Ibu Dari Anak Suamiku

Ibu Dari Anak Suamiku
Apartemen


__ADS_3

Hari berjalan seperti biasanya baik Dara dan Braga. mereka melakukan kegiatan keseharian mereka. hanya saja, peraasaan bahagia kini tengah menggelayuti hati sepasang Suami Istri yang baru bersatu kembali.


"Dara.....!


"Iya" Dara mondar mandir dari ruangannya menuju ruangan Erick. entah sudah berapa banyak kaki Dara berjalan hari ini.


"Tolong bantu aku periksa dokumen ini." Erick menyodorkan beberapa lembar dari mejanya.


Dengan cepat Dara meraih dokumen itu dan hendak menuju keluar. berniat akan memeriksanya di ruangan pribadinya.


"Tunggu!." baru beberapa langkah dara berjalan. berhenti dan menghadap Erick penuh kesopanan.


"Ada apa dengan pria ini? seharian ini membuatku sibuk. kakiku benar benar seperti akan patah. dan wajahnya menakutkan sepanjang hari. huh! tidak tahu apa yang dia pikirkan." gumam Dara dalam hati.


"Iya Tuan. eh, maksut saya, Erick.


"Jangan salah sebut lagi! atau aku akan marah.


"Dari tadi kau memang sudah marah-marah kan?" batin Dara.


"baik.


"Duduk lah di dekatku. kalau kau pergi ke ruangan mu, aku juga akan kesulitan jika ada yang membuat ku bingung.


"Baik." tak ada lagi kata-kata yang bisa melawan pria yang sedang marah ini. entah apa alasannya dia begitu marah hari ini.


Waktu berlalu. saatnya untuk pulang. Dara mengangkat tinggi salah satu tangannya. tangan satunya menekuk memegang lengannya. menggoyangkan ke kanan dan ke kiri.


"Uh,!! lelah sekali hari ini."Dara melihat jam yang berada dipergelangan tangannya.


"ya ampun, ini sudah pukul tujuh? huh,....! untung anak-anak ikut pergi bersama ayah dan Ibu. mereka tidak bisa memarahiku karena pulang malam. dan Rian, dia pasti menginap dirumah temannya." Dara mendesah sebal. membayangkan akan tonggal dirumah sendirian.


"Dara,..." panggil Erick yang sedari tadi memperhatikan Dara yang terlihat begitu lelah.


"Iya. ada apa? Erick kamu belum pulang?" tanya Dara dengan wajah lelahnya.


"Tentu saja belum. ayo kita pulang bersama. aku akan mengantar mu pulang." mencari kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Dara.


"Itu, tidak perlu. rumah ku dan rumah mu berbeda arah. akan sangat merepotkan nantinya. ini sudah malam juga. nanti,..


"Sudahlah, ayo." Erick menarik tangan Dara agar mengikuti langkahnya.


Didalam perjalanan. Erick mencoba trik yang biasa orang lain lakukan.


"Dara, apa kau merasa lapar? aku sangat lapar. bagaimana kalau kita makan malam dulu? " wajahnya sungguh terlihat mengharapkan jawaban yang tidak akan mengecewakan.


"Aku,.


Satu pesan masuk di ponsel Dara.


"sudah pulang? aku akan pulang ke apartemen. dimana kamu sekarang?

__ADS_1


"Erick,. bisakah kita tunda makan malam nya? sepertinya anak-anak ku sudah menunggu." berharap Erick mempercayai alasan yang dibuat Dara. karena hanya itu kan yang masuk akal.


"Benarkah? apakah aku boleh pergi kerumah mu? aku berharap akan mendapatkan sepiring makan malam." cara lain untuk mendekatkan diri dengan keluarga Dara.


"Apa?! ma, maaf Erick. Ibu dan Ayahku pasti akan sangat canggung. kau adalah Bos ku. rasanya akan sangat aneh. lain waktu aku akan mengundangmu ke rumah ku bagaimana?" meyakinkan dengan wajah yang merasa bersalah. semoga berhasil. batinnya.


Erick mendesah sebal.


"baiklah. kau sudah janji akan mengundangku. jangan sampai mengingkari janji mu." menegaskan.


"Baik." Dara tersenyum menatap Erick.


"Sial! baiklah. ini adalah cara murahan yang tidak perlu aku pakai lagi. aku harus mencari cara yang lebih ampuh.


Sesampainya didepan rumah Dara. sebuah mobil terparkir. mobil yang tak asing lagi bagi Dara.


"dia ada disini?


Dara mendekati mobil itu dan hendak melihat apakah ada orang atau tidak.


Jendela kaca mobil tiba tiba terbuka. Dara membulatkan mata terkejut.


"Mas Braga?


Wajah mereka saling berhadapan. Braga keluar dari mobil dan menyuruh Dara untuk masuk.Braga terus menyipitkan mata seperti tatapan menyelidik.


"tadi itu siapa?


"Erick. dia Bos ku." tidak berani menatap Braga. menyadari, jika di antar pulang oleh laki-laki lain, adalah hal yang salah.


"Iya.


Braga menghela nafas.


"Tidak bisakah jangan bekerja? aku masih mampu membiayai hidup mu dan anak-anak kita. bahkan, jika kau ingin berkeliling dunia pun aku mampu."mengepalkan tangan kanan yang kini berada di depan dagunya.


"Ada pinalti. satu setengah milyar Mas." semakin merasa bersalah.


"Jumlah itu tidak ada artinya bagiku. aku akan membayarnya besok. fokuslah denganku dan anak-anak.


Dara memeluk lengan Braga. menyenderkan kepalanya di bahu Braga. meraih jemari Braga dan mengaitkan jemarinya agar saling menggenggam.


"Mas, sebenarnya, bukan masalah uang itu. aku hanya merasa prihatin atas dirinya." Dara menceritakan apa yang terjadi tentang Erick. sesuai yang dia dengar dari Pingkan.


Braga menghela nafas kasarnya.


"kau bisa berjanji?


"Apa?


"Bisakah jangan membuatku salah paham dengan hubungan kalian?

__ADS_1


"Baiklah. aku berjanji. tidak akan ada hal lain selain pekerjaan.


Braga mengubah posisi lengannya. sekarang memeluk Dara penuh kasih sayang.


"baiklah. kita pulang sekarang.


Dara mengerutkan dahinya bingung.


"kenapa harus kesana?


"Anak-anak pergi. tidak ada orang dirumah Ibu mu. lebih baik ke apartemen kan?" menyeringai jahat.


"Kamu sedang berpikir mesum ya Mas?" curiga melihat tatapan nakal Braga.


"Kita buat adik untuk anak-anak. bagaimana?


Dara mendesah sebal.


"nama anak kembar kita saja kamu belum tahu. kamu sudah mau buat adik untuk mereka.


"Iya. tapi ini salah Ayah dan Ibu. kenapa mengajak mereka pergi mendadak begitu." Braga mendengus kesal.


"Ah,.. sudah lah. aku seperti sedang berbicara dengan anak lelaki ku.


Sesampainya di Apartemen. Dara terbangun dari tidurnya karena mendengar getar ponsel Braga. Dara melihat layar ponselnya.


"siapa ini? tidak ada namanya. kenapa malam-malam begini telepon? "tanya Dara dalam hati.


Dara mengangkat teleponnya. matanya membulat karena terkejut. sontak menjauhkan ponselnya dan membangunkan Braga.


"Mas,...Mas,...Mas bangun! " setengah berbisik.


"Hem,..ada apa? apa kamu mau mengajakku bercinta selarut ini? kalau be,.." Dara membungkam mulut Braga. lalu menekan tombol untuk pengeras suara pada ponselnya.


'hallo mas. kamu dengar aku bicara?


Braga mengerutkan dahi. bingung. untuk apa Hana telepon larut malam begini. batinnya.


'Ada apa?


'Mas kamu sudah tiga hari tidak pulang kerumah. semua mengkhawatirkan mu Mas. kamu ada dimana? kamu tidur dimana? aku dengar tadi kau berbicara. apa kah itu untukku?


'bicaramu terlalu banyak. apa kau sadar?


'Mas, aku, aku merindukanmu. apa kita tidak bisa menikah saja? aku janji akan menjadi istri yang baik. lagi pula, Dara sudah lama pergi.dia tidak akan kembali lagi.


'kau sudah tidak waras kah*?


Dara menghela nafas. wajahnya semakin terlihat sebal. tiba-tiba sebuah ide gila muncul dikepala nya. Dara meraih dagu Braga dan mulai mencium bibirnya. Hana tanpa sadar terus berbicara sendiri. Braga sudah tidak memperdulikan ponselnya lagi hingga lupa mengakhiri panggilan teleponnya. dengan sengaja, Dara mengeraskan suara desahannya berkali kali.


'Mas! apa yang sedang kau lakukan? Mas Braga jawab aku!

__ADS_1


Tak lama panggilan itu diakhiri oleh Hana.


.....................


__ADS_2