I Love You, Ibu Guru

I Love You, Ibu Guru
Part 31


__ADS_3

"Siapa, Yank?" tanya Raka panik karena tiba-tiba saja wajah sang istri kelihatan lesu dan sedih.


"Daddy," jawab Shofie singkat, menahan kekesalan juga kekecewaan.


"Daddy kenapa, hmm? Jangan membuatku panik, Yank!" desak Raka mulai terbawa emosi karena dia tahu, sang mertua akan mencari cara untuk memisahkan mereka.


"Daddy memintaku datang ke acara makan malam dengan rekan bisnisnya. Katanya dia ingin memperkenalkan aku dengan anak rekan tersebut," jelas Shofie akhirnya dengan air mata yang hendak menetes.


Raka langsung menarik Shofie ke dalam pelukannya, lalu mengusap punggung Shofie pelan. Dia tahu saat ini, sang istri butuh tempat bersandar dan tempat itu adalah pundaknya. Maka, dengan sukarela dia akan menyerahkan itu.


"Aku tidak apa-apa. Pergilah! Walau bagaimana pun juga dia adalah orang tua yang wajib kita hormati dan patuhi selama itu benar," ucap Raka sembari mendekap erat tubuh sang kekasih halal.


Terdengar suara bel berbunyi tanda masuk kelas. Raka pun melepaskan pelukannya, lalu mereka berjalan dengan memberi jarak, menuju kelas.


Malam hari....


Shofie sebenarnya malas untuk pergi memenuhi undangan sang ayah. Namun, Raka meyakinkan dia untuk hadir. Suaminya itu berjanji akan mengantar dan menunggunya, sehingga Shofie langsung mengiyakan.


"Cantik banget istriku malam ini. Tapi sayang sekali, cantiknya buat laki-laki lain bukan baut aku," ucap Raka melo dan mendapat hadiah pukulan di lengannya. Shofie memukul lengan Raka menggunakan tas selempangnya karena kesal dengan ucapan Raka tadi.


"Usah ngeledek! Aku kek gini juga atas perintah kamu. Kamu lupa, hmm?" Shofie gemas sekali dengan ulah suami berondongnya.


"Siapa yang ngeledek sih, Yang? Aku perhatiin memang wajah istriku makin hari semakin cantik. Bikin aku semakin tergila-gila padamu," ucap Raka apa adanya, pemuda itu memang sudah menjadi budak cinta.


"Gombal!" Pipi Shofie tampak memerah walau tidak memakai blush on.


"Aku ngomong beneran kok dibilang gombal sih?" Raka tidak terima dikatakan gombal oleh istrinya. Dia lalu menggelitik pinggang sang istri karena kesal disebut gombal.


"Hahaha... ampun! Sudah," teriak Shofie sambil tertawa.


"Yuk, berangkat!" ajak Raka setelah melepaskan Shofie.


"Siapa yang diundang, siapa yang semangat? Huufftt!"


"Tidak usah dipertanyakan lagi. Sekarang kita berangkat. Takut daddy semakin marah dan menganggap buruk aku," ucap Raka sembari menaiki motornya dengan helm sudah terpasang rapi di atas kepalanya.


"Iya, iyaa!" Shofie naik ke atas boncengan motor dan langsung memeluk tubuh kekar sang suami.

__ADS_1


Motor melaju dengan kecepatan sedang. Lima belas menit kemudian mereka sampai di restoran dimana sang ayah menunggu.


"Kamu jalan duluan, Yank. Nanti aku menyusul. Biar daddy tidak tahu kalau kamu datang bersamaku," perintah Raka dan diangguki oleh Shofie.


Baru beberapa langkah berjalan, Shofie berhenti lalu menoleh ke arah Raka.


"Ada apa, hmm?" tanya Raka mengernyit heran.


"Aku takut...."


"Jangan takut! Aku akan selalu bersamamu dan menjagamu. Percayalah!"


Akhirnya, Shofie melanjutkan langkah kakinya memasuki restoran. Sang ayah sudah menunggu di dalam bersama rekan bisnisnya.


Shofie sangat terkejut, melihat sang ayah sedang bercengkerama dengan mantan kekasih yang sangat dihindarinya. Wanita itu pun teringat dengan kata-kata Ditto tadi pagi, bahwa dia diundang makan malam oleh ayahnya.


Alex yang menyadari kehadiran putrinya, lansung memanggil.


"Sini, Sayang! Kami sudah menunggumu sejak tadi," panggil Alex pada Shofie, sehingga membuat Ditto dan ayahnya menoleh ke arah tangan Alex yang melambai.


"Shofie?" Ditto pura-pura terkejut, padahal dia sudah tahu siapa Shofie sebenarnya.


"Ternyata guru yang mengajar di sekolah saya adalah anak Bapak. Sungguh suatu kehormatan bagi saya, bisa mendapatkan guru yang berkualitas seperti keluarga Pak Alex," puji pemilik yayasan Nuswantara, Rohman Bagaskara.


Shofie ditarik oleh Alex dan dipaksa duduk di sebelah Ditto. Dengan terpaksa dan perasaan kesal, Shofie pun menurut. Dia tidak ingin membuat keributan dan mempermalukan sang ayah dan dirinya sendiri.


Setelah Shofie duduk, menu makan malam mereka datang. Mereka lalu menikmati makan malam tanpa bersuara. Setelah selesai, mereka baru melanjutkan perbincangan sebelumnya.


"Nak Shofie sudah tahu bukan maksud dari makan malam ini?" tanya Pak Rohman.


"Maksud Bapak?" jawab Shofie dengan pertanyaan.


"Kami bermaksud menjodohkan Nak Shofie dengan anak saya, Anandito. Bukankah kalian sebenarnya sepasang kekasih? Lebih baik kalian menikah saja, agar tidak menimbulkan fitnah. Bukan begitu Pak Alex?" jelas Pak Rohman dengan senyum mengembang.


Shofie menarik bibirnya tipis, seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.


"Apa Anda tidak diberitahu oleh ayah saya, tentang status saya?" tanya Shofie dengan alis terangkat sebelah.

__ADS_1


"Bukankah masih single, seperti yang tertera dalam CV surat lamaran yang kamu ajukan waktu itu?"


"Itu beberapa bulan yang lalu, Pak Rohman. Status saya sudah berubah sebulan yang lalu," jawab Shofie dengan tenang.


Wajah Alex merah padam menahan amarah dan malu sekaligus. Dia tidak menyangka jika anaknya terlampau nekat.


"Seharusnya Daddy memberitahu mereka jika Shofie sudah tidak sendiri lagi. Jika Dady tidak merestui pernikahan kami, tidak seharusnya Daddy menjodohkan aku dengan orang lain di saat aku masih sah menjadi istri orang," ucap Shofie pada sang ayah dengan tatapan nyalang. Marah dan kecewa telah menguasai Shofie saat ini.


"Daddy tidak pernah merasa menikahkan kamu. Jadi, selamanya Daddy anggap kamu belum menikah, sampai Daddy sendiri yang menikahkan kamu," ucap Alex.


"Bukankah Daddy sudah tahu, kalau selamanya Daddy tidak bisa menjadi wali nikah Shofie? Hak Daddy menjadi wali Shofie gugur setelah Daddy memutuskan kembali pada kepercayaan Daddy yang lama," terang Shofie yang membuat Ditto dan ayahnya terkejut.


Ya, Alex menjadi mualaf saat menikah dengan Ary. Namun, setelah anak-anaknya besar dia kembai pada keyakinannya lagi. Sejak saat itu hubungan mereka menjadi renggang. (Untuk reader yang non, mohon maaf tidak ada maksud untuk menghina agama atau keyakinan kalian. Ini hanya sebuah khayalan author semata 🙏).


Raka mendekati Shofie yang menangis tanpa suara, tetapi cukup membuatnya ikut merasakan sakit.


"Saya antarkan pulang, Miss," ucap Raka seraya menggandeng tangan Shofie dan membawanya keluar dari restoran.


"Berani kamu membawa putriku pergi, aku akan memastikan hidupmu hancur!" teriak Alex penuh ancaman, sehingga mereka menjadi pusat perhatian.


*


*


*


Mampir yuk ke karya temanku, dijamin seru banget! Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🤗


Tawanan Presdir Kejam


Author: Asri Faris


Bagai mimpi buruk yang nyata, jelas, lagi menekan seorang gadis bernama Sharena setelah dijadikan alat tukar hutang ayahnya pada seorang Presdir kejam, Keanu Abraham. Bukan hanya itu, kehidupannya bagai di neraka semenjak terperangkap dalam kebencian Keanu yang menuduhnya sebagai penyebab kematian saudaranya. Benci, dendam, berselimut luka dan cinta.


“Tegakkan kepalamu, sambutlah neraka di depanmu!” (Keanu Abraham)


“Aku tidak pernah melakukan seperti yang kamu tuduhkan.” (Sharena)

__ADS_1



__ADS_2