
hari mulai malam. braga dan dara memutuskan untuk kembali kerumah karena dara merasa tak enak badan.
sesampainya dirumah, dara dan braga disambut oleh suara tangis ameera. braga menghentikan langkahnya memandangi pintu kamar hana yang tertutup rapat. dara melihat kekhawatiran di mata braga.
" mas,
" iya, " braga menoleh ke dara.
" kamu mau liat ameera?
" bolehkah?
" tentu saja. dia kan putrimu mas, ujar dara.
braga mengangguk lega. " baiklah, setelah ameera tenang, aku akan segera menyusul mu.
" baik mas.
braga langsung menuju kamar hana. masuk dan langsung menutup rapat pintunya. dara sedikit terkejut melihat pintu yang ditutup rapat oleh braga.
" kenapa kamu menutup pintunya mas? tadi, saat ameera menangis, hana sengaja membuka pintunya lebar. dan kau malah menutup rapat pintu itu saat kau masuk.
gumam dara dalam hati.
dara terus memandangi pintu yang tengah tertutup rapat. terdengar suara ameera yang masih menangis. dara memutuskan untuk pergi menuju kamarnya.
dara meletakkan tas nya di meja rias, tak sengaja dara memandang tubuhnya di kaca. memutar tubuhnya ke kanan lalu ke kiri.
" aku memang lebih gemuk sekarang ini. huh!! perut rata ku ini juga terlihat menggemuk. ah, biarkan saja. terlalu sulit untuk mengontrol makan ku akhir akhir ini. " ucap dara.
tok....tok....
suara ketukan pintu,
" masuk, " jawab dara yang baru tersadar dari lamunannya.
pintu terbuka. kepala maria masuk terlebih dahulu. matanya menyipit menelusuri semua sudut ruangan. seperti mencari seseorang.
" maria, masuk lah, kenapa masih disitu?
" apa ada mas braga?
" tidak ada.
" baiklah. " maria masuk dan langsung duduk dipinggiran tempat tidur.
dara mendekati maria dan duduk tepat disamping maria.
" ada apa maria? ini kali pertama kau masuk ke kamar ini selama aku menjadi istri mas braga.
" ah, ada yang ingin aku tanyakan kak,
" tentang apa?
" apa kak dara besok ada waktu?
dara terkekeh." aku selalu menghabiskan waktuku dikamar ini. kau lihat sendiri kan? aku ini jarang sekali keluar rumah.
maria mengangguk. " baiklah. apa kakak mau pergi menemaniku besok?
" kemana?
" aku ingin menemui sahabatku kak. tapi aku tidak ingin pergi sendiri. lagi pula kakak tidak ada acara apapun kan?
" baiklah, tidak masalah.
__ADS_1
" benarkah?
dara mengangguk.
" wuah,.. kau ini benar benar kakak ipar ku yang baik hati. tempat dan waktunya akan ku beri tahu melalui pesan ya kak. ah,, jangan! kita berangkat bersama saja.
" iya. jawab dara.
" mas braga kemana kak?
" ada di kamar hana, sedang,-
" sedang apa? tanya maria. memotong ucapan dara.
dara menghembuskan nafas dengan cepat.
" tadi saat aku dan mas braga pulang, ameera sedang menangis. dia membantu hana menenangkan ameera.
" benarkah? saat aku berjalan kesini, aku tidak mendengar suara ameera.
" mungkin baru tenang ameera saat mas braga datang. dia pasti merindukan papanya. ucap dara.
" huh! laki laki itu, tidak mempunyai prinsip apapun sekarang.
dara hanya tersenyum tipis. tidak ingin memperluas topik yang sedang maria bicarakan.
tak mendapatkan respon dari dara, maria memutuskan untuk kembali kamarnya.
dara masih termangu dengan lamunannya.
" kenapa dia menutup pintu? kenapa dia tidak juga kembali? apa yang sedang kamu lakukan mas? apa di hatimu bukan hanya aku seorang? apakah hatimu sudah mulai luluh olehnya? apakah aku akan kehilangan tempatku di hatimu? apakah, kau sudah tidak lagi bisa menerima kekuranganku? aku harus apa? aku harus bagaimana?
jutaan pertanyaan menghujam hatinya. semakin dia bertanya tanya tentang apa yang sedang dilakukan braga, hatinya justru terasa sakit. dada nya menjadi sesak.
dara memukul pelan dadanya. Manarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
setelah gelasnya terisi dara berniat kembali ke kamar. langkahnya terhenti seketika saat melihat hana berdiri tepat dihadapannya.
dara melihat penampilan hana. entah mengapa hatinya berkecamuk rasanya. pakaian yang dikenakan hana begitu transparan dan seksi.
" minggir lah. jangan menghalangi jalan ku. " ucap dara.
" aku tidak menghalangi jalan mu. hanya kebetulan saja posisi berdiri ku disini.
ucap hana dengan tersenyum licik.
" kalau begitu minggir. aku mau lewat.
hana terkekeh. dara menatap tajam hana. mencoba mengartikan arti kekehan yang hana lakukan.
" kenapa tadi kau memandangi penampilan ku? kau iri dengan piama tidur ku?
atau kau iri, karena mas braga tidur bersama ku?
dara membalas senyum licik hana.
" aku hanya heran melihat baju mu. tidak kah kau merasa murahan?
" apa maksut mu?!
tanya hana dengan nada marah.
" kau sedang berusaha menggoda suamiku?
kau tidak malu karena terus berusaha menggoda suamiku? kau bahkan rela menggunakan pakaian yang transparan untuk suamiku.
__ADS_1
hana tersenyum. " mas braga menyuruhku memakai ini.
" benarkah? " dara tertawa.
" kau tahu? suamiku selalu tergoda olehku tanpa aku harus menggunakan baju seperti yang kau gunakan.
hana tertawa lirih. " apa kau sudah lupa? aku dan suamimu itu, sudah memiliki anak.
" tentu saja aku ingat. aku tidak akan melupakan semua ini hingga ajal menjemput ku.
" baguslah. berarti kau tahu kan? aku sudah beberapa kali tidur dengan suamimu. jadi jangan terlalu tenang.
dara menyunggingkan senyum.
" kau membuatku penasaran. bagai mana mungkin, mas braga mau tidur denganmu. apa kau berpenampilan sepertiku? apa kau berpura pura menjadi aku saat itu?
wajah hana sedikit berubah.
" jangan asal menebak!
" hai hai hai !!!!
sepertinya seru sekali perdebatan ini. apa aku boleh ikut? " saut maria yang muncul tiba tiba entah dari mana.
hana membalikan tubuhnya hendak masuk kembali kekamar. dengan cepat maria mencegahnya dengan menghadang jalan hana.
" kenapa kau mau pergi? aku kira kau kedapur ingin mengambil sesuatu. kau hanya ingin memamerkan piama mu ini kepada kak dara?
hana hanya terdiam tak ingin meladeni maria. mama selalu mengingatkan hana untuk menghindari percakapan dengan maria.
" hei, jangan diam saja. ayo jawab aku.
" maaf maria, aku harus segera kembali. ameera bisa saja sudah bangun. biarkan aku lewat.
" tidak! tidak. tidak...
apa aku boleh memberimu saran?
" katakan. " jawab hana tanpa menatap maria.
" kau jangan lagi menggunakan piama seperti ini.
" apa yang salah dengan piama ini? " protes hana.
maria menggeleng keheranan.
" piama ini sangat bagus. sungguh aku tidak berbohong. hanya saja,..
" apa?
" bentuk payudara mu sudah melorot. itu terlihat jelas sekali.
hana membulatkan mata terkejut. dara ternganga tidak percaya maria mengatakan hal itu. dara menutup mulut dengan jemarinya.
" maafkan aku. aku hanya mengatakan apa yang aku lihat. bahkan, payudara mu terlihat tidak seimbang besarnya. "
maria menepuk pundak hana. berpura pura meminta hana bersabar.
" dan satu lagi, "
hana sudah mengepalkan tangannya. matanya sudah mulai berair. maria mendekatkan bibirnya ditelinga hana.
" aku bisa melihat bagian pangkal paha mu itu berwarna gelap.
ucap maria. sudah begitu dekat dengan telinga hana, tapi mengatakannya dengan nada yang tinggi.
__ADS_1
..................