
Sambil bersiul, mata Raka mengawasi tempat yang sudah mulai sepi itu. Saat tiba di depan ruang guru, langkah kakinya terhenti dan tatapan matanya terpaku pada satu titik.
Raka mengucek mata seolah tidak percaya dengan penglihatannya. Di depannya sang bidadari tersenyum manis ke arahnya. Sungguh, ini adalah suatu anugerah dan rejeki besar yang didapat dari Tuhan hari ini.
"Miss? Apakah ini mimpi?" gumam Raka sambil mencubit tangannya sendiri.
"Tidak! Ini bukan mimpi, saya masih dibutuhkan yayasan Nuswantara untuk mengajar di sini," sahut Shofie dengan senyum mengembang dan kedua tangan terangkat.
Senyum Raka mengembang karena bahagia, sang pujaan hati telah kembali. Semangat Raka pun hadir seiring kehadiran sang kekasih.
"Mau pulang bersama?" tawar Raka dengan senyum menawan.
"Siapa takut?"
Akhirnya kedua insan kekasih itu menuju area parkir. Mereka sengaja berjalan terpisah agar tidak mengundang kecurigaan warga SMA Nuswantara. Setelah dirasa cukup sepi, Shofie ke boncengan motor kekasihnya.
Raka mengantar Shofie tanpa singgah kemana pun, dia harus bekerja dan belajar. Shofie memaklumi itu. Sebagai seorang siswa yang sekolah sambil bekerja itu tidaklah mudah, apalagi saat ini tengah menghadapi ujian. Raka harus bisa mengatur waktu untuk bekerja dan sekolah.
"Mampir?"
"Lain kali saja, saya sudah ada janji dengan beberapa toko buat antar barang dagangan ke konsumen. Takut kesorean," tolak Raka halus.
"Ok! Terima kasih atas tumpangannya. Hati-hati ya," ucap Shofie dengan wajah tersipu.
Raka meninggalkan rumah Shofie usai mengucap salam. Dia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang ke arah pasar. Pemuda itu sudah membawa baju ganti untuk bekerja.
"Ka, sudah makan?" tanya Lek Maman.
"Alhamdulillah, kebetulan belum. Baru pulang, Lek," jawab Raka sambil mendudukkan bo*ongnya di sebelah Lek Maman, lalu mengambil jerigen berisi air minum milik Lek Maman. Raka menenggak langsung dari jerigen isi dua liter.
"Ini ada sisa sebungkus lagi, makan gih!"
"Tumben, Lek. Siapa yang kasih?"
"Ko Acong. Semua kuli panggul yang terlihat dibagi satu bungkus nasi warteg," jelas Lek Maman.
__ADS_1
Bibir Raka membulat seperti huruf O mendengar jawaban Lek Maman. Dia langsung membuka bungkusan nasi itu kemudian memakannya, setelah cuci tangan menggunakan air minum.
"Dalam kardus itu isinya air minum kemasan, dari Ko Acong juga. Masih banyak keknya," ujar Lek Maman seraya menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Saat baru beberapa suap nasi masuk ke mulutnya, Raka teringat akan usaha yang telah dipilihkan Pak RT. Dia akan mencoba bertanya pada Lek Maman siapa tahu bisa membantu memberikan solusi.
"Lek, misalnya kalau Lek Maman punya modal. Ini misalnya lho, Lek," kata Raka tiba-tiba, sehingga mengagetkan laki-laki beranak empat yang hampir saja menyelami lautan mimpi.
"Heh, apa?" sahut Lek Maman terkejut.
"Aku mau tanya, Lek. MIsalnya, ini misalnya lho ya! Kalau Lek Maman punya tabungan, uang itu buat usaha apa, Lek?" Raka mengulang lagi pertanyaannya.
" Ngece mbok aja banget-banget ngapa ta, Ka!" sahut Lek Maman kesal dengan mata terpejam. "Sudah tahu aku nggak pernah bisa nabung, malah tanya yang bikin naik tensi.
"Hutangku aja setiap hari bertambah, Ka. Tidak pernah kepikiran aku mau buka usaha. Seandainya ada rejeki nomplok, aku malah mau lunasi semua hutangku," lanjut Lek Maman dengan pandangan menerawang.
"Nggak ada maksud buat ngejek, Lek. Aku hanya ingin membuka usaha kecil-kecilan saja. Tapi aku bingung usaha apa yang kira-kira menjanjikan untuk jangka panjang," kata Raka menanggapi.
"Coba bisnis online, Ka! Sekarang ini apa-apa online, mau makan apa aja bisa. Tinggal pencet-pencet hp, makanan sampai."
"Rejeki itu sudah diatur dan tidak akan pernah tertukar, Raka. Yang penting itu kita bersyukur. Kamu lihat ada berapa kios dengan dagangan yang sama. Tetap ada pembeli 'kan?"
"Sekarang itu, yang penting kita berusaha mencari rejeki dengan jalan benar. Jadi, rejeki yang kita dapat itu halal dan berkah. Jangan takut gagal! Karena kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda." Lek Maman memberikan nasehat panjangnya.
"Terima kasih, Lek. Nanti Raka pertimbangkan lagi usaha apa," ujar Raka sembari berdiri untuk membuang bungkus nasi bekasnya.
Setelah dirasa nasinya sudah mulai turun ke lambung. Raka dan Lek Maman mulai mengangkat barang untuk diantar ke konsumen.
Esok hari ....
SMA Nuswantara heboh dengan adanya guru baru yang merupakan anak pemilik yayasan. Dia adalah kakak tiri Zayn, satu ayah beda ibu.
Jika Zayn sebagai penerus yayasan pendidikan Nuswantara, sang kakak adalah ahli waris usaha pertambakan milik Bagaskara. Walaupun tidak berasal dari rahim yang sama, mereka sangat kompak .
Shofie baru saja memasuki gerbang sekolah. Dia merasa heran mendengar kehebohan warga SMA Nuswantara membicarakan guru baru. Shofie tetap melanjutkan langkahnya menuju ruang guru, tidak memedulikan para siswa yang membicarakan guru baru.
__ADS_1
Belum sampai di depan ruang guru, Shofie berpapasan dengan murid yang telah menjadi kekasihnya. Mungkin jika dibuat film bisa menggunakan judul 'muridku kekasihku'.
"Pagi, sayang. Bagaimana tidurmu tadi malam?" sapa Raka dengan wajah tampak segar dan berbinar.
"Pagi. Tidurku kurang nyenyak karena kepikir ...."
"Pasti mikirin saya. Benar 'kan dugaan saya?" goda Raka sambil memainkan alis matanya.
"Diih, kepedean jadi orang!"
"Harus dong! Saya aja selalu mikirin Miss Shofie, seharusnya Miss juga mikirin saya. Biar adil!"
"Hmm, sebenarnya merasa heran saja kemarin sudah ajukan surat resign via email. Satu jam kemudian di-ACC. Ehh, tiba-tiba jam sebelas malam ada email masuk memintaku mengajar lagi di sini. Mengcapek Maas!" curhat Shofie, dengan kantung mata menghiasi wajahnya.
"Sabar, semua yang terjadi pada kita itu sudah menjadi ketentuan kita. Kamu seharusnya tuh seneng, kita bisa bersama lagi. Sekarang kamu masuk dan langsung istirahat saja," hibur Raka mencubit dagu 'guruku idolaku'.
"Emang ini di rumah? Main istirahat saja, kerja Raka, kerja!"
Raka tidak menjawab, pemuda itu malah meninggalkan sang guru begitu saja sampai bengong. Shofie menggelengkan kepala melihat tingkah absurd sang kekasih.
Sepeninggal Raka, Shofie langsung mendaratkan bo*ongnya di kursi belakang mejanya. Setelah duduk, Shofie tampak menghela napasnya kasar dengan mata terpejam. Badannya terasa lemas tidak bertenaga karena kelelahan.
Awalnya di ruang itu hanya dia seorang, beberapa menit kemudian guru-guru lain mulai berdatangan. Sama dengan murid-murid SMA Nuswantara, para guru itu juga membicarakan guru baru yang sejak kemarin sudah datang ke sekolah.
Merasa penasaran, Shofie pun bertanya pada teman sejawatnya.
"Memang di sini ada guru baru?" tanya Shofie penasaran.
"Ada, Miss. Kemarin pagi, dia sudah datang ke sini sewaktu Miss Shofie belum datang ke sekolah," jawab salah satu guru.
"Pagi semua," sapa seorang laki-laki memasuki ruang guru.
Mendengar suara yang sangat familiar di telinga, Shofie mengangkat keapalanya.
"K-kamu?"
__ADS_1