
Ary terdiam mendapatkan pertanyaan dari ibu angkatnya. Dia tidak menyangka sama sekali jika Mama Hotma bisa semarah itu. Semua ini bermula dari dirinya yang tidak bisa tegas pada Alex.
Sudah berulang kali meminta cerai, tetapi Alex selalu menolak permintaan itu. Sebenarnya sebelum berangkat umroh dia sudah meminta pengacaranya untuk mengajukan gugatan cerai di pengadilan. Ternyata dia mengalami kecelakaan pesawat sehingga gugatan cerai tidak dilanjutkan.
"Kami akan menikah kembali setelah Alex kembali menjadi mualaf, Tante. Saat ini pengacaraku sedang dalam perjalanan ke sini. Aku janji masalah kami akan segera selesai," ucap Alex setelah Ary tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Mama Hotma mengangguk tanda mengerti lalu berjalan menuju kantin.
Sebenarnya bukan itu inginnya Ary, akan tetapi melihat kondisi sang ayah angkat saat ini, mau tidak mau dia harus menekan egonya. Bisa saja dia menolak keinginan Alex, tetapi bisakah masalah akan cepat selesai jika kedua belah pihak sama-sama mempertahankan egonya.
"Bisa saja kita memulai lagi dari awal, tapi kertas yang sudah kusut tidak bisa kembali seperti semula. Hanya tinta yang berkualitas yang benar-benar bisa menggambarkan bentuk tulisan yang jelas. Kita lihat seberapa berkualitasnya dirimu untuk bisa mengembalikan fungsi kertas itu," ungkap Ary begitu Mama Hotma meninggalkan mereka berdua di depan ruang ICU.
__ADS_1
"Aku berjanji akan membuat kertas itu kembali berfungsi dengan baik dan menyamarkan bekas rema san tangan yang membuatnya tak berbentuk. Aku janji tidak akan ada lagi air mata, kecuali air mata kebahagiaan," janji Alex dengan bersungguh-sungguh, tetapi tidak ada jawaban dari Ary.
"Ahh, Mommy!" jerit Shofie tiba-tiba karena perutnya tegang sekali dan terasa melilit seperti orang yang ingin buang air besar.
Raka yang sejak tadi berada di sampingnya sudah kena cakaran di lengannya. Namun, pemuda itu tidak marah atau pun berteriak sama sekali. Dia tetap tenang mendampingi sang istri.
Setelah satu jam berada di ruang bersalin dengan ditemani suami berondongnya, akhirnya anak pasangan muda itu lahir dengan proses normal. Keadaan keduanya sama-sama sehat.
Anak yang dilahirkan Shofie berjenis kelamin perempuan. Bayi cantik itu merupakan duplikat sang ayah terlahir secara prematur. Berat badan hanya 2300 gram dengan panjang 43 centimeter, benar-benar bayi yang mungil. Bayi mungil itu diberi nama Alya Kaneshia Pradipta.
__ADS_1
Kelahiran sang cucu membuat kakek dan nenek itu melakukan gencatan senjata untuk sementara waktu. Keributan mereka malah menambah masalah semakin kompleks. Sakit orang tua semakin parah dan sekarang, anaknya harus melahirkan prematur karena ikut stress memikirkan masalah orang tuanya.
Hanya Raka yang tetap tenang menghadapi masalah yang silih berganti itu. Laki-laki itu malah mengabari kedua kakaknya agar menyusul mereka. Sakit sang kakek yang semakin parah dan istrinya melahirkan lebih cepat dari HPL-nya sebagai alasan dia mengabari si kembar.
Melihat gesitnya sang menantu, Ary semakin merasa bahwa dia tidak salah merestui pernikahan si bungsu dengan muridnya sendiri. Walaupun usia Raka lebih muda empat tahun, cara berpikirnya sudah dewasa dan bijaksana. Terbukti dari banyaknya masalah yang dapat diatasi dengan mudah pemuda itu.
Sudah dua hari Pak Chandra dirawat di rumah sakit. Beliau pun sudah melewati masa kritisnya, bahkan sudah terlihat membaik setelah mendengar kabar cicitnya lahir. Lebih membahagiakan lagi, setelah tahu Alex dan Ary akan segera menikah lagi secara siri.
"Kapan kalian akan menikah lagi? Jangan terlalu lama, mumpung Papa masih hidup!"
__ADS_1