I Love You, Ibu Guru

I Love You, Ibu Guru
Part 8


__ADS_3

"Lo beliin gue nasi bungkus cuma karena pengen tahu hubungan gue sama Miss Shofie? Hahaha ... aturan simpan saja uang Lo itu, sayang 'kan bisa buat beli pulsa atau paket data?" Raka terkekeh geli mendengar pertanyaan sang ketua kelas.


"Begini, Riel. Gue tanya Lo, tapi Lo jawab yang jujur ya!"


"Tanya apaan sih, Ka? Jangan main teka-teki kenapa!" sahut Azriel deg-degan dan wajahnya mulai pias, dia sebenarnya takut berurusan dengan Raka.


Siapa yang tidak mengenal Raka di daerah sini? Para preman saja takut dengannya, apalagi dia yang hanya orang biasa tidak punya keahlian bela diri sama sekali. Walaupun Raka anaknya tidak seperti anak jalanan lain, tetapi Raka bisa melumpuhkan lawan dalam hitungan detik.


"Nggak usah tegang begitu. Pertanyaan gue nanti akan menjawab semua pertanyaan Lo. Bagaimana?" Raka makin tertawa lebar melihat wajah pias Azriel.


Saat ini mereka sudah masuk ke dalam rumah Raka dan duduk di ruang tamu. Sebelumnya Raka sudah mengambil piring dan gelas. Dia mulai membuka bungkusan nasi yang tadi dibeli oleh Azriel.


"Ayo, kita makan sama-sama, Riel. Sambil cerita-cerita biar Lo nggak mati penasaran, hehehe!"


Azriel pun mengangguk dan melakukan hal yang sama dengan Raka.


"Riel, misalnya kalau Lo ditolong seseorang. Terus yang nolong Lo terluka, bagaimana tanggapan Lo ke si penolong tadi?" tanya Raka sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.


"Ya, sebisa mungkin gue nolongin dia juga dong, sebagai ucapan terima kasih. Gue pasti jenguk dia setiap hari, nanya keadaan dia. Pokoknya bantu pengobatan si penolong 'lah!" jawab Azriel.


"Serius itu yang Lo lakukan? Jujur dari lubuk hati Lo!"


"Lha iyalah! Mana mungkin gue tega ngelihat orang yang sudah nolongin gue terluka. Gue yang ditolong malah sehat segar bugar. Kalau sampai gue tega, berarti gue lahir dari batu," cerocos Azriel.


"Itu jawaban gue atas pertanyaan Lo tadi," ujar Raka sembari menjentikkan jari.


Azriel terdiam memikirkan kata-kata yang terlontar dari mulut Raka. Beberapa saat kemudian, kepalanya tampak mengangguk mengerti.


"Terus gosip Lo mesum sama Miss Shofie?"

__ADS_1


"Itu hanya insiden kecil berujung salah paham saja. Mm, malah sepertinya memang tidak bisa damai lagi." Jawaban Raka mengundang tanya dalam benak Azriel.


"Sebenarnya tidak terjadi apa-apa sama kami. Kemarin itu kebetulan gue pas keluar dari kamar mandi. Kruk gue licin jadi gue lepas aja kruknya, gue belajar jalan."


"Berhubung gue nggak nge lap badan dan kepala setelah mandi , jadinya lantai basah dan licin. Sebelum gue jatuh, gue pegang aja tangan Miss Shofie. Kami jatuh barengan, terus kek gitulah!" cerita Raka tidak jujur sepenuhnya. Dia tidak menceritakan secara detail agar tidak terjadi fitnah.


Azriel yang mendengar cerita Raka pun hanya mengangguk tanda mengerti.


"Sorry, ya! Gue nggak ada maksud apa-apa ke Lo. Gue cuma mau klarifikasi saja, soalnya cerita lo sama Miss Shofie tadi tuh heboh banget," ucap Azriel usai menghabiskan nasi bungkusnya.


"It's ok! Tak masalah buat gue, sejak kecil gue sudah biasa jadi topik pembicaraan. Gue hanya kasihan sama Miss Shofie."


Hhhh!


"Guru itu baru juga seminggu di sini, sudah datang masalah besar menghampiri. Kasihan sekali, padahal cara menyampaikan pelajaran dia sangat bagus. Banyak murid yang awalnya nggak paham jadi ngerti. Kalau dia selalu digosipin yang tidak-tidak, tidak menutup kemungkinan Miss Shofie resign," keluh Azriel.


"Mau diapakan lagi. Itu sudah jadi jalan hidup dia, sesuai ketentuan Sang Pencipta. Kita hanya bisa melihat, mau nolong pun yo ndak mampu. Cuma bisa mendoakan saja, semoga dimudahkan segala urusannya dan dia diberikan kekuatan iman dalam menghadapi cobaannya," kata Raka deraya mengedikkan bahunya.


Guru muda itu langsung masuk rumah Raka yang pintunya tidak tertutup sempurna. Raka sedang berbaring di sofa ruang tamu, dengan kruk bersandar di dekat kakinya.


"Hai, boleh masuk?" tanya Shofie mengagetkan Raka yang sedang melamun.


"Eh, Miss. Masuk!" sahut Raka sembari merubah posisi dari rebahan menjadi duduk.


"Terima kasih. Bagaimana kaki kamu? Masih nyeri?"


Raka hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari wanita cantik yang saat ini duduk di depannya. Raka sangat bahagia karena mendapat perhatian dari guru cantik itu.


"Masih, dikit. Miss ke sini nanti orang tua Miss marah lho. Saya tidak tega kalau Miss dimarahi di depan saya ...."

__ADS_1


"Nggak bakalan marah, daddy sudah pulang ke Jogja. Mommy mana pernah marah, mommy itu penyabar. Lagian, mommy tuh suka banget kalau sama anak yatim, apalagi yatim piatu. Di Jogja aja mommy buat pondok yang menampung anak-anak yatim dan anak jalanan yang tidak jelas siapa orang tuanya," cerocos Shofie membuka rahasia sang ibu.


Tanpa Shofie tahu, jika dia dibuntuti oleh Rizaldi saat keluar dari gerbang sekolah. Dia dibayar untuk melaporkan semua yang dilakukan oleh Shofie di luar rumah.


Rizaldi yang awalnya tidak tahu siapa dan bagaimana keluarga Shofie, ingin menjadikan Shofie sebagai pacar. Namun, setelah tahu siapa orang tua Shofie dan bagaimana perangai Alex, langsung mengubur dalam-dalam keinginan itu.


Rizaldi langsung melaporkan pada Alex, begitu Shofie masuk ke rumah yang catnya sudah mulai mengelupas itu. Tak lama kemudian dia meninggalkan rumah tersebut, setelah mendapat perintah dari Alex tentunya.


Smartphone Shofie berbunyi saat guru dan murid itu sedang ngobrol. Shofie langsung mengecek ponselnya, ternyata panggilan video dari sang ayah. Shofie langsung berlari keluar menenteng tasnya tanpa pamitan pada Raka.


Setelah sampai di sebuah kios, Shofie baru mengangkat panggilan itu.


"Kenapa lama angkatnya?"


"Lagi belanja, Daddy. Perasaan baru tadi pagi meninggalkan Shofie di sini. Sudah dihubungi terus! Nggak percaya banget sama anaknya," jawab Shofie memutar bola matanya jengah, tampak kekesalan di sana.


"Itu tandanya Daddy sayang sama kamu. Kalau Daddy nggak sayang, pasti Daddy tidak akan pernah menanyakan keadaan kamu."


"Iya, iyaa! Sayang tapi posesif," cibir Shofie.


"Habis ini langsung pulang, Manto sudah nunggu itu!" titah sang ayah mutlak dan tidak terbantahkan.


"Hufftt. Siap, Tuan Besar," jawab Shofie mengiyakan dari pada harus ribut di area pasar.


Panggilan pun berakhir setelah segala perintah Alex diiyakan oleh Shofie.


"Heran gue! Apa nggak ada kerjaan daddy, bisa-bisanya tiap sejam hubungi gue?" gerutu Shofie dalam hati.


Saat Shofie membayar barang belanjaan, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini panggilan dari Manto, sang sopir yang ditugaskan untuk menjemput dia.

__ADS_1


"Iyaa, aku di kios Melati. Bapak cepet ke sini!"


__ADS_2