
"Jangan bercanda kamu, Raka!"
"Apa wajah saya seperti orang yang sedang bercanda, Miss?" sahut Raka dengan tenang.
"Hufftt!" Shofie menghela napasnya kasar, perasaannya saat ini terasa entah. Antara senang dan terkejut sekaligus.
Shofie tidak menyangka muridnya yang selama ini selalu mengucap kata i love you, ternyata bukan bualan semata. Berulang kali Raka mengatakan cinta, berulang kali dia juga enggan menjawab. Tidak mungkin guru dan murid menikah.
Umur Raka yang masih labil, membuat Shofie berpikir seribu kali untuk melangkah lebih jauh. Tidak menampik juga, bila getar cinta juga hadir di hatinya. Ada rasa gamang untuk menjalani.
Menjalin hubungan dengan pria yang sebaya saja, kandas. Masih sama-sama mementingkan egonya. Apalagi menjalani sebuah hubungan dengan usia pria lebih muda.
"Umur belum tentu menjamin kedewasaan seseorang, Miss. Boleh saja umur saya lebih muda dari Miss. Akan tetapi sejak kecil saya sudah terbiasa mandiri. Saya sangat yakin bisa mencukupi semua kebutuhan kamu, walaupun tidak semewah orang tua kamu," ucap Raka setelah beberapa lama keduanya terdiam.
Shofie tidak meragukan kemampuan Raka akan hal itu. Dia hanya memikirkan sifat masing-masing yang berbeda, akankah bisa saling melengkapi atau saling menyakiti.
"Boleh saya, memberikan jawabannya seminggu lagi?"
"Tidak! Saya ingin mendengar jawaban itu saat ini juga, biar saya tahu menempatkan diri nantinya," tolak Raka tegas. "Sebaiknya kita makan dulu, jawab nanti setelah makan."
Shofie mengerucutkan bibirnya kesal, tidak menyangka jika pemuda duduk di depannya memiliki kemauan sekeras batu. Walau pun begitu Shofie suka.
Raka mengulum senyum melihat sang pujaan hati cemberut. Dia meletakkan cincin yang dipakai untuk melamar tadi di atas meja.
"Kalau Miss ambil kotak cincin ini, berarti Miss terima lamaran saya. Kalau tidak disentuh berarti ditolak," ucap Raka sebelum menikmati makanan yang sudah dipesan.
Kedua insan itu makan dengan tenang, tak ada obrolan sama sekali. Padahal pada umumnya di usia seperti mereka akan makan sambil ngobrol. Ada rasa canggung yang membuat keduanya tidak melakukan obrolan saat makan.
__ADS_1
Usai makan, Raka menatap dalam wajah perempuan di depannya. Raka masih menunggu Shofie berbicara, membuka suara menjawab lamarannya tadi. Tak kunjung menjawab, akhirnya Raka memberanikan diri menggenggam jemari sang pujaan hati.
Tak ada penolakan saat tangan kasar itu menggenggam jemari berkulit putih dan halus itu. Perlahan Raka membuka kotak cincin dan mengambil cincin itu. Tangan kasarnya masih menggenggam jemari sehalus sutra, kini Raka beralih tangan menggenggam jemari itu.
Raka pun menyematkan cincin tanpa penolakan. Betapa bahagianya Raka atas tanggapan sang pujaan hati. Lamarannya diterima walaupun malu-malu.
Raka mencium punggung tangan sang pujaan hati yang telah disematkan cincin. Shofie sedari tadi hanya menunduk dengan wajah merona bak tomat masak.
Raka langsung membayar tagihan karena Shofie hanya diam menunduk malu. Setelah itu, mengajaknya keluar menuju motor yang baru saja diambil dari dealer.
Ya, Raka baru saja mengambil motor yang pernah dibayar oleh sang ayah angkat saat usianya genap tujuh belas tahun. Tepat satu tahun yang lalu. Hari ini adalah hari ulang tahun Raka ke delapan belas. Dia sengaja mengambil hadiah itu langsung ke dealer motor.
Raka tidak mengantar Shofie pulang, melainkan membawa Shofie ke tempat biasanya dia menumpahkan isi hatinya. Raka sengaja mengenalkan tempat itu pada sang pujaan hati. Sebuah gubuk di pinggir sungai yang aliran airnya sangat jernih.
"Terima kasih sudah mau menerima saya," ucap Raka begitu mereka duduk di gubuk. Shofie hanya tersenyum dan mengangguk.
"Biar nggak timpang, harus dua-duanya. Adil 'kan?" ujar Raka sambil tersenyum jahil.
"Diih, rumus dari mana?"
"Rumusnya Mas Raka Pradipta," jawab Raka dengan penuh percaya diri, langsung mendapat pukulan mesra dari sang pujaan hati.
Raka tertawa lebar lalu memegang kedua tangan Shofie. Mereka saling menatap penuh cinta membara. Entah siapa yang memulai, wajah keduanya kini sudah berdekatan.
Cuup ....
Sebuah kecupan mendarat di bibir semerah cherry. Tak ada penolakan, kecupan itu berubah menjadi saling menyesap dan melumut. Kini di gubuk itu hanya terdengar cecapan saling bertukar saliva.
__ADS_1
Walaupun keduanya sama-sama baru pertama kali ber ciu man, tetapi cukup membangkitkan ha srat naf su keduanya. Raka langsung mengakhiri permainannya. Takut tidak bisa menahan diri dan kebablasan.
Shofie menunduk karena malu, dadanya bergemuruh seperti genderang ditabuh. Baru kali ini dia merasakan ciu man. Dengan pacarnya yang dulu, dia tidak pernah melakukan itu.
"Kamu marah? Maaf ya, tadi saya tidak bisa menahan diri," ucap Raka penuh penyesalan, Shofie hanya menggeleng menjawab pertanyaan Raka.
Entah kenapa setiap kali bersama Raka, Shofie bak kerbau yang dicucuk hidungnya. Selalu menurut padahal dengan pacarnya yang dulu, dia selalu berontak dan melawan. Sampai akhirnya, dia melihat dengan mata kepala sendiri perselingkuhan itu terjadi.
"Besok libur weekend, saya pengen bertemu kedua orang tua kamu di Jogja. Boleh?" izin Raka.
"Hah? Jangan! Aku takut daddy marah dan mengamuk," larang Shofie, dia takut sang ayah akan melakukan sesuatu yang di luar perkiraan.
"Kenapa jangan? Saya tidak mau menjalani hubungan tanpa sepengetahuan keluarga. Percayalah semua akan baik-baik saja, jika kita mendapatkan restu orang tua," tanya Raka bingung dengan keputusan Shofie, lalu menjelaskan alasannya ingin bertemu orang tua Shofie.
"Daddy tidak suka dengan kamu, aku takut kalau beliau marah dan memisahkan kita," ungkap Shofie sendu.
"Maka dari itu, saya ingin mengenal lebih dekat lagi dengan ayah kamu. Biar saya tahu bagaimana meraih hatinya dan mendapatkan restu. Jika kita menjalani hubungan tanpa sepengetahuan mereka, maka hubungan kita selamanya tidak akan menemui titik tujuan."
"Saya benar-benar jatuh cinta pada kamu, dan menjadikan kamu wanita satu-satunya dalam hatiku. Saya ingin menikahi kamu, setelah lulus SMA nanti. Sekitar lima bulan lagi," jelas Raka dengan tenang.
Raka tahu jika sang pujaan hati sangatlah manja dan masih labil. Oleh karena itu dia harus sabar dan pikiran tenang menghadapinya. Walaupun usia Shofie lebih tua empat tahun darinya, tetapi soal kedewasaan dia masih di bawah Raka.
"Nanti kalau daddy marah dan usir kamu, bagaimana?"
"Terus, dia kirim aku keluar negeri buat jauhin kita. Atau dia nyuruh orang buat aniaya kamu atau bunuh kamu ...."
"Ssstttt! Jangan berpikir macam-macam! Selalu berpikir positif, biar apa yang akan terjadi pada kita juga positif," potong Raka seraya memegang pundak sang pujaan hati.
__ADS_1
"Baiklah, besok pagi-pagi kita ke Jogja," ucap Shofie akhirnya pasrah.