopan kok, Bu. Memang sih dia itu cengengesan tapi masih dalam batas wajar dan sopan untuk ukuran anak SMA," bela Shofie dengan pipi merona.


"Ck, Bu Shofie belum kena saja. Kami semua sudah sering kena. Walau pun dia murid berprestasi, tetapi tingkahnya kadang menjengkelkan guru," sahut Pak Tirta guru PKN.


"Menurut saya kenakalannya masih wajar dibandingkan dengan tiga murid laki-laki kelas 12 IPA 1. Mereka sama sekali tidak ada sopan santunnya, tidak bisa menghormati guru."


Semua guru terdiam tidak berani buka suara, siapa yang tidak kenal dengan murid yang disebut oleh guru baru itu? Murid dengan penampilan good looking juga good rekening tetapi bad attitude. Namun, mereka memilih bungkam dari pada dipecat pemilik yayasan.


"Kok diam? Betul 'kan apa kata saya?"

__ADS_1


__ADS_2