
Raka menendang kuat punggung Ditto sampai jatuh tertelungkup.
"Cepet bawa istriku ke mobil! Biar aku yang urus orang ini sampai polisi datang," perintah Raka pada Romi.
Tanpa menunggu lama, Romi bergegas memapah Shofie menuju mobil. Sampai di mobil, Romi langsung mendudukkan Shofie dan memberinya minum.
"Tur, rekaman CCTV rumah itu sudah lo ambil?" tanya Romi setelah Shofie bisa ditinggalkan.
"Sudah, ini!" jawab seraya menunjukkan flash disk pada Romi.
"Ok, sip! Gue balik ke dalam lagi bantu si bos," pamit Romi sambil membuka pintu mobil.
"Gue yakin seratus persen si Raka bisa atasi orang itu. Yang jadi pikiran gue, mati nggak tu orang di tangan Raka yang lagi emosi tinggi. Lo buruan masuk, cegah si bos biar gak ngebunuh tu orang!"
Romi langsung berlari ke dalam takut apa yang terlintas dalam pikiran Fathur terjadi. Walau bagaimanapun Fathur lebih lama mengenal Raka, jadi tahu bagaimana Raka.
Sampai di dalam Raka sudah dipegang oleh Anto dengan kedua tangan Raka terkunci ke belakang.
"Lepas, To! Gue mau bunuh si bangsat ini!" teriak Raka sembari memberontak dari pegangan Anto.
Romi pun bergegas mendekati bos dan temannya, ikut membantu memegangi Raka yang tengah emosi.
"Sabar, Bos! Lo mau dipenjara, hah?" teriak Anto kesal.
Tak lama kemudian terdengar sirine mobil polisi. Beberapa polisi masuk ke rumah itu dan mengamankan para preman. Salah satu diantaranya membawa Ditto yang pingsan.
"Kalian ikut kami sebagai saksi!" ucap salah seorang polisi yang bertindak sebagai komandan.
Raka dan teman-temannya pun mengikuti mobil polisi dari belakang. Sesampainya di kantor polisi mereka diinterogasi satu persatu. Raka menyerahkan flash disk yang berisi rekaman CCTV segala kegiatan di rumah mewah itu.
Shofie dimintai keterangan sebagai korban. Berhubung kondisi fisiknya lemah, wawancara itu tidak berlangsung lama.
Raka membawa istrinya ke rumah sakit terdekat karena tiba-tiba saja pingsan. Celana yang dipakai Shofie tampak basah dan berwarna merah. Hal ini membuat Raka menjadi panik lalu segera membawa sang istri ke rumah sakit.
__ADS_1
Berita Shofie diculik oleh Ditto segera menyebar. Hal ini dikarenakan, salah satu karyawan Raka mengunggah video yang terjadi di rumah Ditto. Kabar itu sampai juga di telinga Alex dan Ary.
Malam itu, Alex dan Ary langsung bertolak menuju Semarang. Keduanya tampak panik memikirkan nasib sang anak yang kabarnya pingsan dan dirawat di rumah sakit.
Tidak sampai tiga jam, Alex dan Ary akhirnya sampai di rumah sakit dimana Shofie dirawat. Ary berjalan cepat bahkan hampir terjungkal karena memaksa berlari saat menuju kamar anaknya. Keduanya sudah diberitahu bagian informasi dimana letak kamar Shofie.
"Bagaiman keadaan Shofie, Raka?" tanya Ary begitu masuk ke ruang VVIP dimana Shofie dirawat.
"Sudah lebih baik. Dia tertidur setelah menjalani kuretase," jawab Raka sendu.
Siapapun pasti sedih saat mendengar kabar kehilangan anak yang belum disadari kehadirannya. Begitu juga dengan Raka yang sangat menginginkan kehadiran seorang anak agar mendapat restu dari mertuanya.
Kandungan Shofie lemah sehingga mengeluarkan flek yang dikira darah haid. Ditambah lagi kejadian tadi siang hingga malam, semakin memperburuk keadaan Shofie.
"Apa maksudmu kuretase?" tanya Ary seolah tidak percaya. Raka mengangguk mengiyakan apa yang dipikirkan oleh ibu mertuanya.
"Maaf, Mom. Raka tidak bisa menjaga mereka," ucap Raka pilu, tak terasa air matanya menetes.
Kakak Alex, Bernadeta tidak memiliki anak perempuan. Begitu juga dengan Anton, sang anak angkat. Hanya Shofie cucu perempuan Kusuma Wijaya, yang akan menjadi satu-satunya ahli waris seluruh yayasan pendidikan Kusuma.
"Alex!" ucap Ary seraya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Sudah aku katakan berulang kali, aku tidak mau punya menantu miskin!"
"Oh, ya. Hampir lupa! Kamu semua yang menanggung biaya rumah sakit ini karena kamu yang sudah membuat anakku jadi seperti ini." Ucapan Alex benar-benar keterlaluan menurut Ary sehingga memancing kemarahan wanita yang telah melahirkan Shofie.
"Saya sudah membereskan administrasi rumah sakit, Tuan Alex. Bahkan, saya juga sudah melunasi untuk pembayaran tiga hari ke depan," jelas Raka dengan raut wajah bangga. Alex mendesis mendengar ucapan sang menantu.
"Sebaiknya Mommy pulang atau menginap di hotel. Biar saya yang menjaga Shofie," usul Raka pada ibu mertuanya.
"Tidak! Kami akan tidur di sini. Kamu istirahat saja," jawab Ary tanpa meminta persetujuan dari sang suami.
Raka kembali duduk di kursi yang ada di dekat ranjang Shofie. Ary berjalan menuju bed untuk penjaga pasien, sedangkan Alex masih berdiri memandangi sang putri kesayangannya.
__ADS_1
Wajah Alex tampak sendu melihat sang anak tergolek lemas tak berdaya dengan beberapa luka memar. Dia harus membuat perhitungan dengan keluarga Bagaskara. Dia tidak terima anaknya diperlakukan seperti ini.
"Malam ini kalia bisa tidur nyenyak. Lihat besok pagi, bangun tidur kalian akan mendapat kejutan!" batin Alex menahan amarah.
Berita tentang keburukan salah satu anak pemilik yayasan pendidikan Nuswantara sudah menyebar luas. Pagi hari beberapa donatur mengundurkan diri. Selain itu, banyak wali murid yang memindahkan anaknya ke sekolahan lain.
Tidak hanya sekolah PAUD sampai SMA, mahasiswa perguruan tinggi di bawah naungan Nuswantara pun banyak yang mengajukan surat pindah. Saham perusahaan milik Nuswantara juga terkena imbasnya.
Alex tersenyum puas mendengar kabar itu. Berbeda dengan Alex, Rohman Bagaskara terkena serangan jantung karena ulah anak pertamanya. Kini tak ada lagi Nuswantara perusahaan pangan terbesar di Jawa.
Peusahaan dan yayasan pendidikan Nuswantara berada di ambang kehancuran. Sedangkan kafe Restu dan kafe Rasha semakin ramai dengan konsumen.
Raka masih mengurus Shofie di rumah sakit di sela kesibukannya sebagai pelajar juga sebagai pengusaha muda. Kabar Raka yang telah berhasil membuka usaha kuliner sampai juga pada Alex.
Shofie dirawat tiga hari tiga malam di rumah sakit. Setelah cukup sehat dia dibawa pulang ke rumah Raka. Rumah dimana dia dibesarkan oleh ibunya yang seorang janda.
Rumah itu dirasa lebih aman dari pada di kafe. Lebih baik Raka yang menempuh perjalanan jauh ke sekolah dari pada keselamatan istrinya terancam.
Walaupun sudah melihat sendiri bagaimana usaha sang menantu, Alex tetap tidak mau mengakuinya. Dia tetap bersikeras memisahkan Raka dan Shofie.
''Sebaiknya kamu tinggalkan rumah ini, tinggalkan bocah ingusan itu! Kita pulang ke Jogja, disana lebih aman," bujuk Alex pada anaknya.
"Tidak, Dad. Apapun yang terjadi, Shofie tetap akan ikut suami. Sekarang berikan buku nikah kami agar kami terhindar dari masalah!"
*
*
*
Mampir yuk ke sini
__ADS_1