
Kedua sejoli itu memilih berjalan mengelilingi alun-alun dan sekitarnya, setelah membayar sewa becak. Mereka berjalan melewati gang-gang kecil di daerah sekitaran alun-alun. Sampailah mereka di alun-alun Kidul.
Mereka mencoba berjalan menutup mata, mengikuti mitos walaupun tidak percaya sepenuhnya. Setelah itu keduanya duduk-duduk di atas rumput, sembari menikmati pesanan makanan dari angkringan tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Sekitar jam sembilan lewat, mereka hendak kembali ke hotel. Kembali mereka mencoba menyusuri jalan yang tadi dilewati. Mereka melakukan itu bukan karena ingin menghemat biaya, melainkan ingin berduaan lebih lama.
Keduanya bergandengan tangan menyusuri gang-gang kecil mengikuti daya ingat mereka.
"Sayang, betul nggak sih ini jalan yang tadi kita lewati?" tanya Raka bingung, sejak tadi sepertinya dia hanya memutar-mutar saja tidak kunjung menemukan jalan ke arah Malioboro.
"Keknya kita tersesat deh! Perasaan dari tadi kita bolak-balik ke jalan ini terus. Bagaimana ini?" sahut Shofie mulai panik karena malam mulai larut.
"Coba kamu buka google map, siapa tahu bisa," saran Raka yang diangguki oleh Shofie.
Shofie pun melihat ke gawainya, ternyata tinggal lima persen lagi. Tidak mungkin dia menggunakan gawai itu, karena tidak bisa bertahan lama.
"Pakai handphone kamu aja, Ka! Punyaku lowbat," ucap Shofie jujur.
Raka pun mengotak-atik gawainya, ternyata paket data punya dia habis lupa belum diisi.
"Tadi lihat warung atau kios yang jual pulsa nggak?" tanya Raka sambil celingukan mencari warung terdekat.
"Kenapa?"
"Pulsa habis, paket data pun sudah kadaluwarsa," jawab Raka seraya menyerahkan gawainya pada Shofie.
"Kamu kebiasaan banget! Ceroboh! Aturan kalau mau pergi-pergi tuh isi pulsa yang banyak, biar bisa beli paket data," omel Shofie kesal.
"Maaf, aku nggak pernah ngecek berapa saldo pulsa sama saldo paket data. Jadi, pas habis masa aktifnya tidak tahu," sesal Raka dengan wajah sangat bersalah.
__ADS_1
"Makanya kalau ada notifikasi pesan dari provider itu langsung dibuka terus baca dengan teliti. Biar tahu kapan masa aktif paket yang kamu beli itu berakhir." Shofie masih saja mengomel bak ibu yang mendapati anaknya melakukan kesalahan fatal.
Raka yang dimarahi Shofie hanya berdiri menatap sang pujaan hati dengan intens. Lalu, tersenyum karena kesalnya Shofie terlihat sangat lucu di mata Raka.
Shofie menghentikan omelannya setelah merasa ada yang memperhatikan. Dia melihat ke arah Raka yang tersenyum lebar ke arahnya.
"Kamu itu ngeselin banget sih! Sudah tahu aku kesel, pengen makan orang malah diketawai," sungut Shofie semakin kesal.
Tiba-tiba Raka mengulurkan kedua tangannya meraih kepala Shofie.
"Aku gemes banget kalau lihat kamu ngoceh-ngoceh kek tadi. Pengen halalin kamu biar bisa terkam kamu kalau lagi ngoceh kek tadi," ucap Raka gemas sembari mendekatkan wajahnya untuk mencium Raka.
Anak seusia Raka jiwa penasarannya sangat tinggi. Ketika belum tahu bagaimana rasanya bibir seorang wanita, dia ingin mencoba. Setelah mencoba dia menjadi ketagihan, ingin lagi dan lagi.
Bibir Shofie bagi Raka merupakan candu, sehingga dia tidak bisa lepas dengan bibir merah alami itu. Setiap ada kesempatan pasti dia akan melahap bibir itu sampai bengkak.
Sepertinya malam ini bisa dibilang sengsara membawa nikmat. Ini kali kedua, Raka dan Shofie terkena gerebek karena ci uman. Mereka disidang oleh Pak RT dan warga setempat.
"Hubungi keluarga kalian sekarang juga! Malam ini juga kalian harus segera dinikahkan, perilaku kalian berdua sangat meresahkan!" titah Pak RT mutlak tak terbantahkan, tidak peduli dari mana asal mereka.
"Maaf, Pak. Boleh saya menumpang nge-charge handphone saya? Handphone saya lowbat," sahut Shofie mencoba menawar. "Setelah daya baterai terisi, saya pasti menghubungi keluarga saya."
Pak RT pun meminjamkan charger pada Shofie, sehingga gadis itu bergegas men-charge gawai miliknya di ruang keluarga. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, Shofie langsung mengubungi sang mommy.
Mendengar kabar itu, Mommy Ary langsung mengajak kedua kakak Shofie ke daerah alun-alun, tempat Shofie dan Raka kena geb.
"Adikmu yang satu ini memang tidak ada kapok-kapoknya. Padahal sudah sering Mommy ingatkan untuk tidak pacaran. Kenapa juga tidak dipasang telinganya?" Ary ngedumel sepanjang jalan, membuat si kembar Nathan dan Nicholas harus menebalkan telinga.
"Belum lagi tiga bulan terlampui sudah membuat masalah lagi!" lanjut Ary, ada rasa kesal dan juga khawatir.
__ADS_1
"Sudahlah, Mom. TIdak udah terlalu dipikir. Semua sudah terjadi, jika memang mereka berdua harus menikah, ada Nathan yang siap menikahkan mereka," celetuk Nicho tanpa beban.
Setelah setengah jam menunggu kedatangan keluarga Shofie dan penghulu. Pak RT mengajak keduanya mengobrol dan bertanya. Saat itulah, Ary datang dengan si kembar berdiri di sisi kanan kiri, bak bodyguard.
"Kebetulan Ibu sudah datang, kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin ya, Bu!" pinta Pak RT tanpa basa-basi, mengingat waktu terus merangkak.
Pak RT menyampaikan apa yang dilihat oleh warga, pada Ary dan juga si Kembar. Semua orang yang berada di rumah Pak RT itupun mendengarkan tanpa ada yang mau menyela.
Setelah berunding dan berdiskusi, keduanya dinikahkan malam itu juga. Tanpa make up dan juga tanpa pesta, Shofie dan Raka telah melangsungkan pernikahan yang disaksikan oleh warga setempat.
Dengan satu tarikan napas, Raka telah berhasil mempersunting sang guru menjadi istrinya. Walaupun hanya menikah siri, keduanya telah sah menjadi pasangan suami istri menurut agama. Penghulu memberikan selembar kertas sebagai bukti telah dilaksanakan pernikahan pada malam itu.
Selembar surat keterangan itu sebagai prasarana untuk mendaftarkan pernikahan mereka ke KUA. Walau pun hanya selembar kertas tapi sangat berarti bagi Raka dan Shofie.
Senyum Raka selalu mengembang karena telah berhasil menikah sang pujaan hati, walau pun hanya secara siri. Tak beda jauh dengan Raka, Shofie pun tampak bahagia karena tidak takut lagi skinship dengan Raka. Ary menangis haru melihat anaknya yang paling kecil sudah menikah terlebih dahulu.
"Bang, besok bantu Shofie urus ini ke KUA ya," rengek Shofie pada Nathan.
"Eh, enak aja main perintah! Wani piro?" sahut Nathan bercanda, sengaja ingin mengerjai sang adik kesayangan.
"Mommy, lihat Bang Nathan. Masak minta tolong kek gitu saja dia tega minta bayaran," adu Shofie manja pada sang mommy.
"Nathan, Nicho, besok kalian bantu adikmu urus ke KUA. Nanti Mommy kasih uang jajan buat kalian," perintah Mommy Ary tak terbantahkan lagi.
"Baik, Mom," jawab si kembar serentak.
Kini, mereka telah kembali ke hotel diantar oleh si kembar. Shofie dan Raka sengaja dikembalikan ke hotel agar tidak ada yang curiga.
"Kita tidur di kamar aku atau kamar kamu?" tanya Raka begitu mereka sampai di hotel.
__ADS_1