I Love You, Ibu Guru

I Love You, Ibu Guru
Part 6


__ADS_3

"Mas, kamu itu keterlaluan, tahu nggak? Bertindak dzalim pada anak yatim piatu. Tak ingatkah kamu dengan Anton? Anak yatim piatu yang kamu jadikan keluarga," ucap Ary sambil merebahkan tubuhnya di samping sang suami.


"Jangan karena harta yang berlimpah kamu jadi lupa bersyukur! Harta hanya titipan Tuhan, suatu saat nanti pasti akan diambil lagi oleh Sang Pemilik. Seharusnya kamu manfaatkan harta kamu di jalan kebaikan."


"Bukan dengan diberi harta yang berlimpah kamu menjadi arogan dan tamak. Seharusnya kamu ingat juga, kalau aku ini juga dari keluarga biasa saja. Dinikahi oleh laki-laki kaya yang akhirnya merubah hidupku seketika."


Ary mengenang masa lalunya, saat-saat sebelum bersama Alex. Mantan suaminya yang berondong itu mengumpulkan anak-anak yatim dan anak jalanan untuk diberikan pekerjaan. Berbanding terbalik dengan suaminya yang sekarang, Alex tidak pernah melakukan itu.


Air mata Ary akhirnya jatuh juga, dia merasa sangat bersalah pada mantan suami yang lebih dulu meninggalkan dirinya menghadap Tuhan. Tidak! Dia tidak sedang menyesal karena menikah dengan Alex.


Menikah dengan Alex, membuat Ary bisa merasakan menjadi seorang ibu. Memiliki anak-anak yang bisa menjadi penghiburannya.


Badan Ary bergetar karena menangis, Alex pun langsung memeluk tubuh sang istri.


"Sayang, kamu kenapa menangis? Apa kamu menangisi orang miskin yang haus harta itu? Mereka memanfaatkan Shofie demi hidup enak," tanya Alex bertubi-tubi, tidak rela rasanya melihat sang istri menangis untuk orang lain.


Wajar jika seorang anak menuruni sifat orang tuanya, begitu juga dengan Alex. Sifat sombong dan arogannya menurun dari sang ibu. Padahal Ary sudah berusaha untuk mengubah Alex agar tidak terlalu sombong dan arogan. Namun gagal, sudah mendarah daging sehingga susah untuk dirubah.


Ary tidak memedulikan suaminya. Dia memejamkan mata dan berdzikir agar pikiran dan hatinya tenang. Dia tidak ingin kembali bertengkar dengan sang suami.


Pagi harinya, Shofie sudah bersiap hendak bekerja. Dia sengaja tidak mau berbelanja karena masih marah pada sang ayah. Shofie dan kedua saudara kembarnya menuruni sifat sang ibu, sabar dan dermawan.


Sifat bertolak belakang itulah yang membuat Aex selalu memuja sang istri. Semakin hari semakin besar rasa cinta Alex pada Ary. Sehingga anak-anak pun begitu lengket pada ibunya.


"Kamu ke sekolah diantar sopir saja. Jangan mampir kemana-mana! Daddy tidak suka itu," ultimatum Alex pada anak perempuan satu-satunya.


''Mau mampir kemana juga! Kek anak TK, mau pergi bekerja saja mesti antar jemput. Sudah gitu dapat ultimatum jangan mampir kemana-mana lagi. Duuhhh, terima nasiiibbbbb ...." jawab Shofie penuh gerutuan.

__ADS_1


Ary mengusap punggung sang anak, berharap anaknya bisa bersabar menghadapi sang ayah. Sebenarnya Ary merasa ada yang disembunyikan anak gadisnya itu, tetapi apa Ary tidak tahu.


Ary akan meminta pada suaminya untuk menginap di kos Shofie selama seminggu. Ary benar-benar penasaran dengan rahasia sang anak.


"Mas, kalau kamu mau pulang ke Jogja, pulang saja. Biar aku yang menjaga Shofie di ini," ucap Ary setelah Shofie pergi.


"Rencana apa yang kalian susun untuk melawanku, hmm? Tidak usah menyusun rencana yang nantinya membuat aku murka!" Alex memperingatkan istrinya untuk tidak membantu pemuda miskin itu.


"Kami tidak sedang menyusun rencana seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya ingin menemani putriku lebih lama di sini," sahut Ary dengan wajah datar dan dingin.


Melihat raut wajah sang istri saat ini, Alex bergidik ngeri. Sudah lama sekali Aex tidak melihat sang istri memasang wajah seperti ini.


"Sayang, jangan marah dong! Iyaa, kamu boleh kok menginap di sini sampai kamu bosan. Tapi ...." bujuk Alex pada istrinya, tetapi memakai syarat.


Ary tidak peduli dengan ucapan sang suami, dia tetap bergeming dengan bujuk rayu Alex. Dia dengan santai melenggang keluar rumah menuju pasar. Walaupun suaminya itu terus memanggil, Ary tetap melanjutkan langkah kakinya.


Sementara itu, Raka sedang bersiap akan berangkat ke sekolah, walaupun dia diberi surat keterangan sakit dari klinik kesehatan. Dia memilih berangkat ke sekolah dari pada di rumah terbengong saking terkejutnya.


"Thur, ayo buruan anterin! Gue takut terlambat, bisa-bisa gue kena hukuman lagi. Mana bisa gue jalanin hukuman dengan kaki pincang kek gini?" Raka meminta tolong pada Fathur.


Fathur mengantarkan sang jagoan dari Pasar Terboyo sampai gerbang sekolah. Dengan tertatih-tatih, Raka masuk ke ruang kelasnya.


Saat melewati lorong kelas lain, ujung lorong itu dipenuhi oleh anak-anak geng Zaron. Raka terus berjalan tanpa menghiraukan mereka.


"Heh, kebiasaan Lo ya? Selalu saja anggap kami patung!" teriak Bara.


Raka hanya diam saja tetapi pandangan matanya menatap Bara dengan tajam. Dia sengaja tidak meladeni anak-anak itu karena tidak ingin dihukum guru. Setelah itu Raka pergi menuju kelasnya.

__ADS_1


"Eh, kenapa anak itu pincang? Ada yang kerjain dia?" tanya Zayn.


"Lo kira, emaknya apa? Tahu apa saja yang terjadi pada dirinya," sahut Leo menimpali.


"Bukan gitu, heran aja. Ada apa sama anak itu?"


Shofie tidak hanya diantar sopir, ternyata sopir perempuan bayaran daddy-nya itu adalah seorang bodyguard. Bodyguard itu ditugaskan untuk melayani dan melindungi Shofie. Selain itu, tugas utamanya sebagai bodyguard adalah mengawasi gerak-gerik Shofie.


"Hufftt ... kamu pulang aja deh! Aku tidak butuh kamu sekarang!" ucap Shofie pada sang bodyguard.


"Tapi kata Tuan Besar ..." ucap sang bodyguard terhenti karena tatapan tajam dari Ibu Guru, setelah itu, "Tolong kasihani keluarga saya, Non. Kalau saya tidak mengawasi Nona Shofie, saya akan dipecat Tuan Besar, kalau sudah seperti itu bagaimana saya akan mencari nafkah?"


Bodyguard cantik itu memohon dengan wajah memelas agar tetap diizinkan bekerja.


"Baiklah, kamu jangan masuk ke lingkungan sekolah! Cukup tunggu aku di depan gerbang ini. Mengerti?"


Bodyguard itu mengangguk tanda banyak protes.


Sementara itu Raka mulai mengeluarkan alat tulis ke atas meja. Dia lupa belum mengerjakan PR karena kecelakaan kemarin. Dengan cekatan dia kerjakan semua PR itu selagi masih ada waktu.


Sepuluh menit kemudian bel tanda masuk kelas berbunyi. Raka buru-buru kembali menyimpan alat tulisnya. Menyisakan buku materi untuk pertemuan pagi ini.


"Raka, kaki kamu kenapa?" tanya salah seorang teman sekelasnya.


"Oh, ini? Biasa kecelakaan di jalanan, tapi nggak apa-apa kok. Sebentar lagi juga sembuh," jawab Raka cuek.


Guru pelajaran pertama masuk, seperti biasa sebelum guru itu masuk ke pelajaran akan mengabsen satu persatu muridnya. Setelah dirasa cukup, Guru itu memulai pelajaran.

__ADS_1


__ADS_2