Ibu Dari Anak Suamiku

Ibu Dari Anak Suamiku
Photo


__ADS_3

" Wuah,...! Uncle itu dia Jojo. " teriak Jean yang sedari tadi sibuk mencari Jojo kemana mana.


Rian membulatkan mata karena terkejut melihat orang yang duduk disampingnya adalah Braga.


" em,.... Jean, kamu pergi ke Jojo sendiri ya? Uncle ada disini. setelah itu, langsung ajak Jojo kesini ya?


Jean bingung. " kenapa merepotkan sekali? bukankah lebih mudah jika kita kesana bersamaan?


" Hahaha,.. Uncle mau beli jus dulu ya. " ucap Rian sembari menggaruk tengkuknya.


" Em,. baik.


" Mencurigakan! batin Jean.


" Jojo! " panggil Jean sembari berlari mendekat ke arah Jojo.


" Kami mencari mu sedari tadi. kau justru terlihat santai. kakiku hampir putus karena mencari mu! kau harus bertanggung jawab! " ucap Jean dengan wajah kesal.


" Kalian yang meninggalkan aku. jangan terlalu marah. wajah marah mu sangat tidak imut. " wajah yang dingin mewakili seluruh perasaan Jojo.


" Jojo! aku akan meminta Mommy menghukum mu! " masih dengan wajah dan nada kesal.


" Cih! lihat lah nanti. Mommy tidak suka menghukum anak yang tidak bersalah.


Braga tersenyum melihat percekcokan Jean dan Jojo. entah mengapa, mengingatkan Braga dengan masa kecilnya. sangat mirip dengan dia dan Maria.


" Dasar setan cilik! " maki Jean yang sudah kehabisan kata kata.


" Jean!


" Sudah, jangan bertengkar. sekarang kalian sudah bertemu kan? " Braga mengusap kepala Jean. lagi lagi, hatinya merasa sangat nyaman menyentuh kepala seorang anak.


Jean menatap Braga. matanya sedikit melotot.


" Paman,.. apakah paman Daddy kami?


" hah?!! " lagi lagi jantungnya berdetak cepat. kali ini, bibirnya maupun hatinya tak memiliki jawaban untuk anak yang bertanya dihadapannya.


" Jean. jangan menebak nebak. minta maaf lah pada Paman Braga. kau sudah salah menuduhnya.


" Lalu, kenapa wajah paman sangat mirip denganmu? " tanya Jean dengan wajah polosnya.


" Benarkah begitu? " Braga tersenyum menatap Jojo. mengelus kembali kepalanya.


" benar benar menyenangkan mengusap kepalanya. batin Braga.


" Aku berharap, Daddy ku setampan Paman. " ucap Jean sembari mengagumi Braga.


" Jojo ini adikmu? " tanya Braga.


" Iya Paman.


" Kalian terlihat sangat mirip.


" kenapa seperti tidak asing wajah anak perempuan ini. " batin Braga.


" Tentu saja kami mirip. kami kembar. aku lebih tua dari jean sepuluh menit.

__ADS_1


Braga membulatkan mata. " jantungku. kenapa terus berdetak tidak normal setiap kali anak anak ini berbicara. apa yang salah denganku? apa karena mereka kembar? apa aku terlalu memikirkan anak anakku bersama Dara? ya Tuhan,.. bantu aku. " batin Braga.


" Baiklah Paman Braga, aku dan Jean pamit. kami harus kembali sekarang. senang berkenalan dengan Paman. " Jojo mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.


Braga tersenyum melihat anak kecil yang begitu sopan dan dewasa seperti Jojo.


Saat Jojo dan Jean berjalan beberapa langkah, Braga menghentikan langkahnya.


"tunggu Jojo dan Jean.


Jojo dan Jean menghentikan langkahnya menoleh ke arah Braga.


" iya Paman. ada apa?


" Boleh memberitahuku nomor telepon kalian?


" Tentu saja paman.


Ditempat lain.


" Dara kamu yakin akan menetap disini dan tidak akan kembali ke Belanda bersamaku?


" Maafkan aku pingkan. aku sungguh minta maaf. sepertinya aku akan tetap disini. orang tuaku bersikeras menahan ku. mereka tidak ingin lagi berpisah dariku juga anak anakku.


Pingkan meraih jemari Dara. menggenggam penuh kelembutan. wajahnya penuh perhatian.


" tidak perlu minta maaf Dara. aku tahu kau akan menetap disini. aku hanya penasaran, setelah ini apa yang akan kau lakukan?


Dara membuang nafas kasarnya.


" tentu saja aku akan mencari pekerjaan yang baru. aku punya dua anak yang harus ku biayai.


" Benarkah? terimakasih pingkan. " Dara memeluk sahabat yang telah membantunya selama bertahun tahun tanpa pamrih.


" Tidak perlu berterimakasih. aku adalah sahabatmu dan juga aku adalah Mommy keduanya Jojo dan Jean. aku melakukan ini juga untuk mereka.


Ada air mata haru di mata Dara.


" iya. terimakasih.


" Huh! sudah kubilang jangan berterima kasih. lihatlah. kau masih saja mudah menangis. orang orang akan menyangka aku sedang menyakitimu.


Dara terkekeh. " oh iya. perusahaan yang kau maksut bukan milik Braga kan? " tanya Dara menyelidik. berjaga jaga agar tidak timbul masalah nantinya. apa boleh buat, pingkan adalah orang yang paling suka berbuat nekat.


" aku tahu, batin mu pasti sedang memakiku. aku tidaklah sejahat itu.


Dara menggaruk tengkuknya sembari terkekeh.


" bagaimana kau tahu apa yang aku pikirkan?


" Aku sungguh mengenalmu dengan baik Dara.


" Lalu kapan aku akan mulai bekerja?


" Lusa. bisakah?


" Iya. aku bisa. Ayahku sudah pulang kerumah. jadi aku sudah bisa bekerja.

__ADS_1


Pingkan menatap Dara intens. sepertinya banyak yang ingin dia tanyakan.


" Katakan saja apa yang kau ingin katakan. " ucap Dara yang sudah sangat hafal mimik wajah dan tujuan Pingkan.


Agak sedikit ragu. tapi sangat penasaran. pingkan memberanikan diri untuk bertanya.


" Dara, cepat atau lambat, Braga pasti akan menyadari keberadaan mu dan juga anak anakmu. bagaimana kau akan menghadapi itu?


Dara terdiam sesaat.


" aku tidak akan menghindar. tapi aku juga akan mencegah pertemuan itu terjadi.


" bagaimana dengan Jojo dan Jean?


" Jika takdir mempertemukan mereka, aku tidak bisa menyalahkan takdir. tapi aku tidak akan menyerahkan anak ku kepada Braga. " Dara menggenggam erat gelas yang ia pegang.


" Tidak kah kau ingin mengambil kembali milikmu?


" milikku? apa ? " tanya Dara bingung. memang apa lagi yang ia miliki dari rumah yang terasa seperti neraka baginya.


" Em,... Braga. " ada rasa ragu di hati pingkan. tapi ini demi memastikan apa yang ada dipikiran Dara.


Dara terkekeh sembari menggelengkan kepala. " dia, cih! dia sudah ada wanita disampingnya. untuk apa aku mengambilnya.


" sepertinya, kau tidak mengetahui apapun tentang Braga.


" Apa maksut mu? " tanpa sadar Dara bertanya.


Pingkan mengambil gelas dan meminumnya. menatap Dara lekat.


" kau tahu? dia sudah seperti tumpukan gunung es. tidak pernah tersenyum. bahkan, dia tidak pernah membawa pasangan saat menghadiri pesta.


Dara terdiam tak tahu ingin mengatakan apapun.


Dirumah Braga. sesampainya dirumah, Ameera Maria dan Braga, kembali ke kamar masing masing.


Maria duduk di atas tempat tidur. meraih ponselnya untuk melihat kembali hasil gambar yang dia ambil diam diam itu.


matanya bulat sempurna karena terkejut.


" ya Tuhan. anak ini sepertinya menyadari kalau aku memotretnya. tunggu dulu. wajah anak ini sepertinya tidak asing. " Maria memutar bola matanya mencoba mengingat ingat.


" ah, iya benar. mas Braga. wajahnya mirip mas Braga.


Maria berjalan setengah berlari menuju ruang keluarga yang dipenuhi photo photo keluarga.


" ini dia. " Maria hendak berjalan menuju kamar kembali.


" Tunggu Maria. apa yang kamu bawa? " tanya Mama penasaran. entah sedari kapan Mama berada dibelakang Maria.


Maria terdiam menatap Mama.


" tidak! aku tidak boleh membocorkan apapun tentang anak kak Dara. aku dan mas Braga sudah sepakat. bahwa selain aku dan mas Braga tidak ada yang boleh tahu. " batin Dara.


" em,.. aku hanya, maksut ku, hari ini aku dan mas Braga pergi ke taman bermain. tiba tiba aku sangat merindukan masa kecil kami. jadi aku ingin melihat lihat photo kami.


Maria berlari menuju kamarnya. Mama menggelengkan kepala heran.

__ADS_1


........................


__ADS_2