I Love You, Ibu Guru

I Love You, Ibu Guru
Part 40


__ADS_3

"Ngapain ke kantor polisi? Kurang kerjaan aja!" sahut Shofie dengan wajah cemberut.


Raka menghela napasnya kasar, bingung bagaimana menjelaskan pada sang istri, jika mereka masih harus menghadiri undangan dari kepolisian. Keterangan saksi dan korban masih diperlukan untuk melengkapi berkas yang akan digunakan saat sidang dua hari lagi.


Walaupun semua sudah diserahkan pada pengacara, mereka masih harus menghadiri sidang untuk mendengarkan keterangan saksi dan korban. Namun, sepertinya Shofie enggan berurusan dengan pihak kepolisian lagi. Sebenarnya bukan pihak kepolisian yang membuat wanita dengan wajah mirip sang ibu itu enggan datang, melainkan malas berurusan dengan segala sesuatu yang berbau mantan.


"Kita harus ke sana, Sayang. Ada aku yang akan mendampingi dan menjaga kamu di sana. Aku pastikan kita tidak bertemu bedebah itu," bujuk Raka dengan sabar.


"Betul, ya? Kalau sampai aku melihat bayangannya, apalagi wajahnya, aku tidak akan pernah mau lagi datang. Entah itu di kantor polisi atau pun di pengadilan," ancam Shofie.


Raka sampai membulatkan matanya, seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan sang istri. Begitu bencinya dia dengan sang mantan, sampai melihat bayangannya saja tidak mau.


"Jangan terlalu benci! Jarak benci dan cinta itu terlalu tipis. Aku tidak ingin kamu jatuh cinta lagi padanya," ucap Raka posesif bermaksud memperingatkan sang istri.


"Diih!" Tanpa banyak kata, Shofie langsung meninggalkan sang suami yang masih berdiri di teras.


Sementara itu, Ary dihubungi oleh temannya saat dalam perjalanan menuju kota kelahiran. Sahabat rasa saudara itu tiba-tiba menghubungi setelah sekian lama tak ada kabar. Eno mengajak Ary untuk meet up karena kebetulan pulang ke rumah orangtuanya yang letaknya tidak jauh dari rumah orang tua Ary.


"Rumah ayah aja, di sana sepi, 'kan?"


"Kosong, bukan sepi lagi. Mbak Karin hanya sesekali saja bersihkan rumah itu," jelas Ary.


"Oleh-oleh dari Medan jangan lupa! Bawa yang banyak," sambung Ary yang disambut tawa renyah si Eno.


"Aku sudah tiga hari di rumah mama, mana ada lagi oleh-oleh dari Medan?"


"Baiklah, kita ketemu tiga jam lagi. Soalnya aku perjalanan dari Semarang," jawab Ary sebelum mengakhiri panggilan.


Tiga jam kemudian....


Ary langsung menuju makam orang tuanya. Mengirimkan do'a terbaik untuk mereka. Setelah sekitar setengah jam, Ary pulang ke rumah peninggalan orang tuanya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah itu, Mbak Karin dan Eno berserta suami sudah menunggu kedatangan Ary. Mereka tiba duluan di rumah yang penuh sejarah tersebut. Rumah yang banyak meninggalkan kenangan manis untuk Ary dan kakak-kakaknya.


"Ary! Ambung sik," teriak Eno sambil berjalan cepat mendapati Ary.


"Enoo! Haduuuhh, jangan mondar-mandir nanti jatuh," sahut Ary tak kalah heboh.


Ary dan Eno saling berpelukan kemudian saling cipika-cipiki, lalu kembali berpelukan sambil melompat-lompat.


"Perasaan mereka sudah punya cucu, kenapa tingkahnya masih ke ABG, ya?" celetuk Agam, suami Eno.


Mendengar celetukan Agam, kedua orang bersahabat itu langsung melepaskan pelukannya berubah posisi menjadi salah merangkul pinggang. Ary dan Eno berangkulan sembari berjalan menuju halaman belakang rumah.


"Ar, kira-kira kamu masih bisa manjat pohon nggak?" tanya Eno tiba-tiba saat mereka duduk di teras belakang.


"Bisa! Dicoba dulu kali, ya?"


Agam sengaja mengikuti langkah kedua wanita yang selalu bertingkah random itu. Begitu mendengar pertanyaan Eno, Agam langsung mendekati para ABG tua itu.


"Ehh, kalian itu bukan lagi ABG ya! Jangan aneh-aneh, aku tidak mau dituntut suami kamu itu," teriak Agam tidak ingin terjadi sesuatu pada para wanita yang pernah singgah di hatinya.


"Kalau Ary tidak boleh manjat. Mas Agam saja yang naik, ambilkan jambu air itu," perintah Eno pada sang suami.


Mendengar keributan di belakang, Mbak Karin pun mendatangi mereka seraya membawa satu nampan berisi lima gelas es teh dan kue kering.


"Kenapa ribut sekali? Suaranya sampai ke depan," tanya Mbak Karin penasaran.


Mbak Karin meletakkan nampan itu di meja, lalu bergabung dengan adiknya di bawah pohon jambu air yang buahnya sangat lebat.


"Ini si Eno nyuruh si Ary manjat pohon jambu. Aku larang malah gantian aku yang disuruh manjat," jawab Agam mewakili Ary dan Eno.


"Kenapa harus manjat? Itu ada galah. Kalau nggak mau terjatuh jambunya, manjat pakai tangga saja," tanya Mbak Karin, lalu menunjukkan tempat galah dan tangga yang biasa digunakan untuk memanen jambu dan mangga.

__ADS_1


Setelah puas menikmati jambu air dan belimbing bintang, Ary dan Eno pamit pada Mbak Karin. Ary menawarkan Eno dan Agam untuk main ke rumahnya yang ada di Kaliurang.


"Kamu tinggal di Kaliurang? Bukannya Alex tidak mau memakai semua barang peninggalan almarhum Rendy?" cecar Eno pada Ary.


Setahu Eno, dulu Alex sangat cemburu dengan almarhum Rendy. Semua yang berhubungan dengan Rendy tidak boleh digunakan oleh Ary.


"Kalian datang saja kalau mau tahu kenapa aku pulang ke rumah itu lagi. Lagian kalian bisa berlibur di sana. Nanti kita jalan-jalan ke tempat wisata di daerah sana," bujuk Ary agar Eno mau datang lagi ke rumah itu.


Eno adalah saksi hidup bagaimana kisah cinta Ary sejak SMA. Asam manisnya hidup Ary sebagai seorang dokter dan menjadi janda ting-ting selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, dia merasa heran kenapa tiba-tiba pisah rumah?


"Mas, kita ke rumah Ary, yuk! Rumahnya dingin banget soalnya dekat ke gunung Merapi. Ikut, yuk!" rengek Eno meminta pada sang suami.


Agam terdiam sejenak, memikirkan keinginan sang istri. Dia juga mengingat sang ibu mertua yang usianya belum genap delapan puluh tahun.


"Mama bagaimana?" bisik Agam, akhirnya.


"Lina pulang cepat hari ini, makanya aku ajak kamu ke sini. Mama ditemani Lina, tadi aku sudah bilang mau ke rumah Ary," jelas Eno.


Akhirnya, Agam menyetujui permintaan sang istri. Mereka pulang sebentar ke rumah orang tua Eno untuk mengambil pakaian serta pamitan. Setelah itu, menyusul Ary yang terlebih dahulu berangkat.


Kita tinggalkan sejenak cerita para orang dewasa.


Shofie tampak bersungut-sungut sambil berjalan keluar dari kantor polisi. Moodnya benar-benar ambyar saat tidak sengaja melihat laki-laki yang berniat melecehkannya itu.


"Dasar pembohong! Katanya si bren**ek itu nggak bakalan muncul di hadapan kita, tapi apa? Dia malah peluk aku!" teriak Shofie kesal.


*


*


*

__ADS_1


Mampir yuk ke sini 👇👇👇



__ADS_2