
"Hai, kenalin aku Andini Larasati, biasa dipanggil Andin, aku kelas 11 IPS 1. Boleh kenalan, nggak?" sapa seorang gadis cantik dengan rambut panjang memakai bando pita merah.
Raka yang sedang fokus dengan bakso di hadapannya itu hanya menoleh sekilas lalu kembali menikmati makanan favoritnya itu.
"Diih, ganteng-ganteng sombong!" celetuk Mega teman Andin.
Andin membekap mulut Mega yang terbiasa ceplas-ceplos.
"Kami boleh duduk di sini?" tanya Andin sembari duduk di depan Raka.
"Duduk aja, ini tempat umum. Jadi, siapa saja boleh duduk," sahut Raka dengan wajah datar.
Raka mengusap mulutnya menggunakan tisu lalu menenggak jus jeruk hangat sampai tandas. Setelah semua pesanannya habis, Raka langsung berdiri meninggalkan kantin. Melihat itu, Andin berteriak memanggil nama Raka, tetapi Raka tidak menoleh sama sekali. Melanjutkan langkah kakinya meninggalkan kantin menuju kelasnya.
"Apa gue bilang? Dia sombongnya kebangetan. Lo yang anak orang kaya saja kalah sama kesombongan dia!"
"Gue suka tantangan! Jangan panggil gue Andin kalau tidak bisa taklukin anak baru itu!" sumbar Andien dengan penuh percaya diri.
Setelah dari kantin, Andin mencari cara agar bisa berinteraksi dengan Raka. Gadis itu merasa tertantang dengan sikap cuek Raka. Banyak cowok yang jatuh dalam pesonanya, tetapi tidak satu pun yang bisa memenangkan hatinya.
Andin pura-pura ke kamar mandi hanya untuk memastikan tempat duduk sang pujaan hati. Andin mengintip melalui jendela kaca , lalu memindai dimana Raka duduk.
Raka yang merasa tidak mengenal Andin tetap fokus pada pelajaran. Ujian akhir sudah di depan mata sehingga pemuda itu lebih serius belajar, apalagi dia sering izin tidak masuk sekolah.
Andin selalu mencari cara agar bisa dekat dengan Raka, bahkan gadis itu dengan berani mendatangi Raka saat pelajaran sedang berlangsung. Pelajaran olah raga tentunya karena berlangsung di luar kelas.
Raka yang sedang mengikuti pengambilan nilai lompat tinggi terpaksa harus rela didahului oleh temannya karena kedatangan Andin. Gadis itu tiba-tiba saja sudah berdiri di depan mistar yang akan dilompati Raka sehingga Raka harus menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Woiy, ganggu orang saja! Pak, lihat adik kelas ganggu!" teriak salah satu teman Raka.
Guru yang saat itu sedang meneliti siswa mana yang nilainya belum cukup pun mengalihkan perhatiannya dari buku nilai siswa.
"Kamu mau apa ke sini? Sebaiknya kamu masuk ke kelasmu! Atau kamu mau diskors?" tanya guru olah raga dengan tatapan tajam.
"Kelas saya jam kosong, Pak. Saya mau melihat kakak-kakak ini melompati mistar itu. Masak nggak boleh?" jawab Andin dengan berani.
Guru itu menuliskan sesuatu di buku yang dipegangnya. Lalu menanyakan nama lengkap dan kelas Andin. Selesai menulis sesuatu, guru itu pun memisahkan murid yang akan melompat dan yang sudah.
"Andin, kamu kembali ke kelas lagi atau minggir. Jangan ganggu mereka yang sedang melakukan pengambilan nilai ujian!" usir sang guru olah raga.
Dengan wajah cemberut, murid kelas sebelas itu menjauh dari kerumunan siswa yang akan melakukan lompat tinggi. Namun, sebelum meninggalkan tempat itu dia memberikan sebotol air mineral pada Raka. Tak lupa dia mengeluarkan kata-kata rayuan untuk Raka.
Raka menerima lalu meletakkan begitu saja botol tersebut, tanpa ada niat untuk mengambil kembali. Dia hanya menghormati saja tanpa mau menerima. Bekal dari Shofie tetaplah menjadi pilihan favoritnya.
Alex membuat kerusuhan di kantor Rend Comp, sehingga membuat Rommy mau tidak mau turun tangan.
"Maaf, Tuan Alex. Pemilik Rend Comp sudah lama tidak datang kesini. Beliau datang hanya saat diadakan rapat pemegang saham saja," jelas Rommy mencoba dengan sabar.
"Bohong kamu! Kamu sembunyikan dimana istri saya?" teriak Alex tidak percaya.
"Ikut Rendy ke surga kali! Ngaku suami tapi tidak tahu dimana istrinya berada. Aneh!" jawab Rommy sekenanya karena kesal.
Alex pun meninggalkan gedung itu dengan amarah menguasai. Dia pun pergi ke klinik kesehatan milik Ary. Sesampainya di sana dia disambut Nathan.
"Tumben Daddy mau ke sini? Daddy mau cari Nathan atau mau melakukan general check up?" tanya anak pertama Aryanti Wihardja itu.
__ADS_1
"Kemana Mommy kamu pergi?" tanya Alex tanpa basa-basi.
"Mommy? Bukannya mommy pergi ke Semarang sama Daddy, ya?"
" Jangan ngaco kamu! Daddy sudah lama mengurus mall cabang Surabaya," sahut Alex kesal.
"Makanya kalau pergi-pergi tuh, istri dibawa bukan ditinggal. Hilang baru kecarian!" ledek Nathan dengan berani.
"Kamu!" teriak Alex di puncak emosinya, lalu meninggalkan klinik itu begitu saja.
Nathan hanya berdecak kesal melihat kelakuan bapack-bapack banyak tingkah itu. Begitulah Nathan, dia yang pertama kali marah saat ibunya disakiti sang ayah. Namun, dia juga tidak berani melawan ayahnya, yang dia lakukan hanya melindungi sang ibu.
Sebenarnya Nathan dan Nicholas sudah tahu dimana keberadaan wanita cantik yang telah melahirkan mereka. Namun, mereka tidak mau memberi tahu sampai ibunya sendiri yang meminta.
Teriknya sinar matahari di atas bumi Semarang, tidak menyurutkan laju motor Raka untuk menemani sang tambatan hati. Tiba-tiba saja sang istri ingin pulang ke Jogja, padahal Raka baru saja pulang sekolah. Akhirnya, setelah selesai menikmati makan siang, pasangan muda itu berangkat ke Jogja menggunakan motor.
Mereka istirahat di pinggir jalan, ketika motor memasuki kota Magelang. Shofie membuka jok motor untuk mengambil air minum dalam bagasi.
"Rakaaa!" teriak Shofie ketika mendapati sebuah barang perempuan di dalam bagasi.
*
*
*
Mampir yuk ke sini
__ADS_1