I Love You, Ibu Guru

I Love You, Ibu Guru
Part 24


__ADS_3

"Kamu memang keras kepala! Sudah berapa kali daddy katakan padamu? Tinggalkan laki-laki ini, dia tidak pantas untuk kamu!"


Pertengkarannya antara ayah dan anak itu tidak terelakkan lagi. Sang ayah yang tidak rela anaknya menikah dengan laki-laki miskin. Oleh karena itu, dia tidak mau memberikan restu untuk keduanya bersatu.


"Kalau laki-laki sebaik dia tidak pantas untuk Shofie, lalu seperti apakah yang pantas untuk menjadi suami Shofie, Dad?" balas Shofie tak kalah emosi dengan sang ayah.


Raka merasa tidak enak hati melihat perdebatan antara kekasihnya dengan ayah mertua. Dia pun mendekati Shofie lalu meraih tangannya.


"Sudah, Sayang. Jangan marah-marah apalagi meninggikan suara pada orang tua! Itu dosa," ucap Raka dengan senyum terukir di bibir, agar emosi sang istri mereda.


"Kamu bela daddy?" Seakan tak percaya dengan pendengarannya sendiri, sehingga Shofie bertanya pada suami berondongnya.


"Bukan membela. Aku hanya mengingatkan, kalau kita tidak boleh meninggikan suara pada orang tua. Semarah apa pun kita, sebaiknya katakan dengan suara rendah." Raka menasehati sang istri dengan suara rendah, berharap emosinya bisa diredam.


"Jika kita menghadapi orang yang sedang marah dengan emosi juga, yang ada terjadi peperangan. Ibarat api yang disiram bensin, api itu akan semakin marak menyala-nyala. Jika kita siram dengan air, api itu akan padam dengan perlahan. Oleh karena itu, jangan hadapi amarah dengan emosi atau kemarahan. Tetapi, hadapi dengan suara rendah. Mengalah bukan berarti kalah. Menghindari pertikaian lebih baik dari pada menambah runyam mas...."


"Cuih, sok bijak kamu anak kecil!" potong Alex masih diliputi dengan amarah.


Ary terkesiap mendengar ucapan sang suami. Begitu bencinya Alex pada Raka sehingga tidak tampak sedikit pun kebaikan Raka selama ini. Mata dan hati Alex sepertinya telah tertutup oleh rasa benci.


"Ya Allah, bukakanlah hati suamiku. Agar dia bisa melihat setiap kebaikan orang lain, siapa pun itu. Hanya kepadaMu aku memohon, kabulkanlah ya Allah"


"Alex, tenanglah! Kamu jangan marah-marah seperti ini. Tidak baik didengar tetangga. Ingat saat ini kita tinggal di lingkungan padat penduduk, rumah ini juga kecil. Seharusnya ma...."


"Malu? Siapa yang seharusnya malu? Aku atau dia!" Lagi-lagi Alex memotong setiap ucapan orang lain.


"Daddy egois!" teriak Shofie sambil berlari meninggalkan rumah itu, diikuti oleh Raka.

__ADS_1


"Miss, tunggu!" panggil Raka sembari menghidupkan mesin motornya.


Shofie terus berlari sambil berurai air mata. Raka mengikuti Shofie dan menghentikan motornya tepat di depan sang istri. Tanpa banyak kata, Shofie pun naik ke atas motor. Duduk di belakang Raka, kemudian memeluk erat sang suami.


"Bawa aku pergi jauh dari sini!" pinta Shofie dengan tatapan memohon.


Raka melajukan motornya menjauh dari tempat itu. Dia tidak tahu mau kemana. Raka tetap mengendarai motornya mengikuti arah angin menuntun.


Sementara itu, Ary dimarahi suaminya habis-habisan.


"Semua ini salah kamu! Seandainya kamu tidak terlalu memanjakan dia, pasti anak itu akan jadi anak yang penurut!" tuding Alex, masih dengan emosi yang meledak-ledak.


Alex terdiam sejenak untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Terlalu marah membuat dadanya sesak.


"Sudah anaknya membangkang kamu malah menikahkan dia dengan laki-laki miskin itu tanpa sepengetahuanku. Kamu tidak pernah menganggap aku ada. Semuanya kamu putuskan sendiri tanpa rundingan dulu denganku. Apa seperti itu istri yang baik?" cerca Alex lanjut meluapkan emosinya.


Ary hanya menangis, percuma juga menjawab. Yang ada malah semakin membuat sang suami murka tak ada habisnya.


Alex pergi begitu saja setelah meluapkan segala amarahnya. Dia membanting pintu, sampai membuat Ary terjengit kaget mendengar suara pintu yang terhempas.


Nicho mendekati sang ibu, kemudian memeluknya erat. Seolah ingin memberikan ibunya kekuatan.


"Mommy sabar, ya. Ini bukan salah Mommy," hibur Nicho sambil memeluk sang ibu.


Ary masih sesenggukan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Hati dan pikirannya masih semrawut menghadapi Alex yang sungguh luar biasa akhir-akhir ini.


"Kita makan di luar aja, yuk. Sambil cuci mata," ajak Nicho tersenyum, menampakkan deretan gigi putihnya.

__ADS_1


Ary pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang anak. Wanita itu mendapat anggukan dari sang anak saat tatap mata mereka bertemu. Akhirnya, Ary pun ikut mengangguk.


Nicho mengajak sang ibu ke sebuah kafe baru dengan desain interior yang sangat bagus. Sangat cocok untuk anak muda nongkrong melepaskan kepenatan. Selain desain interior yang memukau, kafe itu juga menyediakan hiburan musik secara life dengan penyanyi lokal.


"Bagaimana, Mom? Tempatnya bagus 'kan?" Nicho menanyakan pendapatnya.


"Kamu tahu tempat ini dari siapa? Bukannya kamu baru sekali ini ke sini?" jawab Ary dengan pertanyaan.


"Ada temen yang kasih rekomendasi. Jadi, aku pengen buktikan kebenarannya," jelas Nicho.


Bibir Ary membulat mendengar penjelasan dari anaknya, lalu mengangguk tanda mengerti.


"'Terus menu yang paling enak di sini apa? Pastinya dia juga kasih tahu 'kan, ya?" Ary kembali bertanya.


"Pasti dong! Mommy tenang saja, biar Nicho yang pesan. Mommy menunggu saja sambil menikmati musik," sahut Nicho dengan wajah ceria, agar keceriaan itu menular pada mommynya.


Di pantai yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya, Raka menghentikan motornya setelah sekitar satu jam mengendarai. Dia sengaja berhenti di sana untuk mencari ketenangan.


"Kita makan dulu! Kamu pasti belum makan sejak tadi, bukan?" ajak Raka seraya menarik tangan Shofie menuju warung di tepi pantai.


Shofie menurut saja kemana sang suami membawanya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik seperti Mommy Ary. Tak pernah melawan suaminya walaupun dia benar.


Raka inisiatif memesan makanan untuk mereka. Dia tahu suasana hati sang istri masih kurang baik. Oleh karena itu, dia harus lebih perhatian.


"Makanlah walau sedikit. Aku tidak ingin melihatmu sakit karena tidak makan. Daddy pasti akan semakin marah kalau kamu sakit," bujuk Raka sembari meletakkan sepiring nasi dan lauknya di hadapan Shofie.


Shofie tetap diam tak bergeming karena tak selera makan, sehingga Raka berinisiatif menyuapi istrinya.

__ADS_1


Dengan sabar dan telaten, Raka menyuapi sang istri bergantian dengan dirinya sendiri. Usai makan, mereka berjalan ke arah pantai. Menikmati langit senja sambil duduk di pinggir pantai


Mulut keduanya masih terkunci, bukan karena sedang marahan tetapi sama-sama menata hati. Pernikahan tanpa restu yang mereka jalani akan menjadi batu sandungan. Hanya bisa saling percaya dan menguatkan untuk menjalaninya.


__ADS_2