
Shofie ditahan oleh Alex, dia tidak diijinkan untuk kembali ke kota Semarang. Raka sendiri yang kembali ke kota tersebut seorang diri, pada hari itu juga.
Lebih baik berpisah sementara dari pada tidak mendapatkan restu dari orang tua. Mereka masih bisa bertukar kabar melalui ponsel, jaman sekarang sudah canggih jadi bisa berbagi informasi.
Raka tiba di rumah tengah malam, hal ini dikarenakan dia berangkat setelah makan malam. Selama dalam perjalanan, Raka melamun memikirkan usaha apa yang cocok untuknya. Tiga bulan terlalu singkat untuk dirinya memulai usaha.
Setelah berpikir sepanjang perjalanan, Raka memutuskan untuk bertanya pada Pak RT. Usaha apa yang sebaiknya dijalankan nanti?
Di pasar itu sudah terlalu banyak toko kelontong, mana mungkin dia mampu bersaing dengan mereka yang memiliki modal besar. Kafe dan rumah makan juga banyak di sekitar daerah itu.
Lelah dalam perjalanan, juga lelah berpikir membuat Raka tertidur begitu saja di ruang tamu. Dia terbangun saat terdengar suara ayam berkokok di teras rumah.
Raka meregangkan otot-otot tubuhnya lalu duduk bersandar pada sandaran sofa. Mengecek ponselnya, ternyata sudah jam lima subuh. Ini berarti dia sudah tidur selama empat jam.
Seperti biasa, pemuda itu bergegas mandi dan melakukan aktifitas seperti biasanya. Membuat kopi susu sachet-an dan mengolesi roti dengan selai coklat. Raka kembali ke ruang tamu dan menikmati sarapan sederhananya di sana.
Setengah jam kemudian, dia berangkat ke pasar untuk bekerja seperti biasa. Menjadi kuli panggul, siapa saja yang membutuhkan tenaganya.
"Raka! Lo kemarin kemana, kok tidak kelihatan? Libur weekend ramai, malah ngilang. Sudah banyak duit Lo?" cecar Fathur kesal.
Kesal karena kesempatan Raka untuk menabung hilang. Pemuda itu menghilang begitu saja setelah pulang dari dealer bersama Pak RT.
"Kemarin gue ada urusan penting, bukan sudah banyak duit. Duit itu sebanyak apa pun tetap aja kurang. Jadi, lebih baik disyukuri apa pun yang sudah menjadi milik kita." Raka tetap melanjutkan langkah kakinya menuju kios langganan.
Sebenarnya dia ingin terbuka dengan teman-temannya, akan tetapi sepertinya mereka tidak bisa untuk memberikan solusi yang cemerlang.
"Yaa, malah ceramah. Ditanya Lo kemarin kemana, jawabannya apa? Nggak nyambung!" celetuk Anto kesal.
__ADS_1
"Gue kemarin ada perlu di luar kota, makanya gue nggak kerja. Ada urusan penting dan mendadak. Mau tidak mau harus pergi karena ini tentang masa depan gue," jelas Raka tidak sepenuhnya jujur.
"Masalah kuliah?"
"Bisa dibilang begitulah," bohong Raka.
"Memang Lo mau kuliah dimana?" tanya Fathur penasaran.
"Di Jogja keknya, tapi kalau diterimanya di Unnes atau Undip ya tetap di sini aja. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Yang penting ada rencana dan berusaha mewujudkannya," jawab Raka dengan tenang.
"Kerja woiy!" teriak salah satu kuli panggul yang berusia sekitar 45 tahun, Maman.
"Iya, Lek!" sahut Raka sambil berdiri, lalu berjalan menghampiri paman itu.
Raka pun mulai bekerja mengangkat barang-barang. Kadang membongkar barang, kadang juga memuat barang. Di antara mereka, Raka-lah yang paling bersemangat bekerja.
"Iya, tuh Lek! Raka hari ini semangat ...."
"Kemarin sudah libur, Tur. Lagian masa depan gue butuh duit banyak. Mumpung gue masih kuat kerja, jadi harus semangat menjemput rejeki," potong Raka cepat dengan napas memburu karena capek.
"Napas Lo aja udah kek gitu, masih dipaksa kerja. Putus napas Lo lama-lama!"
"Do'a Lo jelek banget, To!" sahut Raka kesal.
"Bukan do'a, hanya sebatas mengingatkan. Kalau badan sudah lelah ya, istirahat. Jangan napas sudah ngos-ngosan kek habis dikejar anying, masih dipaksa kerja! Nggak ada syukur-syukurnya Lo!" sanggah Anto kesal.
"Sudah! Malah ribut sendiri-sendiri. Ada waktu istirahat sebentar itu digunakan sebaik mungkin. Jangan membuang tenaga hanya untuk bertengkar dengan teman," lerai Lek Maman.
__ADS_1
Sore hari usai bekerja, Raka singgah ke rumah pak RT untuk berdiskusi tentang masalah yang dihadapinya. Selama hanya kepada Pak RT dia sering bercerita tentang masalahnya. Hari ini, Raka singgah untuk meminta pendapat Pak RT tentang bisnis yang akan digeluti.
Malam hari, Raka baru pulang dari rumah Pak RT. Mereka tadi baru membahas usaha apa saja yang sedang trend saat ini dan memberikan peluang besar. PR Raka adalah memantapkan hati usaha mana yang akan dipilih.
Pak RT hanya memberikan gambaran dan masukan saja, keputusan tetap di tangan Raka. Usaha ini yang akan membawa Raka menggapai cita-cita dan cintanya. Walau pun nanti dia harus bekerja dan berusaha lebih ekstra.
Raka mencoba mengadukan nasibnya pada Sang Pencipta, dia juga memohon petunjuk, dalam memutuskan usaha mana yang pantas dan tepat untuk dirinya.
Raka bisa tertidur setelah mengadukan nasibnya dan curhat pada Sang Khalik. Pemuda itu bangun kesiangan karena dia bisa tidur saat jam menunjukkan pukul enam pagi.
Hari ini adalah hari pertama ujian semester ganjil. Tubuh yang lelah serta pikiran yang kacau akhir-akhir ini, membuat Raka langsung ***** (nempel molor). Akhirnya Raka pun terlambat mengikuti ujian.
Jika terlambat, biasanya laki-laki yang selalu mencari tumpangan agar cepat sampai di sekolah mereka. Akan tetapi, berhubung dia sudah memiliki kendaraan sendiri, Raka menggeber motor maticnya dengan kecepatan penuh.
Untung saja, sesaat setelah Raka memasuki gerbang sekolah, bel tanda masuk berbunyi. Raka langsung memarkirkan motornya dan bergegas menuju kelas agar tidak terlambat mengikuti ujian.
Raka mengerjakan ujian dengan semangat membara, semua pelajaran yang diberikan oleh guru mudah diserapnya. Soal demi soal dikerjakan dengan teliti untuk meminimalisir kesalahan dalam menjawab soal. Menit demi menit dilalui dalam keheningan, semua murid fokus pada lembar soal di hadapannya.
Tepat jam dua belas siang, suara bel berbunyi tanda waktu ujian hari ini telah habis. Raka bergegas keluar dan berlari ke kamar mandi karena sudah tidak tahan lagi menahan sesaknya panggilan alam.
Konsentrasi Raka pecah karena tiba-tiba saja perutnya melilit. Jika ditinggal ke kamar mandi, dia takut waktu mengerjakan soal habis begitu saja. Jadi, dia mengerjakan soal sambil menahan sakit perutnya.
Raka pasrah saja, jika nanti nilai ujian pada mata pelajaran tadi tidak memuaskan. Bagi dia, yang penting sudah berusaha. Hasil akhir serahkan saja pada nasib.
Setelah menuntaskan hajatnya, Raka sengaja melewati ruang guru ketika berjalan menuju area parkir. Entah kenapa tiba-tiba saja dia melangkahkan kakinya melewati lorong itu, padahal memakan waktu lebih lama karena memutar jalan.
Sambil bersiul, mata Raka mengawasi tempat yang sudah mulai sepi itu. Saat tiba di depan ruang guru, langkah kakinya terhenti dan tatapan matanya terpaku pada satu titik.
__ADS_1