
Ternyata saat Raka mengungkapkan perasaannya pada guru baru itu ada yang mendengar. Itulah kenapa gosip kedekatan Raka dengan Shofie santer beredar di SMA Nuswantara itu. Namun, baik Raka maupun Shofie tidak menanggapi itu, tidak membenarkan atau menyangkal.
Alex masih terus menempatkan beberapa orang bayarannya, untuk mengawasi hartanya yang paling berharga. Dia belum rela melepaskan gadis kecilnya untuk dimiliki laki-laki lain. Cukup dirinya saja yang dicintai Shofie, jangan sampai terbagi pada laki-laki lain.
Alex sadar akan ada saatnya dia harus melepas putri semata wayangnya. Akan tetapi, dia sendiri yang akan memastikan calon suami Shofie adalah orang yang tepat.
"No, kamu nasehati tuh temanmu! Masak anaknya pacaran sama anak SMA didukung," adu Alex pada Eno sang sahabat yang kebetulan datang ke rumahnya.
"Serius, Ar? Si Shofie pacaran sama anak SMA?" tanya Eno memastikan, tetapi Ary hanya menanggapi dengan memutar bola mata saja.
"Sejarahmu terulang lagi dong, hahaha ... lucu sekali!"
"Murid sama guru dekat itu hal yang wajar dan umum terjadi, jangan terlalu didramatisasi!"
"Cowoknya tajir nggak, Lex? Dulu berondong Ary tajir melintir lho!" Eno semakin memanasi Alex. Eno tahu Alex paling tidak suka mantan suami Ary disebut.
"Tajir kalau sudah mati tidak bisa menikmati, lebih baik kek gue. Walau pun warisan orang tua tidak seberapa tapi masih bisa menikmatinya. Untuk apa bangun kerajaan bisnis kalau orang lain yang menik ...."
"No, ada yang amnesia deh kayaknya! Padahal dia juga ikut menikmati hasil kerja keras orang itu," potong Ary cepat.
Setelah Brandon dan Anggita menikah dan memutuskan menetap di Melbourne, perusaahan Ren Comp diserahkan pada Ary. Sejak saat itu wanita yang bergelar dokter spesialis penyakit dalam dan spesialis paru-paru itu berubah profesi menjadi pengusaha.
Dengan dibantu Rommy dan Yuna, Ary mengelola Ren Comp sampai menjadi perusahaan besar. Pendapatan Rent Comp setiap bulannya mencapai ratusan trilyun, jauh tinggi jika dibandingkan dengan mall dan yayasan pendidikan milik Kusuma.
__ADS_1
"Ternyata kamu lupa, kalau kamu menikahi janda kaya. Atau dalam benakmu aku ini hanyalah anak seorang pensiunan guru SD yang tidak mampu?"
Eno melihat kedua sahabatnya yang dikuasai emosi pun berusaha menengahi
"Ary, sudah!" ucap Eno sembari mengusap punggung sang sahabat.
"Dia terlalu angkuh dan sombong, No! Dia memandang semua bisa dinilai dengan harta. Selalu meremehkan dan merendahkan orang lain. Tidak sadarkah dia? Siapa yang membantu dia saat beberapa mall-nya dibakar massa? Tak ingatkah dia saat Kevin menghamburkan uang sampai dua kafenya yang di Singapura harus tutup?"
Dada Ary terasa sesak, mengingat perjuangannya tidak pernah dilihat oleh ibu mertua sampai dia meninggal. Berulang kali ibu mertuanya membawa perempuan untuk menggantikan posisinya. Berulang kali juga Ary membantu perusahaan keluarga Kusuma bangkit dari kebangkrutan. Tetapi tak sekalipun dianggap.
Kevin kini lebih memilih ikut bersama ibu kandungnya dibandingkan dia yang sudah merawat dan membiayai. Si kembar Nathan dan Nicholas saat ini masih magang sebagai coass di sebuah rumah sakit milik teman Ary.
*
*
"Lo curang 'kan, makanya kelas lo yang menang?" tuduh Zayn pada Raka.
"Curang? Di bagian mana gue curang? Bukankah tadi siapa yang cepat dan tepat menjawab akan mendapat poin, sedangkan cepat tapi salah poin dikurangi? Terus curang gue dimana?" jawab Raka dengan santainya.
"Lo minta soal-soal itu sebelum acara dimulai, bukan?"
"Hahaha ... kalian ini lucu sekali! Kalau gue dapat bocoran soal-soal tadi, sudah tentu nilai gue jauh di atas kalian. Kalian yang mencet bel duluan lalu jawaban kalian salah, nilai kalian dikurangi. Seandainya tadi kalian menjawab benar, sudah pasti gue kalah. Gue menang karena, kesalahan kalian sendiri sehingga poin berkurang banyak," jelas Raka panjang dan lebar.
__ADS_1
"Halah bacot! Beri dia pelajaran agar dia bisa tahu siapa yang dia hadapi!" teriak Zayn kesal.
Akhirnya, mereka terlibat baku hantam yang cukup sengit. Raka diserang oleh lima orang dalam waktu bersamaan. Walaupun dia jago bela diri, tetap saja dia cukup kewalahan karena kakinya kadang masih berdenyut nyeri.
Dua anggota yang dibawa Zayn dan kawan-kawan sudah terkapar, mereka tidak sanggup melawan Raka yang sudah pro gerakannya. Zayn yang tidak terima melihat temannya dikalahkan Raka, langsung mengeluarkan besi yang dibawanya. Dia sudah mengayunkan besi itu di punggung Raka, tetapi tertangkap basah oleh warga.
Mereka memegangi Zayn karena berniat memukul Raka menggunakan potongan besi beton ukuran 10 milimeter. Warga pun langsung membawa mereka ke rumah Pak Kades dan menginterogasinya.
Zayn dan kawan-kawan yang mengalami kekalahan pun memutar balikkan fakta. Namun, tanpa mereka sadari jika di tempat mereka berkelahi tadi terdapat CCTV terbaru yang bisa merekam gambar dan suara. Raka meminta Pak Kades untuk menghubungi pemilik bangunan yang memasang CCTV tersebut.
Orang tua dari anak-anak yang berkelahi tadi sudah datang memenuhi undangan Pak Kades. Hanya orang tua Raka yang tidak ada karena sudah meninggal. Sebagai gantinya, Pak RT yang menghadiri sebagai wali Raka.
Setelah semua berkumpul, rekaman CCTV pun diputar. Mereka menonton dengan tenang setiap adegan. Berawal dari Zayn dan kawan-kawan yang menghadang Raka. Rekaman berakhir dengan digelandangnya mereka ke kantor kepala desa.
Rahman Bagaskara merasa sangat malu dengan kelakuan anaknya yang selama ini dibanggakan. Seperti apa yang dikatakan Shofie tempo hari, boleh saja pemilik yayasan itu menutupi kelakuan busuk anaknya. Namun, tetap masyarakat yang akan menilai kelakuan sang anak.
Shofie yang kebetulan mengetahui hal itu hanya tersenyum sinis, mencibir kelakuan anak-anak para penguasa SMA Nuswantara. Walaupun dia dan kakak-kakaknya hidup dalam gelimang harta, tak sekalipun sang ibu mengajarinya menjadi sosok yang arogan. Ajaran baik selalu Mommy Ary berikan pada anak-anaknya.
Riki dan Pak RT meninggalkan balai desa begitu masalah telah selesai.
"Kamu kenapa tidak menghindar saja tadi? Kaki baru sembuh, eeh sekarang gantian badan dan wajah bonyok kek gini. Apa kamu tidak bisa merasakan sakit?" tanya Pak RT ketika dalam perjalanan pulang.
"Bukan tidak mau menghindar, Pak. Mereka saja yang sengaja cari masalah sama Raka. Kadang Raka berpikir apa salahku pada mereka, Pak RT," jawab Raka sendu.
__ADS_1
"Sepertinya mereka punya dendam tersendiri sama kamu. Makanya selalu saja memancing keributan. Kalau bisa sih hindari mereka saja, dari pada berujung malu," saran Pak RT.