
Selli berdiri tegak. Membeku mendengar ucapan Hana. Kejutan apa yang akan ia terima. Sesekali menarik nafas dan mencoba menenangkan pikirannya.
"Kau terlihat buru-buru sekali? adakah yang membuat mu gelisah? " Tanya Hana sembari berjalan mendekati Selli.
"Aku tidak mengerti maksut dari ucapan mu itu. Aku hanya merasa tidak enak badan. " Jawab Selli sembari mengusap tengkuknya.
"Benarkah? tapi yang terlihat, hatimu yang sedang tidak enak. " Ujar Hana sembari tersenyum garang.
"Kalau begitu, aku akan segera kembali. Aku hanya ingin mengambil obat ku. " Jawab Selli yang terlihat gugup.
"Jangan berpura-pura lagi. Diluar sudah ada polisi yang siap mengantarmu. Kau mau berangkat sekarang? " Hana melipat kedua tangannya dan meletakkan ke dada.
"A...apa maksut mu? " Selli kehilangan fokus. Terlihat sangat jelas dimatanya.
"Sial. bagaimana ini? wanita bodoh ini tidak memiliki bukti kan? tapi dia sangat percaya diri. Hem .. dia hanya menggertak ku untuk membuatku mengaku." Batin Selli sembari tersenyum berani.
Hana berdecih tak percaya melihat wajah Selli yang begitu berani.
"Kenapa kau tersenyum begitu? apa arti senyummu itu?" Tanya Hana yang terlihat sebal.
"Aku bertanya-tanya pada diriku. Apa yang kamu bicarakan wanita bodoh?" Ledek Selli dengan wajah menantang.
"Benarkah? wajahku memang terlihat bodoh. Tapi tidak dengan isi kepalaku." Timpal Hana menyeringai jahat.
"Cih! dia benar-benar menguji kesabaran ku ya? untunglah, semua bukti sudah lenyap." Batin Selli.
"Kau bodoh! makanya kau masih tidak dianggap oleh Mas Braga.
"Hahahaha...... Iya aku bodoh. Sekarang, terimalah kejutan dari orang bodoh ini." Hana menjentikkan jarinya. Masuklah dua orang yang kini terikat kedua tanganya. Dua orang lagi berjalan dibelakangnya sembari mencengkram tubuhnya agar tak bisa meloloskan diri.
Hana terkejut. Terperangah tak percaya.
"Itu bagaimana mungkin? Wanita bodoh ini bagaimana dia bisa melakukan ini?" Tanya Selli dalam Hati.
"Apa kau mengenal mereka Selli?" Tanya Hana yang terus saja menyeringai jahat.
"Ma,..Mana mungkin. Aku tidak mengenal mereka." Jawab Selli gelagapan. Memikirkan cara untuk lari adalah pilihan yang terbaik.
"Katakan apa yang kalian ketahui!" Perintah Hana sembari menatap kedua pria itu dengan tatapan mengancam.
__ADS_1
"Baik. Nona Selli membayar kami untuk memperkosa Nyonya Dara." Ucap salah satu pria itu.
"Lalu? apa lagi?" Tanya Selli tegas.
"Dia,...dia juga menyuruh kami melenyapkan Nyonya Dara." Ucap pria itu sembari tertunduk malu juga ketakutan.
"Apa?!" Braga bangkit dari posisinya. Menghampiri kedua pria itu dan langsung melayangkan pukulannya.
Terdengar suara rintihan dan mohon ampun dari kedua pria itu. Semua orang terkejut mengetahui kebenaran ini. Braga mengalihkan pandangannya ke arah Selli.
"Kau! aku akan mencekik mu sampai mati." Braga berjalan dengan cepat menghampiri Selli. Mencengkram leher Selli dengan kuat. Semakin lama, tekanannya juga bertambah. Braga terus menekan dan menatap Selli penuh amarah.
"Mas hentikan!" Ucap Maria sembari menarik tangan Braga agar terlepas. Selli sudah mulai kehabisan nafas.
'Hentikan Braga.
'Hentikan. Kau bisa masuk penjara karena ini.
'Hentikan.
Cegah para keluarga yang melihat Braga seperti tidak main-main ingin membunuh seseorang.
"Mas, berhenti!!.... Aku tidak mau melahirkan tanpa adanya kamu disisi ku!!." Mendengar Ucapan Dara, Braga seketika menghentikan kegiatannya. Menatap Dara sendu. Mendorong tubuh Selli agar menjauh darinya.
"Jadi bayi kita baik-baik saja?" Tanya Braga sembari terus menatap Dara.
"Iya. Dia baik-baik saja sekarang. Aku sempat koma beberapa bulan. Tapi bayi kita sangat kuat. Jadi aku memutuskan untuk tetap hidup agar bisa melahirkan bayi kita." Ucap Dara tersenyum tanpa beban.
"Koma? kau bahkan mengalami itu?" Braga semakin tak bisa mengontrol air matanya.
"Tunggu. Aku harus mempersilahkan orang lain untuk masuk dan menjemput wanita ini. Maaf aku menyela. Aku takut dia kabur." Hana menyela pembicaraan Dara dan Braga. Dara tersenyum dan mengangguk.
Polisi masuk kedalam dan langsung membekuk Selli. Terdengar Selli terus memberontak dan berkata bahwa ia tidak bersalah. Hana menyerahkan amplop coklat berukuran besar berisi semua bukti kejahatan Selli dimasa lalu.
"Mommy, kami akan punya adik?" Tanya Jean yang terlihat bahagia. Begitu dengan Jojo.
"Iya. Dokter bilang, adik laki-laki ini akan lahir beberapa bulan lagi." Jawab Dara tersenyum sembari memeluk kedua anaknya.
"Jadi kita akan punya bayi? Wuah... kedengarannya sangat bagus ya." Ujar Jean.
__ADS_1
Braga berjalan mendekati Dara. Berlutut dan menyentuh perut Dara perlahan. Ada tendangan kecil yang terasa ditangan Braga. Terkejut juga bahagia. Ini adalah kali pertama Braga merasakan tendangan dari anaknya saat didalam perut.
"Dia, dia barusan menendang." Ucap Braga yang terlihat sangat senang.
"Dia senang karena kau menyentuhnya." Jawab Dara sembari mengelus kepala Braga.
"Baiklah. Baiklah. Kalian lanjutkan saja dirumah. Ini terlalu manis. Kasihanilah aku yang sudah lama tidak bermesraan." Gumam Hana sembari melirik Dara dan Braga.
Semua terkekeh mendengar gumaman Hana.
Beberapa jam kemudian, Braga, Dara dan seluruh anggota keluarga memutuskan untuk kembali kerumah orang tua Braga. Tak terkecuali orang tua Dara.
Sesampainya disana, Braga mulai bertanya apa yang sebenarnya terjadi selama ini dengan Dara.
"Hana, jadi kau yang selama ini membantu Dara?" Tanya Braga sembari terus mengelus perut Dara.
"Iya bisa jadi begitu." Jawab Hana sembari tersenyum.
"Lalu, laki-laki itu siapa?" Tanya Braga sembari menatap laki-laki yang kini berada disamping Hana.
"Anu,.. Ini adalah mantan suaminya Selli." Jawab Hana sembari menggaruk tengkuknya.
"Dia mantan suami Selli. Sebentar lagi menjadi suaminya Hana." Timpa Dara sembari tersenyum meledek.
Hana dan pria itu hanya tersenyum sembari saling menatap.
"Baguslah. Aku akan mensponsori pernikahan kalian." Timpal Braga.
"Kau harus membayar biaya pernikahan kami seratus persen." Ucap Hana sembari tersenyum.
"Kau memeras kah?" Tanya Braga dengan tatapan dingin.
"Aku? tentu tidak. Kau harus membayar mahal. Aku yang menyelamatkan Dara saat dia dilempar ke sungai. Aku yang merawatnya selama berbulan-bulan. Aku sangat kasihan loh. Aku disini ditindas terus menerus. Memang kau tidak mau berbaik hati sedikit?" Gerutu Hana.
"Itu ceritakan apa yang terjadi dihari itu? bagaimana kau bisa menyelamatkan Dara?" Tanya Braga yang sudah mulai penasaran.
"Aku sudah beberapa kali mengetahui rencana jahat Selli. Aku tidak bisa mengatakan apapun saat itu. Aku hanya bisa membantu Dara tanpa Selli sadari. Saat Dara dirawat dirumah sakit setelah insiden di hari ulang tahun Maria, aku sengaja ingin menemui Dara dan mengingatkan tentang Selli. Tapi saat aku datang, ada dua orang pria yang membius Dara dan membawanya menggunakan kursi roda. Mungkin agar terlihat seperti pasien karena kedua pria itu juga menyamar sebagai dokter. Aku mengikuti mereka. Karena aku merasa sangat bahaya, aku meminta bantuan Mas Toni. Dia adalah mantan suami Selli. Setelah Dara dilempar ke sungai, aku langsung ikut menceburkan diri untuk menolong Dara. Sialnya, banyak sekali bebatuan tajam disana. Kami terluka karena beberapa goresan.
Mendengar kata dilempar, Braga mulai terlihat marah. Tangan yang terus mengusap perut Dara terhenti dan mulai gemetar.
__ADS_1
"Dilempar? istriku dilempar ke sungai? dia sedang hamil. Apakah mereka binatang?!. Mereka juga membuatmu koma." Ucap Braga sembari menatap Dara penuh penyesalan. Merasa gagal melindungi istrinya sendiri.
............................