
Besok adalah hari keberangkatan Ary ke tanah suci. Shofie sudah berencana ikut mengantarkan sang ibu ke bandara. Shofie berangkat ke Jogja sendiri karena Raka sudah mulai mengikuti ujian akhir.
Shofie tiba-tiba saja ingin tidur bersama ibunya sebelum pergi ke tanah suci. Dia tidak tahu itu pertanda apa, yang dia tahu berat melepaskan sang bunda pergi. Padahal, ini bukan kali pertama Ary ke tanah suci.
Ary sudah sering melakukan ibadah umroh dan sekali ibadah haji, bahkan ketiga anaknya juga sudah pernah diajak umroh saat Shofie baru saja lulus SMA. Ary memang sangat dekat dengan anak-anaknya, semua mendapatkan kasih sayang yang sama.
Kevin yang hanya anak sambung saja dia rawat dan diberikan kasih sayang yang melimpah. Namun, setelah hak asuhnya diambil oleh ibu kandungnya, anak itu seolah tidak mengenal Ary. Padahal Ary tidak membedakan anak-anaknya, kecuali pendidikan agama.
Malam ini, Shofie sudah berada di kamar orang tuanya. Dia ingin dipeluk Mommy Ary sepanjang malam. Ary pun dengan senang hati menuruti kemauan anak bungsunya itu.
"Mom, Daddy kemana? Shofie terakhir bertemu beliau pas kejadian penculikan itu. Daddy tiba-tiba saja pergi tanpa pamit, bahkan sampai sekarang belum pulang," tanya Shofie penasaran.
"Mommy juga tidak tahu," sahut Ary. "Karena kami tidak pernah saling bertukar kabar lagi sejak saat itu," imbuh Ary dalam hati.
Sementara itu, Raka belajar hingga waktu menunjukkan jam dua belas malam. Pemuda itu tidak bisa tidur karena gulingnya tidak ada. Sudah berulang kali pindah posisi tidur tetap tidak bisa tertidur.
Pagi-pagi sekali Shofie bangun, pertama kali yang dilakukannya adalah menghubungi sang suami. Dia sangat yakin jika suaminya itu pasti masih terlelap dalam buaian mimpi. Oleh karena itu, dia harus membangunkan sang suami.
"Hmm, ngantuk," ucap Raka serak dengan mata terpejam menempelkan handphone -nya di telinga.
"Tampak kali matanya nggak kebuka nih! Tega banget dikasih kuping," sembur Shofie kesal karena video call ingin melihat wajah sang suami malah melihat telinga.
"Sorry, Yank. Masih ngantuk, semalaman nggak bisa tidur karena nggak ada yang dipeluk," adu Raka pada sang istri, sembari meletakkan ponselnya di depan wajah. Handphone itu disandarkan pada bantal sedangkan Raka masih dengan posisi berbaring miring.
"Bangun! Mandi shalat terus buat sarapan atau beli. Berangkat sekolah lebih pagi biar gak telat ikut ujian!" perintah Shofie tidak mau dibantah.
"Sebentar, Yank. Lima meniiit lagi. Ngantuk banget, suempaaah," sahut Raka sambil menguap dengan mata terpejam.
"Mana bisa begitu, nanti bablas ketiduran sampai si... ang," ujar Shofie lama-lama melemah karena mendengar suara dengkuran halus sang suami. Ternyata suami berondongnya itu sudah kembali berselancar di pulau kapuk.
__ADS_1
Shofie mematikan sambungan panggilannya, lalu beranjak keluar kamar karena sang ibu sudah tidak ada di kamar lagi. Dia pindah ke kamarnya sendiri, kemudian kembali menelepon sang suami agar bangun. Setelah beberapa kali panggilan, Raka baru bangun.
Jam delapan Ary berangkat ke bandara diantar oleh ketiga anaknya. Begitu sampai di bandara, Ary memeluk anaknya satu persatu sangat lama lalu menciumi wajah mereka, seolah-olah berat berpisah. Padahal mereka sudah terbiasa tinggal berpisah.
Shofie menangis sepeninggal sang ibu, separuh nyawanya seakan pergi seiring kepergian sang ibu ke tanah suci. Tidak hanya Shofie, si kembar pun merasa hampa. Ada sesuatu yang hilang, tetapi tidak tahu apa.
Raka yang sedang mengikuti ujian merasa tidak tenang, pikirannya selalu tertuju pada istri dan keluarganya di Jogja.
"Astagfirullah, ada apa ini? Kenapa pikiranku tidak bisa fokus ke ujian?" gumam Raka pelan.
Sementara itu, Alex berada di kota kelahirannya sedang duduk di depan makam mertuanya. Dia bersimpuh, menangis meminta maaf karena tidak bisa menepati janjinya untuk membahagiakan anak kesayangan mereka.
Alex merasa bersalah karena mengabaikan anak istrinya selama ini. Dia terlena dengan kenikmatan dunia yang menyesatkan. Memiliki istri cantik, kaya dan solehah tetapi disiakan, malah tergoda dengan mantan istri yang pernah mengkhianatinya.
Kini saat dia tersadar, akses untuk bertemu sang istri sudah tertutup. Ingin pulang ke rumah sekarang pun rasanya malu karena rumah itu dibeli dengan keringat sang istri. Saat ini dia tinggal di rumah peninggalan orang tuanya, saksi kedzaliman mamanya pada istri dan ketiga anaknya.
Hanya kata itu yang terucap dari mulut Alex dengan air mata mengalir deras.
Shofie pulang ke Semarang diantar oleh si kembar Nathan dan Nicholas karena kemarin dia ke Jogja bersama sopir. Si kembar langsung bertolak ke Solo untuk melihat outlet komputer.
Shofie kembali menangis setelah masuk ke kamar. Hatinya terasa sangat sakit sampai sesak di dada. Tidak seperti biasanya dia seperti ini.
Terlalu sakit dirasa, Shofie akhirnya tertidur sambil memeluk guling. Matanya sembab dan beberapa bulir air mata masih tertinggal di mata dan pipi.
Raka pulang dari kafe sekitar jam empat sore. Dia sengaja mampir ke kafe terlebih dahulu sebelum pulang. Toh istrinya sampai rumah sore, begitu pikirnya.
Tanpa Raka tahu, sang istri sudah meringkuk di atas kasur sejak satu jam yang lalu. Pemuda itu terkejut melihat istrinya menangis dalam keadaan tidur. Hal yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Raka mengusap air mata itu lalu mengecup kening sang istri. Setelah itu, membetulkan letak selimut dengan menariknya hingga menutupi kaki sampai dada.
__ADS_1
Seminggu telah berlalu, Shofie setiap malam melakukan video call dengan Mommy Ary. Hal yang tidak biasa dilakukan setelah Shofie menikah. Sedangkan Raka masih fokus dengan ujian akhirnya, ujian yang menentukan kelulusannya nanti.
Raka di sekolah masih dikejar oleh Andin walaupun sudah berulang kali menghindar, bahkan kata-kata kasar dan pedas juga terlontar dari mulut Raka. Namun, sepertinya gadis remaja itu pantang menyerah sebelum menang.
"Kak, bagi alamat rumahnya dong. Aku pengen main ke rumah Kakak. Boleh, ya?" Lagi-lagi Andin menghalangi langkah Raka yang hendak pulang.
"Heh, lo bukannya diliburkan? Kenapa masih keluyuran di lingkungan sekolah?" tanya teman Raka dengan kesal. Raka yang selalu diganggu tetapi dia yang merasa risih.
"Dih kepo! Kak Raka saja nggak apa-apa aku ke sekolah," sahut Andin dengan berani.
Raka meninggalkan temannya dan Andin berdebat begitu saja. Dia memilih diam dari pada adu mulut dengan bocah itu.
"Ish, gara-gara lo Kak Raka jadi ninggalin gue!" sungut Andin sambil berlari mengejar Raka yang sudah melaju dengan motornya.
"Yaahh, dia sudah pergi duluan! Sia-sia gue ke sini," gerutu Andin kesal seraya menghentakkan kakinya ke tanah.
Sudah dandan maksimal tetapi harus gagal lagi mendapatkan perhatian dari sang kakak kelas.
"Sokooorrr!"
*
*
*
Mampir yuk karya baruku🤗
__ADS_1