
Kata maaf berulang kali terlontar dari bibir pria berusia lima puluh delapan tahun itu. Dalam tidurnya pun dia masih menggumamkan kata itu. Shofie yang sedang menunggui sang ayah di rumah sakit, hanya bisa meneteskan air mata.
Melihat sang ayah yang menderita karena rasa penyesalan yang mendalam, Shofie pun berulang kali mencium punggung tangan ayahnya. Dia juga ingin meminta maaf pada kedua orang tuanya karena belum bisa menjadi anak yang membahagiakan orang tua.
"Daddy, sudah. Jangan minta maaf lagi! Kami sudah memaafkan Daddy, kami pun sangat yakin mommy pasti memaafkan Daddy juga," ucap Shofie di antara isak tangisnya
Raka yang melihat sang mertua dan istrinya bersedih, merasa ikut tercubit hatinya. Ternyata seperti ini rasanya memiliki keluarga, saling menyayangi dan membantu di kala susah. Ruangan itu terlihat lebih hidup walaupun diiringi isak tangis penyesalan.
Pak Chandra dan istrinya berada di Semarang hanya dua hari. Hal ini dikarenakan, usaha perkebunan milik Pak Chandra tidak ada yang mengurus karena Brandon dan Anggita sedang melakukan perjalanan bisnis ke Australia. Oleh karena itu, pasangan lansia itu pamit setelah dua hari menemani Shofie menjaga Alex.
Dua Minggu dirawat, Alex sudah menunjukkan perkembangan yang baik. Bicaranya sudah lancar dan tidak celat lagi. Tangan kanan dan kaki kanannya sudah bisa digerakkan dengan bebas.
Hanya saja, tangan kiri dan kaki kirinya belum bisa digerakkan sama sekali, kecuali diangkat atau digerakkan oleh tangan kanan atau orang lain. Setelah dicek secara keseluruhan, Alex dinyatakan boleh pulang karena sudah membaik.
Setelah pulang dari rumah sakit, Alex sudah disediakan terapis yang akan membantunya agar bisa sembuh. Dia saat ini tinggal bersama Shofie juga Raka. Sebenarnya laki-laki yang tidak muda lagi itu segan ikut di rumah menantu yang diremehkannya.
Sementara itu, Raka sedang mempersiapkan diri untuk ujian masuk ke perguruan tinggi negeri di Jogja. Sebelumnya dia pernah mengajukan beasiswa di perguruan tinggi negeri di kota setempat. Walaupun begitu, dia tetap mencoba ujian di perguruan tinggi lainnya sebagai cadangan jika tidak diterima.
Raka akhirnya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Semarang. Selama liburan menunggu kuliah aktif, laki-laki yang beristrikan seorang guru itu, mengisi kegiatannya untuk mengantar jemput sang istri. Selain mengurus kafe tentunya.
"Kakak ini pacar Bu Shofie atau kakaknya?" tanya seorang siswi SMA dimana Shofie mengajar.
__ADS_1
"Suaminya." Raka merasa tidak nyaman setiap menjemput sang istri selalu dikerubuti murid-murid istrinya.
"Bohong! Mana ada suaminya, orang Miss Shofie saja masih muda banget. Kalau mau bohong tuh kira-kira, Kak. Masak Miss Shofie sudah menikah," sanggah siswi lainnya.
Raka diam saja tidak mau mengklarifikasi ataupun membantah ucapan mereka. Bagi dia, yang penting berkata jujur dari pada menemui masalah pada akhirnya. Pemuda itu tidak peduli siswi-siswi centil murid istrinya itu percaya atau tidak.
Tak lama menunggu, wanita yang yang telah dinikahinya itu keluar dari pintu gerbang sekolah. Shofie berjalan menuju ke arah Raka dengan senyum mengembang seperti biasa.
"Maaf, harus nunggu lama. Tadi ada sedikit pengarahan untuk murid-murid di kelas," ucap Shofie begitu sudah berada di dekat sang suami.
Raka hanya menjawab dengan menyatukan jari telunjuk dan jempol sehingga membentuk huruf O sambil tersenyum.
Para murid perempuan yang melihat senyum Raka heboh sendiri. Mereka histeris karena melihat wajah ganteng pria berdarah Timur Tengah itu. Padahal senyuman itu hanya untuk sang istri, tetapi mereka yang baper sendiri.
Saat berada di mall, mereka bertemu dengan segerombolan anak laki-laki berseragam abu-abu. Salah satu di antara mereka tak segan menggoda Shofie, padahal ada Raka tepat di sampingnya. Mereka adalah murid-murid SMA dimana Shofie mengajar.
Raka menampakkan wajah cemberutnya selama berbelanja. Dia pun juga menjadi irit bicara. Berbicara hanya ketika ditanya oleh sang istri, sehingga Shofie pun memilih diam sampai semua barang didapatkan.
Usai berbelanja keperluan Raka, mereka langsung pulang. Hal ini dikarenakan, sang ayah masih berada di rumahnya. Alex terpaksa tinggal bersama anak dan menantunya di rumah sederhana itu.
Setiap orang yang sudah berumah tangga pasti ada saja masalah. Apalagi keduanya memiliki selisih umur yang kentara. Cemburu karena pasangan didekati orang lain itu adalah hal yang wajar. Begitu juga dengan rumah tangga Raka dan Shofie.
__ADS_1
Selama tinggal di rumah sang menantu, Alex selalu mengikuti terapi. Sekarang setelah setahun berlalu, Alex sudah bisa berjalan menggunakan tongkat, walaupun tangan kirinya masih belum bisa digerakkan tanpa bantuan.
Rumah tangga Raka dan Shofie pun tampak adem karena keduanya bisa mengelola emosi dengan baik. Jika pasangannya cemburu melihat dengan lawan jenis, maka mereka berusaha untuk menjaga jarak dengan lawan jenis. Setiap ada masalah mereka bicarakan bersama dengan kepala dingin.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Shofie mengandung buah cinta mereka. Kehamilan Shofie disambut gembira oleh seluruh anggota keluarga, bahkan Pak Chandra dan istrinya langsung mengirimkan hadiah untuk pasangan muda itu.
Sementara itu, di belahan bumi yang lain.
Wanita yang ditemukan oleh nelayan di laut lepas itu kini sudah sehat dan beraktivitas seperti biasa. Dia saat ini membantu bidan desa membantu penduduk desa jika ada yang sakit.
Berdasarkan pengalamannya sebagai dokter, wanita paruh baya itu mendirikan sebuah klinik kesehatan yang didukung sepenuhnya oleh pemerintah desa. Ya, wanita itu adalah Aryanti Wihardja, seorang pensiunan dokter penyakit dalam dan paru-paru, sekaligus sebagai pemilik perusahaan komputer terbesar di Asia.
Sebenarnya bisa saja, Ary meminta bantuan pada Rommy untuk mengirimkan uang ataupun bantuan. Namun, itu tidak dilakukannya mengingat dia ingin menyendiri, menenangkan hati dan pikiran. Rasa rindu pada anak-anaknya ditahan sampai batas waktu yang belum diketahui kapan akan berakhir.
"Taruh di sebelah sini saja, Pak!" instruksi Ary pada warga yang membantu menata klinik baru.
"Ah, iya. Geser ke kanan sedikit!"
Ary yang memberikan perintah, para warga yang mengangkat dan menyusun semua barang yang ada di bangunan baru itu. Warga desa pun senang karena wanita yang mereka tolong waktu itu seorang dokter.
Ary merasa bahagia berada di kampung nelayan itu. Warga yang ramah dan jiwa sosialnya masih tinggi. Mereka bahu membahu membangun desa mereka yang terisolasi.
__ADS_1
Walau tinggal dalam keterbatasan finansial, tidak membuat Ary menyerah. Dia mempergunakan ketrampilan yang dimiliki untuk menciptakan lapangan kerja untuk para ibu rumah tangga.