
Raka sampai sekolah, lima menit sebelum bel tanda masuk berbunyi. Pemuda itu sedang bercanda dengan teman sekelasnya, ketika tiba-tiba didatangi anak-anak Zeron. Mereka tidak terima dengan kekalahan kemarin.
Anak-anak itu kembali menantang Raka, mereka ingin menunjukkan bahwa mereka lebih unggul segalanya dibanding dengan pemuda bersahaja itu. Namun, Raka tidak mau menanggapi sehingga amarah Zayn pun tersulut.
Anak pemilik yayasan itu pun menggebrak meja dengan kuat.
"Lo budeg apa bisu, hah? Lo sengaja nguji kesabaran gue?" bentak Zayn seraya mencengkeram dagu Raka dengan kuat, agar Raka mau menatapnya.
Raka tidak menjawab, tetapi matanya menatap tajam pada anak pemilik yayasan NUswantara itu. Raka sengaja mengunci mulutnya rapat agar tidak terkena masalah. Apalagi setiap kelas di SMA itu dipasang CCTV, menanggapi Zayn sama halnya dengan bunuh diri.
Zayn masih mencengkeram dagu Raka dengan kuat, saat guru pelajaran matematika datang. Mereka berdua sama-sama tidak mendengar suara bel tanda masuk kelas berbunyi.
"Zayn, Raka! Apa yang sedang kalian lakukan?" teriak Bu Dhini dengan suara menggelegar.
"Sejak kapan kamu pindah kelas, Zayn?" tanya Bu Dhini pada anak sang pemilik sekolahan.
Zayn dan Raka sama-sama tidak ada yang menjawab pertanyaan guru killer itu. Raka sengaja diam karena tidak ingin terkena masalah.
"Ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi?"
Hening, semua murid diam karena takut berurusan dengan Zayn.
"Baiklah kalau kalian tetap diam. Saya akan mencari tahu sendiri jawabannya. Kalian semua yang ada di ruangan ini, silakan keluar! Saya tidak mau mengajar kalian jika tidak ada yang menjawab pertanyaan Ibu tadi," ucap Bu Dhini penuh ancaman.
Takut semua mendapat hukuman, Serly, murid yang paling pandai di kelas 12 IPA 2, maju ke depan. Dia menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya tadi. Mendengar semua itu, Zayan menatap tajam Serly seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup.
Sebenarnya Serly takut, tetapi semua demi kepentingan bersama dalam kelas. Urusan dengan Zayn bisa diselesaikan nanti, pikir Serly. Namun, realita tidak sama dengan angan. Tanpa ada yang tahu, Zayn menandai Serly sebagai mangsa selanjutnya.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan dari Serly, Zayn diusir Bu Dhini. Bu Dhini pun meminta salinan rekaman CCTV yang baru saja terjadi di kelasnya itu.
Saat jam istirahat pertama, Zayn dan Raka dipanggil ke ruang BP. Mereka dipanggil terkait dengan kejadian tadi pagi. Di ruang BP sudah ada Pak Rizaldi selaku guru olah raga sekaligus guru BP, Pak Mustofa guru PKN merangkap guru BP, serta Bu Dhini selaku saksi.
Raka sudah berpikir jika nanti dia yang akan mendapat hukuman, seperti yang sudah-sudah. Selama ini, dia yang selalu menjadi tumbal akan kesalahan penerus yayasan Nuswantara. Namun, tebakannya itu salah.
Zayn mendapat hukuman membersihkan semua toilet yang ada di lantai dasar, sedangkan Raka tidak mendapat hukuman sama sekali. Hal ini malah membuat Raka merasa was-was karena tidak biasa.
Raka hanya bengong mendengar setiap patah kata yang diucapkan oleh kedua guru BP itu. Mereka tidak memarahi Raka atau pun Zayn, hanya nasehat saja yang diucapkan secara bergantian oleh kedua guru BP itu.
Pak Mustofa guru BP senior tetapi tidak pernah menghukum berat murid-muridnya. Beliau malah sering menawarkan diri untuk menjadi tempat curhat para murid.
"Zayn, sebenarnya kamu ada masalah apa dengan Raka? Sepertinya kamu dendam sekali dengannya. Bisa kamu ceritakan pada kami?" tanya Pak Mustofa pada penerus yayasan Nuswantara itu.
"Nggak ada! Jadi, tidak perlu cerita atau pun membahas masalah yang sebenarnya tidak ada," jawab Zayn sebelum berlalu dari ruangan itu.
"Raka, kamu sudah boleh kembali ke kelas. Pesan saya, hindari perkelahian. Walaupun mereka menyerang kamu, kamu harus tetap bertahan! Jangan tersulut emosi, gunakan pikiran tenang!" nasehat Pak Mustofa sebelum Raka meninggalkan tempat itu.
Raka mengangguk pamit meninggalkan ruangan itu. Zayn sudah terlebih dulu keluar dari ruang BP. Dia menuju salah satu kamar mandi khusus murid laki-laki, untuk menjalankan hukumannya.
Saat Raka akan kembali ke kelas, di koridor dia mendengar ada seseorang yang sedang membicarakan guru kesayangannya.
"Eh, kalian tahu nggak sebenarnya guru baru itu siapa? Ada yang curiga nggak sih dengan dia?"
"Menurut gue sih, B aja. Sama kek guru-guru yang lain."
"Iya, gue sependapat dengan Ratih," ujar siswi lain menimpali.
__ADS_1
"Kalau dia B aja, sama kek guru lain, kenapa wajah dan tubuhnya seperti menjalani serangkaian perawatan mahal?"
"Itu sudah rejeki dia kali, dikasih wajah cantik sejak lahir. Lagian ya, banyak kok cewek sekarang yang wajahnya kinclong alami. Nggak usah dipikirin, bikin tambah stress aja."
"Gaess ... gue tadi lihat guru baru turun dari mobil SUV mahal tahu nggak?"
"Serius lo?"
"Iya, dia naik Toyota Land Cruiser. Bayangkan di kota kita yang kecil ini, dia pakai mobil kek gitu. Apa nggak memang benar-benar dari keluarga sultan?"
"Toyota Land Cruiser itu mah murah, Pak Rahman sering tuh bawa BMW X7 ke sekolah," celetuk gadis bernama Ratih.
Raka tidak mendengarkan gosip itu lebih lanjut, mereka tidak tahu saja mobil yang dibawa oleh kedua orang tuan Shofie saat datang ke rumahnya. Jika mereka tahu sudah dapat dipastikan, mereka akan pingsan di tempat.
Raka kembali mengikuti pelajaran sampai selesai. Dia tidak pernah memasukkan ke dalam hati, setiap tindakan yang dilakukan oleh geng Zaron. Bagi Raka, itu wajar mereka lakukan karena mereka memiliki kekuatan dan kekuasaan.
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, para siswa berhamburan keluar. Begitu juga dengan Raka, pemuda itu ikut berdesakan keluar dari lingkungan sekolah. Dia sengaja ingin segera sampai rumah karena sudah memiliki janji dengan Pak RT.
Raka sengaja menumpang salah satu temannya agar cepat sampai rumah. Hal ini membuat Zayn dan kawan-kawannya kehilangan jejak.
"Siyal, anak itu sudah kabur duluan! Kalian kenapa tidak ada yang berjaga di pintu gerbang tadi? Lepas lagi anak itu, huh," umpat Zayn karena rencananya gagal lagi.
"Kelas kita tadi 'kan keluar belakangan karena ada kuis, makanya kita kehilangan jejak anak itu," sahut Leo.
"Sepertinya anak itu memiliki pelindung, soalnya selama ini anak itu selalu saja lepas dari kita. Kalian nggak ada yang curiga gitu dengan ulahnya?" curiga Barra, pikirannya berkelana membayangkan film horor yang sering ditontonnya.
"Lo kebanyakan nonton film horor yang berbau mistis. Makanya ada-ada saja yang kamu pikirkan!" ujar Leo yang sudah tahu bagaimana kelakuan teman-temanya.
__ADS_1
"Dari pada mikir macam-macam, bagus kita cari anak itu di pasar?"