I Love You, Ibu Guru

I Love You, Ibu Guru
Part 34


__ADS_3

"Tuan, perempuan itu menghilang. Kami sudah mencarinya, tapi tidak menemukan jejak dia," lapor pentolan preman yang tadi mengejar Shofie.


"Apa kerja kalian? Menangkap perempuan satu saja tidak becus!"


"Ma-maaf, Tuan. Perempuan itu gesit sekali geraknya sehingga kami tidak bisa memprediksinya."


"Halah, alasan saja. Dasar tidak berguna!"


"Pokoknya perempuan itu harus kalian bawa padaku secepatnya. Atau nyawa kalian sebagai gantinya!"


Sambungan telepon itu pun terputus.


Para preman yang tadi hendak menangkap Shofie itu, akhirnya kembali melanjutkan pencariannya. Mereka menunggu di depan sekolah Raka karena mereka yakin Shofie masih ada di tempat itu.


Sementara itu, Shofie yang kini berada di ruang guru menunggu Raka keluar dari kelas. Dia sengaja mendatangi ruang guru agar terbebas dari para preman tadi. Istri dari Raka itu membuat alasan menjemput Raka karena ada urusan keluarga.


"Ada apa?" tanya Raka begitu masuk ke ruang guru.


"Apa kamu lupa kalau hari ini harus berangkat ke Jogja?" Shofie balik bertanya sambil mengedipkan matanya. "Mommy sudah menunggu kita."


Raka yang melihat kedipan mata sang istri, akhirnya mengikuti sandiwaranya. Pura-pura akan pergi keluar kota.


"Huh, padahal sudah aku bilang, 'kan? Aku di sini saja, kamu pulang sendiri. Tetapi kalian memaksa, baiklah kita langsung berangkat aja sekarang." Pandai sekali Raka memainkan perannya sehingga para guru yang ada di ruangan itu percaya begitu saja.


Raka dan Shofie keluar dari ruang guru setelah pamit pada para guru di ruangan itu. Mereka berjalan ke belakang sekolah karena Shofie memarkirkan motor di sana..


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba menjemputku?" tanya Raka bertubi-tubi karena merasa penasaran.


"Tidak ada! Pengen pulang bareng kamu aja," jawab Shofie santai. Dia sengaja merahasiakan apa yang dialaminya tadi karena tidak ingin membuat sang suami khawatir.


"Baru berapa jam ditinggal? Sudah kangen saja. Apa Raka junior ingin selalu dekat ayahnya?" tanya Raka sembari mengusap perut Shofie lembut.


Shofie langsung mundur beberapa langkah saking kagetnya dengan tingkah random sang suami. Dia belum siap memiliki anak sebelum buku nikah sampai di tangannya.


Sebenarnya pernikahan Raka dan Shofie sudah diurus oleh Nathan dan Nicho dengan kekuatan uang. Namun, buku nikah itu direbut oleh Alex saat Nicho mengantarkan buku tersebut ke Semarang. Sampai sekarang buku itu masih di tangan Alex.


"Kamu ngomong apa sih? Jangan mengada-ada deh! Aku barusan datang bulan," sahut Shofie cepat, tetapi dia juga kepikiran dengan perkataan Raka.


"Yah, sayang sekali. Padahal aku sudah pengen banget lihat perut kamu membuncit, dimana anakku sedang tumbuh," sesal Raka seraya memakai helm lalu naik ke atas motor diikuti oleh Shofie.

__ADS_1


"Raka, ada jalan keluar lain selain pintu gapura depan itu?" tanya Shofie tiba-tiba saat motor mulai bergerak.


"Ada keknya, kenapa?" jawab Raka dengan pertanyaan


"Aku pengen lihat lingkungan di sini kalau boleh."


"Ok, kita kelilingi sekolah ini!" seru Raka sambil menambah kecepatan laju motornya.


Akhirnya, pasangan muda itu keluar melalui pintu samping yang mengarah ke persawahan. Jalan itu ternyata mengarah ke kota sebelah, kota dimana kafe cabang dua berada. Sayangnya, jalan itu malah semakin jauh jaraknya menuju kafe Raka.


Setelah menempuh perjalanan satu jam, keduanya baru sampai di kafe. Wajah mereka tampak memerah karena terbakar teriknya matahari di siang bolong. Raka dan Shofie memasuki kafe sambil tertawa, mentertawakan wajah masing-masing.


Kita tinggalkan sejenak dua sejoli yang sedang kasmaran. Para preman itu masih menunggu para siswa pulang sekolah. Mereka tidak berani membuat kekacauan di sekolah itu karena tidak mau berurusan dengan pihak berwajib.


Sekolah sudah sepi, guru dan murid sudah meninggalkan tempat itu. Hanya tersisa sat keluarga yang bertugas sebagai penjaga sekolah sekaligus kantin. Para preman itu pun mulai menyusuri lingkungan sekolah.


"Cari siapa, Pak?" tanya penjaga sekolah itu.


"Di sini ada murid baru laki-laki?" Pentolan preman itu balik bertanya.


"Oh, murid baru yang pandai tapi miskin itu? Dia sudah pulang sejak tadi. Anak itu selalu pulang lebih cepat dibanding teman-temannya karena harus kerja part time," jelas penjaga sekolah.


"Terima kasih, Pak," ucap sang preman seraya berjalan meninggalkan sekolahan itu.


"Kita datangi saja kafenya, siapa tahu mereka sudah berada di sana," usul salah seorang preman yang paling muda.


"Boleh juga usulmu! Sekarang yang jadi masalah dia saat ini berada di kafe mana? Kafe tempat dia bekerja cabangnya tidak hanya satu dua tempat."


"Kita cek di medsos saja, Bos! Bukannya ada layanan antar pesanan? Kita pura-pura sebagai pembeli sekalian tanya dimana posisi pelayan kafe itu saat ini," usul preman muda tadi.


"Kerjakan sekarang juga!"


...***...


"Maaf, Pak. Saya tidak bisa menjawab karena itu privasi," jawab kurir yang mengantar pesanan para preman.


Pentolan preman itu mengambil sejumlah uang dari dompetnya, lalu menyerahkan pada kurir tersebut.


"Sekali lagi, maaf. Saya tidak mau kehilangan pekerjaan. Kalau Bapak ingin bertanya tentang karyawan di kafe Restu dan Rasha, silakan hubungi owner," ucap kurir itu dan berlalu dari tempat itu setelah mengambil uang pembayaran.

__ADS_1


"Siyal-siyal! Ternyata karyawan di kafe itu lebih memilih pekerjaannya dibanding duit dari gue. Berapa sih gaji karyawan kafe itu?"


Pentolan preman itu mengamuk dan membanting apa saja yang di depannya. Dia sangat kesal karena tidak mendapatkan informasi keberadaan Raka dan Shofie. Ini berarti pekerjaannya akan terhambat dan bisa jadi honor yang dijanjikan oleh tuannya raib begitu saja, jika melebihi waktu yang ditentukan.


"Sabar, Bos! Besok pagi kita tunggu mereka di sekolahan yang tadi. Gue yakin. Mereka pasti datang ke sekolah itu karena sebentar lagi ada ujian kelulusan," ucap anggota preman berambut gondrong.


"Sabar, sabar! Matamu!"


Hari berganti malam, Shofie masih kepikiran dengan kejadian yang menimpanya tadi siang. Kegelisahan yang dia rasakan terlihat jelas oleh Raka.


"Bagaimana pertemuan dengan pemilik Nuswantara tadi?" tanya Raka, sengaja tidak bertanya mengenai kegelisahan sang istri.


"Dia memintaku kembali ke sekolah itu, tapi-" Shofie tidak berani melanjutkan ucapannya takut sang suami tersinggung.


"Tapi apa? Katakan saja, aku tidak akan marah," tanya Raka penasaran, merubah posisi duduknya.


"Dia ingin aku meninggalkanmu kemudian menikah dengan anaknya," jawab Shofie menggigit lidahnya.


"Lalu?"


"Apa? Kamu pikir aku terima penawaran itu begitu saja?" teriak Shofie kesal sehingga wajahnya terlihat lucu di mata Raka.


"Hahaha... kamu lucu banget kalau kek gitu. Pengen nerkam kamu jadinya," ledek Raka.


*


*


*


Hai, mampir yuk ke karya bestie aku. Dijamin seru banget lho!


Judul: Hasrat Tetangga Kamar


Author: AdindaRa


Tiga tahun tidak berjumpa dan saling menyapa, membuat Nachya sangat canggung bertemu dengan Abangnya sendiri, Boy. Pesona Boy yang sangat tampan membuat jantung Nachya bertalu-talu setiap berdekatan dengan Abangnya.


Ternyata Boy juga sudah mencintai Nachya sejak masih kecil. Bahkan ia memutuskan bersekolah di luar negeri agar bisa melupakan Nachya. Sayangnya saat kembali dan bertemu kembali dengan Nachya, rasa cintanya justru semakin dalam.

__ADS_1


Keduanya sama-sama tersiksa dengan perasaan cinta mereka, padahal keduanya bukanlah saudara kandung.



__ADS_2