
Pak Chandra yang sudah tua itu mulai sakit-sakitan, meskipun begitu dia masih memerintahkan anak dan menantunya untuk mencari keberadaan Ary. Dia sangat yakin jika bekas menantunya itu masih hidup. Oleh karena itu, menyuruh sang menantu untuk melanjutkan pencarian.
Brandon dan Anggita pun menyanggupi permintaan sang ayah yang mulai sakit-sakitan. Selain karena rasa bakti pada orang tua, mereka sudah menganggap sebagai keluarga sendiri.
Brandon mengerahkan orang-orang terpercaya untuk kembali menyisir daratan sekitar lautan dimana pesawat itu tenggelam. Dia sangat yakin pasti ada daratan yang belum didatangi oleh orang-orang suruhan sang mertua.
Walau harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit, Brandon tidak mengapa. Semua ini juga uang Ary, karena dulu Ary menolak harta pemberian Pak Chandra yang sudah atas nama Rendy. Lelaki yang pernah menaruh hati pada Ary itu, merasa takjub sifat Ary yang tidak serakah. Makanya, saat ini waktu yang tepat untuk menolong Ary.
Bagi Brandon, menolong Ary sama juga menolong keluarga istrinya. Anggita begitu dekat dengan Ary, apa yang menjadi keputusan Ary akan menjadi keputusannya. Oleh karena itu, Brandon harus segera menemukan Ary agar sang istri tidak murung lagi.
Sebulan kemudian....
"Lapor Tuan, warga desa anggrek ada yang menemukan seorang wanita paruh baya di lautan lepas. Kejadian itu setahun yang lalu. Kata mereka, wanita itu seorang dokter," lapor orang kepercayaan Brandon.
"Antar saya ke sana, sekarang!"
Majikan dan pelayan itu berjalan keluar menuju mobil yang terparkir di depan lobi. Mereka langsung menuju bandara. Untuk sampai ke daerah yang tuju mereka harus naik pesawat selama satu jam, kemudian dilanjut dengan perjalanan menuju laut.
Butuh waktu dua hari agar mereka sampai di desa anggrek, dimana dugaan sementara Ary berada. Brandon sengaja tidak memberitahu istri dan keluarganya, takut salah orang.
Setelah dua puluh jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di desa anggrek. Kedatangan mereka mengundang perhatian para warga setempat. Penampilan Brandon yang rapi dan necis membuat warga berdecak kagum.
Wajah Brandon yang memiliki darah Belanda tampak sangat tampan. Banyak ibu-ibu yang mengerubunginya. Hal itu dijadikan Brandon sebagai kesempatan untuk bertanya tentang Ary.
"Saya butuh bantuan seorang dokter. Apakah dokter di sini?" tanya Brandon pada salah satu ibu muda yang mengelilinginya.
"Dokter apa, Tuan?" tanya ibu itu.
__ADS_1
"Dokter apa pun jadi, saya sangat membutuhkan pertolongannya saat ini," ucap Brandon dibuat sepanik mungkin agar warga iba melihat dia.
"Panggilkan Dokter Ayu! Tuan ini sepertinya sangat membutuhkan pertolongan."
Brandon terpaku saat mendengar nama dokter yang disebut. Dia sangat kecewa karena tidak sesuai dengan dugaannya. Suami Anggita sudah merasa sangat yakin jika dokter itu adalah Ary, ternyata bukan.
Setelah menunggu lima belas menit penuh gelisah, akhirnya dokter itu datang bersama beberapa aparat desa. Hal ini dikarenakan, mereka sedang membereskan klinik yang akan diresmikan besok.
Brandon berdiri menatap laut luas saat menunggu kedatangan dokter. Jadi, dia tidak tahu saat dokter cantik itu datang menemuinya.
"Tuan, dokter itu telah tiba," ucap orang kepercayaan Brandon.
Brandon pun menoleh, betapa terkejutnya dia. Wanita yang saat ini berdiri di hadapannya itu tampak sangat cantik. Penampilan wanita itu selalu membuatnya terpesona.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya dokter itu menampilkan senyum termanisnya.
Dokter itu mengajak Brandon ke sebuah gubuk yang tidak jauh dari pantai. Dia mempersilakan Brandon duduk, lalu berdiri membelakangi Brandon.
"Bagaimana kabar papa dan mama? Mereka pasti cemas karena aku menghilang," ucap dokter itu. Ya, dia adalah Ary, istri Alex, ibu dari Shofie dan si kembar.
"Lebih parah dari sekedar cemas. Papa sakit karena tidak kunjung menemukan kamu. Kapan kamu akan pulang? Paling tidak pulang ke rumah papa."
"Aku belum bisa pulang sebelum ada dokter yang mau ditugaskan di sini. Besok adalah acara peresmian klinik yang aku rintis. Aku harap kamu tidak keberatan untuk menyumbangkan alat-alat medis untuk klinik itu," jelas Ary dengan gamblang.
Mereka terus mengobrol tentang semuanya, tentang kesehatan Pak Chandra dan istrinya tentang usaha yang ditinggalkan Ary, serta tentang klinik yang dirintisnya di pulau kecil ini.
Setelah cukup lama berbicara, akhirnya dicapai kesepakatan. Ary tetap berada di desa kecil itu sampai ada dokter yang ditugaskan pemerintah. Brandon akan menyumbangkan beberapa peralatan medis yang canggih dan terbaru.
__ADS_1
Selain kesepakatan itu, Ary juga minta pada Brandon agar merahasiakan tempat itu dari siapa pun. Wanita paruh baya itu masih ingin menyendiri, menenangkan pikiran terlebih dahulu. Baru kemudian pulang setelah hati dan mentalnya siap menghadapi suami arogannya.
Brandon tidak bisa memaksa Ary. Wanita itu jauh lebih mengenal dirinya sendiri. Oleh karena itu, dia mengikuti saja apa yang menjadi keinginan temannya itu.
Sementara itu, di kediaman Pradipta terdengar suara orang ribut. Ternyata itu adalah suara sang perawat yang menjaga dan mengurus Alex. Alex tiba-tiba terjatuh saat latihan berjalan, sehingga si perawat pun menjerit sekuat tenaga.
Raka dan Shofie yang saat itu sedang mengadakan kunjungan pada baby girl harus terganggu. Shofie langsung memakai dasternya, sedangkan Raka lari ke kamar mandi untuk mencuci pisang jumbonya.
Shofie langsung teriak histeris saat melihat dahi sang ayah mengeluarkan darah. Wanita hamil delapan bulan itu berjalan cepat mendekati sang ayah. Akhirnya, dia dan perawat itu membawa Alex duduk ke sofa.
"Aku tidak apa-apa, jangan panik! Nanti pengaruh ke kandunganmu," ucap Alex lirih.
Perawat itu dengan cekatan membersihkan luka di dahi Alex, lalu menutupnya dengan perban setelah diberi obat. Alex diam saja saat diobati walaupun merasakan perih.
Raka datang menghampiri dengan wajah segar karena sudah mandi. Tadi awalanya hanya ingin membersihkan itunya saja tetapi memutuskan mandi sekalian begitu terkena air.
Raka menanyakan keadaan mertuanya pada sang istri. Pemuda itu tampak mengangguk setelah dijelaskan kronologi ceritanya.
"Daddy terlalu bersemangat belajar jalannya. Besok tidak usah terburu-buru, jalan pelan-pelan saja. Tidak ada yang mengejar kok," seloroh Raka cengengesan.
"Memang tidak ada yang mengejar, tetapi ada seseorang yang menuggu Daddy datang menjemputnya,'' jawab Alex dengan jelas.
Shofie dan Raka terkejut lalu keduanya saling memandang. Seolah bertanya, siapa orang itu. Namun, pasangan itu memilih bungkam, tidak berani bertanya langsung pada sang ayah.
Raka pun pamit pergi ke kafe seperti biasa. Walaupun sudah ada yang menghandle, Raka tetap datang membantu mengelola kafe di sela jadwal kuliahnya. Shofie sudah mengajukan cuti melahirkan sejak dua hari yang lalu.
"Yang, kamu tahu siapa yang sedang menunggu dijemput daddy?" tanya Raka dengan berbisik.
__ADS_1