
Kabar pengeroyokan Raka sampai juga di telinga Shofie. Gadis itu bergegas pergi ke rumah murid kesayangannya, untuk menjenguk. Tak lupa dia juga membawa parcel buah sebagai buah tangan.
Kepergian Shofie yang mendadak tidak diketahui oleh Rizaldi dan orang suruhan Alex. Jadi, untuk kali ini aman. Tidak ada yang melaporkan kepergian Shofie pada sang ayah.
Shofie langsung masuk ke rumah yang tidak begitu besar itu karena pintunya terbuka lebar. Gadis itu mengucap salam, sembari kakinya tetap melangkah mendekati Raka yang duduk di ruang tengah bersama Pak RT.
"Ehh, ada Bu Guru. Duduk, Bu!"
Pak RT mulai curiga dengan kedekatan guru dan murid itu. Kedekatan yang menurutnya tidak wajar. Apalagi kejadian beberapa waktu lalu yang membuat malu dirinya sebagai sesepuh di situ.
"Ada perlu apa Ibu Guru? Ini sudah di luar jam sekolah, lho," tanya Pak RT tanpa basa-basi, dia memperlihatkan rasa tidak sukanya.
"Saya hanya ingin menjenguk saja, Pak. Tadi saya dengar katanya Raka habis dikeroyok oleh teman-teman sekolahnya. Apa berita itu betul?"
"Miss tenang saja, saya tidak apa-apa kok. Miss lihat sendiri 'kan, saya masih sehat tidak sakit," ucap Raka dengan diiringi senyum yang menenangkan hati.
Sebenarnya, sudut bibir Raka pecah terkena bogem mentah dari Zayn. Tetapi Raka masih bisa menahan rasa sakit itu karena dia sudah terbiasa baku hantam dengan para preman.
"Memar kek gitu kok nggak apa-apa, bagaimana sih kamu ini?" ujar Shofie cemas.
"Cuma dikit kok, nggak begitu sakit juga. Dikompres air hangat nanti juga sembuh," sahut Raka merasa sangat bahagia karena mendapat perhatian dari Shofie.
Memang Shofie belum menjawab pernyataan cintanya, akan tetapi perhatian yang selama ini Shofie berikan sudah menunjukkan semua itu. Mungkin Shofie malu mengakui karena perbedaan usia mereka, Raka yang jauh lebih muda membuat Shofie harus berpikir ulang untuk sebuah hubungan.
"Ehhemm, maaf Bu Guru. Saya mau pulang, sebaiknya Ibu juga pulang. Mengingat kalian tidak memiliki hubungan darah, tidak baik berdua-duaan seperti ini. Demi menghindari fitnah, lebih baik Ibu juga pulang kalau saya pulang," sela Pak RT.
Shofie terkejut mendengar ucapan Pak RT, wajahnya memerah menahan malu.
__ADS_1
"Memang tak seharusnya aku datang ke sini. Aku ini seorang perempuan, seharusnya malu mendatangi laki-laki," batin Shofie.
"Pak RT tidak perlu khawatir, saya hanya mengantar ini saja. Sudah sore, saya harus segera pulang. Orang tua saya sudah pasti menunggu saya sejak tadi," sahut Shofie dengan senyum manisnya.
Setelah itu, Shofie meletakkan parcel yang dibawanya serta serta sebuah buku grammar bahasa Inggris untuk diberikan kepada Raka.
"Saya pamit pulang, semoga cepat sembuh. Ini buku untuk membuang rasa jenuh kamu. Jangan lupa dibaca!" ucap Shofie pada muridnya itu.
Setelah berpamitan, Shofie bergegas pulang sebelum hari berganti malam. Shofie pulang memilih menggunakan jasa becak dari pada kendaraan lain. Itulah sebabnya kenapa dia tidak pernah membawa mobil atau motor ke sekolahnya.
Sepeninggal Shofie, Pak RT langsung menutup semua jendela rumah Raka. Hal ini dikarenakan, Raka tiba-tiba tertidur di sofa tak lama setelah kepergian Shofie. Tak lupa juga menghidupkan lampu di ruang keluarga.
"Kasihan sekali kamu, Raka. Hidup sebatang kara, seharusnya keluarga ayahmu datang untuk mengambilmu untuk dirawat. Hhh, mungkin ini sudah suratan takdir kamu," gumam Pak RT pelan.
Pak RT sangat kasihan melihat keadaan Raka yang seperti ini. Sejak kecil sudah terbiasa berantem dan baku hantam dengan anak-anak sebayanya, bahkan tak jarang juga dengan yang usianya lebih tua. Seperti itulah kehidupan di jalanan. Walaupun begitu, kemampuan Raka dalam bela diri pantas diacungi jempol.
Raka terbangun setengah jam setelah Pak RT meninggalkan rumah itu. Di atas karpet yang tebal, terdapat sebungkus nasi tergeletak di samping parcel buah. Buku yang tadi dibacanya sehingga membawa ke alam mimpi, kini tergeletak begitu saja di samping sofa.
Shofie sampai rumah langsung membersihkan diri. Berhubung di rumah kontrakannya sudah tidak ada kedua orang tuanya, Shofie bisa sedikit lebih leluasa. Namun, itu hanya tinggal angan-angan saja.
Tak lama setelah dia membersihkan diri, sudah ada orang datang. Mereka adalah utusan dari sang ayah, tugas mereka tidak hanya menemani serta melayani Shofie. Akan tetap, juga sebagai mata-mata Alex karena mereka harus melaporkan semua kegiatan yang dilakukan oleh Shofie.
"Dadddyyyiiiiiii ...." jerit Shofie begitu mendengar jika mereka adalah utusan dari sang ayah.
Kebebasannya benar-benar terenggut sejak kejadian di rumah Raka beberapa waktu lalu. Padahal dia sudah berulang kali menjelaskan bahwa dia dan muridnya itu tidak memiliki hubungan istimewa, seperti apa yang ayahnya pikirkan.
Hatinya masih tertutup karena luka yang pernah ditorehkan oleh sang mantan. Rasanya belum bisa percaya sepenuhnya pada laki-laki, apalagi baru kenal beberapa bulan. Walau Shofie akui, Raka berbeda jauh dengan Dito sang mantan.
__ADS_1
Shofie merasa sangat kesal, rumah kontrakannya hanya terdiri dari dua kamar tidur saja. Satu kamar sudah dia tempati, tertinggal satu kamar kosong. Kini datang dua orang utusan sang ayah, berbeda gender juga tidak pernah saling kenal sebelumnya.
"Kamar di sini tinggal satu yang kosong. Bagaimana?" ujar Shofie pada dua orang di depannya.
"Saya tidur di depan TV saja, Non. Tapi ...."
"Tapi apa, Mang?" potong Shofie cepat.
"Pakaian saya, disimpan di mana, Non?" ucap Parjo akhirnya memberanikan diri.
"Oh, kalau itu mah gampang. Kamu bisa pakai box atau lemari. Nanti ditaruh di sudut sana aja!" jawab Shofie dengan solusi.
"Baik, Non," sahut Parjo sambil menunduk.
"Kalian sudah makan malam? Kalau belum kalian bersihkan diri dulu, habis itu bergabung dengan saya di meja makan!"
Parjo dan Sumini menganggukkan kepala tanda mengiyakan. Berhubung kamar mandi di rumah itu ada dua. Mereka bisa mandi dalam waktu bersamaan di tempat yang berbeda.
Pagi harinya, Shofie sudah bersiap berangkat mengajar. Parjo sedang memanaskan mobil untuk mengantar sang nona pergi mengajar.
"Berangkat sekarang, Non?" tanya Parjo saat dilihatnya sang Nona sudah keluar rumah dengan pakaian rapi.
"Iya, Mang. Nanti antar sampai persimpangan dekat sekolah saja. Tidak usah depan sekolah," sahut Shofie sambil berjalan ke mobil.
"Baik, Non," jawab Mang Parjo.
Akhirnya, sejarah antar jemput bak anak TK kembali terulang. Shofie memaksakan turun di pertigaan yang letaknya tidak jauh dari bangunan sekolah SMA Nuswantara.
__ADS_1
Saat Shofie turun, ada salah satu muridnya yang melihat dia turun dari mobil.
"Dapat bahan gosip baru, nih!"