
Seorang nelayan menemukan seorang wanita di laut lepas saat menjaring ikan. Wanita itu dalam keadaan lemas tak berdaya mengapung di atas balok kayu yang sudah mulai lapuk. Nelayan itu penasaran dengan apa yang dilihatnya dari kejauhan lalu mendekati.
Awalnya nelayan itu mengira telah menemukan mayat. Dia memanggil temannya, mereka pun berniat menguburkan mayat itu dengan layak. Namun, saat sudah diangkat dari laut dan dibaringkan di geladak kapal, dada wanita itu naik turun tanda masih bernapas.
Si nelayan langsung mengambil air dan meneteskan ke bibir sang wanita yang terlihat kering dan mengelupas. Beberapa tetes sudah membasahi bibir itu, tetapi masih belum ada respon dari wanita tersebut. Si nelayan kembali meneteskan air perlahan, dia juga mengoleskan madu miliknya ke bibir itu.
Teman si nelayan mengajak pulang saja, membawa wanita itu ke bidan. Akhirnya, mereka kembali pulang ke daratan. Membutuhkan waktu tiga jam untuk sampai ke daratan.
Para nelayan itu langsung meminta bantuan warga setempat begitu berlabuh di tepi pantai. Sang wanita langsung dibawa ke rumah bidan satu-satunya di kampung mereka. Bidan muda tersebut langsung memeriksa kondisi wanita yang ditemukan mengapung di laut lepas itu.
Sementara itu, Raka sudah diperbolehkan pulang, tetapi kakinya belum bisa dipakai untuk berjalan. Dia masih menggunakan kursi roda saat pulang dari rumah sakit. Kaki kanannya belum bisa menopang badannya.
Walau hanya kaki kiri yang patah, tetapi kaki kanannya juga tidak luput dari pukulan para preman berbalut pelajar itu. Shofie dengan sabar mengurus segala keperluan sang suami yang masih sakit. Dia dibantu oleh art mengurus rumah dan suami.
Pihak tim SAR dan maskapai penerbangan menutup kasus kecelakaan yang menimpa pesawat yang ditumpangi Ary. Hal ini dikarenakan, semua barang milik korban sudah ditemukan. Lima orang dinyatakan hilang termasuk Ary di dalamnya, sedangkan yang lain sudah ditemukan dalam keadaan sudah menjadi mayat.
Shofie merasakan badannya bagai tak bertulang, lemas tak berdaya. Anak kesayangan Ary itu begitu syok mendengar kabar sang ibu dinyatakan hilang. Diduga kelima orang yang hilang itu dimakan hiu atau binatang laut lainnya.
Bukan hanya Shofie, kedua kakak dan sang ayah pun begitu terpukul mendengar kabar ini. Namun, mereka sudah pasrah akan semuanya, apalagi sebelumnya sudah memiliki firasat akan kehilangan orang terdekat. Di antara mereka, Alex yang tampak paling kacau.
Lelaki dengan usia lebih dari lima puluh itu, seperti tidak pernah kehabisan air mata. Walau hanya setetes akan selalu keluar setiap kali melihat foto sang istri. Penyesalan dalam sedang menderanya.
"Ary, apa ini caramu menghukum aku? Kamu hukum saja aku, jangan anak-anak ikut merasakan kesedihan ini. Aku tahu aku salah, tetapi bukan seperti ini caranya menghukumku. Melihat anak-anak yang begitu kehilanganmu, membuat rasa bersalahku semakin besar."
Saat ini Alex ikut tinggal di rumah Raka, si kembar akan berkunjung jika senggang. Alex selalu melamun, kadang dia berkata dan tersenyum sendiri. Hal ini membuat Nathan dan Nicho hanya bisa mengusap dada.
Kevin yang saat itu datang bersama anak istri beserta ibunya hanya dicuekin oleh Alex. Alex lebih memilih untuk mengurung diri di kamar sambil memeluk foto sang istri. Paula dan Kevin sudah berusaha membujuk Alex tetapi tidak ditanggapi sama sekali.
__ADS_1
Tidak diterima baik oleh Alex dan anak-anaknya, Paula kembali ke Singapura bersama menantu dan cucunya. Dia akan menunggu Alex tenang agar bisa diajak berbicara tentang masa depan mereka. Sementara Kevin memilih bertahan di rumah itu.
"Raka, Daddy boleh masuk?" tanya Alex pada sang menantu yang tengah duduk bersandar di atas ranjangnya.
"Masuk saja, Dad," sahut Raka sambil meletakkan handphone-nya ke nakas.
Alex menyerahkan dua buku kecil berwarna merah dan hijau pada sang menantu.
"Maaf, Daddy menahannya terlalu lama. Karena Daddy pikir kalian belum membutuhkan buku ini," ucap Alex tidak sepenuhnya jujur.
Benar buku itu terlalu lama di tangan Alex, tetapi bukan karena alasan belum membutuhkan melainkan karena ingin memisahkan. Namun, sepertinya niat buruk Alex tidak didengar oleh Tuhan sehingga dia harus mengembalikan buku nikah itu pada pemiliknya.
"Terima kasih, Dad," jawab Raka singkat.
Alex urung untuk duduk dan mengajak ngobrol dengan sang menantu. Sepertinya Raka masih belum bisa memaafkan dirinya. Apalagi karena dia, anak dan menantunya itu menderita.
"Daddy keluar dulu. Maaf sudah mengganggu waktu istirahat kamu," ucap Alex sembari berbalik dan keluar dari kamar itu.
Raka pun tidak berani untuk menahan sang mertua. Dia hanya mengangguk saja saat mertua laki-lakinya itu pamit meninggalkan kamar.
Sementara itu Shofie mendapat panggilan kerja di sebuah SMA favorit di dekat kafe cabang dua. Setelah mengikuti serangkaian tes dan wawancara, Shofie diterima menjadi tenaga pengajar di SMA tersebut. Walaupun dia mulai kerja sebulan lagi saat tahun ajaran baru, dia sangat bahagia.
Shofie pulang dengan hati berbunga-bunga membawa kabar gembira itu. Sepanjang perjalanan pulang, senyumnya selalu mengembang. Dia sudah membayangkan tinggal di kafe cabang dua bersama sang suami sambil mengurus kafe.
Sayangnya dia harus kecewa, saat masuk ke dalam rumah, mendapati sang suami sedang tertawa lepas bersama seorang gadis cantik berpakaian seragam sekolah putih abu-abu.
Raka yang pertama kali menyadari kedatangan sang istri pun hanya bisa menggerakkan tangannya agar sang istri mendekat.
__ADS_1
"Sini, Sayang! Duduk sini dekat aku," panggil Raka saat melihat sang istri berdiri mematung di gawang pintu.
Kaki Raka belum sembuh benar, kakinya masih sakit untuk bergerak cepat. Shofie yang mengingat keadaan sang suami pun menekan emosinya, lalu berjalan mendekati suaminya.
"Sayang, kenalin ini adik kelas yang pernah aku ceritain," ucap Raka pada sang istri dengan mesra.
Raka mengalihkan pandangannya pada Andin dan memperkenalkan sang istri.
"Andin, ini istriku. Tadi kamu tidak percaya, bukan?" ucap Raka pada adik kelasnya.
Bagaikan disambar petir itulah yang dirasakan Andin saat ini. Dia tidak menyangka sama sekali jika lelaki tampan yang menjadi kakak kelasnya sudah menikah. Parahnya lagi, wanita yang menjadi pilihan sang kakak kelas lebih tua dari usia mereka.
"Oh, iya. Sayang, minta tolong bisa? Ambilkan buku nikah kita, sebagai bukti kalau aku tidak berbohong pada dia," pinta Raka dengan tatapan memuja dan penuh cinta.
Tanpa banyak kata, Shofie langsung bangkit dan berjalan menuju kamar mereka. Menyimpan tasnya lalu mengambil buku nikah dan membawanya ke ruang tamu.
"Ini!" Shofie menyodorkan buku tersebut pada Andin
*
*
*
Promo novel
__ADS_1