
Raka berangkat sekolah dengan mengendarai motor sendiri. Shofie sengaja tidak mau keluar dari kafe karena takut bertemu lagi dengan para preman yang hendak menangkapnya kemarin.
Para preman itu sudah berada di lingkungan sekolah sebelum jam enam pagi. Mereka sengaja berjaga-jaga jika Shofie mengantarkan Raka. Namun, mereka harus kecewa kerena Raka datang ke sekolah sendirian saja.
"Bos, sepertinya perempuan itu tidak ikut, tadi gue hanya lihat pelajar itu saja yang datang. Dia memakai motor yang kemarin dipakai perempuan itu," lapor preman yang paling muda.
Pentolan preman itu diam saja mendengar laporan dari anak buahnya. Dia sedang berpikir bagaimana menangkap Shofie, tuannya sudah tidak sabar menunggu hasil kerjanya. Bisa dipastikan, dia akan dihajar oleh tuannya jika kerjanya gagal.
"Lo, tunggu sampai anak itu pulang sekolah. Terus, buntuti dia kemana pun dia pergi. Lebih aman kalau lo pakai motor selama buntuti dia," perintah pentolan preman pada anak buahnya.
"Siap, Bos!"
Sementara itu, Shofie memilih belajar memasak untuk mengisi waktu luangnya. Hari masih pagi dan kafe belum dibuka sehingga memudahkan Shofie belajar bersama chef kafe.
Awalnya Shofie membuat menu yang ada di kafe. Dia memilih menu yang cara masaknya paling mudah, kemudian ke menu lain setelah jadi.
"Wah, Nona ternyata bakat memasak juga. Salut saya, Nona baru belajar memasak saja rasanya sudah seenak ini apalagi kalau sudah sering masak. Pasti rasanya nyandu banget!" puji chef kafe Restu 2.
"Chef Bimo bisa saja. Padahal semua ini karena Chef Bimo yang ajari dan mengarahkan apa saja yang harus saya lakukan agar masakan saya enak," bantah Shofie dengan balik memuji Chef Bimo selaku guru.
Sesi saling memuji itu harus berhenti karena sudah ada pelanggan menunggu pesanan. Chef Bimo dengan cekatan memasak pesanan para pelanggan. Hal ini dikarenakan, pesanan layanan antar sudah sangat banyak padahal kafe baru saja dibuka.
Shofie yang merasa bosan akhirnya memutuskan keluar dengan berjalan kaki. Niat hati hanya ingin berjalan-jalan di sekitar kafe saja. Namun, siapa sangka keluarnya dari kafe menarik perhatian pengemudi mobil SUV.
Jalanan yang lengang membuat pengemudi mobil SUV itu, dengan mudah memaksa Shofie masuk ke dalam mobil. Wanita cantik itu terus memberontak, tetapi kalah tenaga. Si pengemudi membius Shofie karena melakukan perlawanan.
Shofie tertidur pulas setelah menghirup bius yang diteteskan di sapu tangan. Si pengemudi itu adalah pentolan preman yang ingin menangkap Shofie. Dia sengaja mengawasi kafe itu setelah mendapat alamat dari membuka medsos Kafe Restu.
Pentolan preman itu membawa Shofie pada tuannya yang sudah menunggu dari beberapa hari yang lalu. Para preman itu hampir saja kehilangan uang karena tidak kunjung menangkap Shofie.
__ADS_1
Sesampainya di sebuah rumah mewah, Shofie masih belum sadar. Tuan dari para preman itu sendiri yang mengangkat Shofie dan meletakkannya di atas ranjang ukuran king size di sebuah kamar yang luas.
Laki-laki itu tersenyum bahagia bisa memandang wajah cantik yang sangat dirindukannya. Tangannya mengusap lembut wajah Shofie, kemudian mengusak rambutnya lalu berdiri dan meninggalkan Shofie di kamar seorang diri. Tak lupa, pria itu mengunci kamar agar aman.
Di sekolah, perasaan Raka tidak enak. Bayangan Shofie terus berkelebat dalam pikiran pemuda itu. Sungguh pikiran Raka tidak tenang selama mengikuti pelajaran sehingga beberapa kali kena teguran.
"Kalau kamu tidak mau mengikuti pelajaran saya, lebih kamu keluar kelas. Sejak tadi saya perhatikan kamu hanya melamun saja!" bentak guru yang mengajar siang itu.
"Maaf, Bu. Saya kepikiran keluarga di rumah. Kemarin saya izin pulang karena menjenguk keluarga yang sakit. Berhubung beliau belum sembuh, bolehkah saya izin lagi hari ini?" jawab Raka terpaksa berbohong agar diizinkan pulang.
"Apa kamu sudah merasa hebat sehingga bisa seenaknya sendiri? Apa ini juga salah satu alasan kamu dikeluarkan dari sekolahmu yang lama?" tanya sang guru bertubi-tubi.
"Tidak, Bu. Saya tidak merasa hebat, hanya saja ada salah satu keluarga saya yang sakit. Saya hanya merasa tidak tenang saja, kepikiran beliau terus."
"Baiklah, untuk hari ini saya berikan izin. Tapi tidak untuk selanjutnya," putus guru itu akhirnya.
"Ada sebenarnya? Kenapa tiba-tiba dadaku sesak bagai terhimpit ribuan ton besi?" tanya Raka dalam hati.
Hubungan batin mereka sangat kuat sehingga apa yang terjadi pada salah satu di antara mereka, pasti satunya ikut merasakan.
Raka melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin segera menemui sang kekasih halal yang sudah beberapa jam ditinggalkannya. Pemuda itu berlari kesana kemari untuk mencari sang istri, tetapi nihil.
"Kalian tahu dimana Shofie?" tanya Raka pada beberapa karyawan yang sedang berkumpul di dapur, semua karyawan itu menggeleng tanda tidak tahu.
"Nona Shofie tadi tidak ada bilang apa-apa. Kami juga tidak tahu dia pergi kemana," jawab salah satu karyawan.
"Tadi sehabis belajar memasak, dia pamit ke kamar. Sudah dilihat di kamar?" tanya Chef Bimo.
"Di kamar tidak ada, di ruang kerja juga tidak ada. Aku sudah keliling kafe nyariin dia, nggak ada," jawab Raka panik.
__ADS_1
"Tenang, kita cek CCTV dulu. Siapa tahu kita mendapat jawaban dari sana."
Raka langsung berlari menuju ruang kerja, lalu membuka rekaman CCTV sejak jam sepuluh sesuai arahan Chef Bimo. Setelah beberapa menit melihat rekaman CCTV kafe, terlihat Shofie keluar dari kafe hanya menggunakan pakaian rumahan dan sandal kamarnya.
Sudah tiga jam Shofie pergi dan belum kembali. Nomornya pun tidak bisa dihubungi, selalu operator yan menjawab di luar jangkauan. Hal ini, membuat Raka semakin resah dan gelisah.
Raka tidak mungkin melapor polisi karena belum ada dua puluh empat jam sang istri menghilang. Dia hanya bisa menghubungi teman-temannya yang berada di kafe pusat. Selain bertanya, dia juga meminta bantuan untuk mencari Shofie.
"Kamu dimana, Sayang? Jangan buat aku khawatir seperti ini!" gumam Raka sambil berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya.
Raka benar-benar panik luar biasa. Dia tidak mau kehilangan lagi miliknya.
Dengan memberanikan diri, dia menghubungi ibu mertuanya. Awalnya basa-basi menanyakan kabar lalu bertanya apakah Shofie ada menghubungi sang mertua. Jawaban sang mertua membuatnya semakin panik.
"Shofie sudah lama tidak menghubungi Mommy ataupun si kembar. Bagaimana keadaan kalian di sana?" sahut sang mertua yang membuat lutut Raka lemas seketika.
"Alhamdulillah, kami baik-baik saja, Mom. Raka tutup dulu ya, Mom, masih banyak pekerjaan Raka," ucap Raka sebelum mengakhiri percakapan.
"Kamu dimana sih?"
*
*
*
Sambil menunggu up, mampir yuk ke karya temenku!
__ADS_1