Ibu Dari Anak Suamiku

Ibu Dari Anak Suamiku
Pernikahan


__ADS_3

Braga menghela nafasnya. Menatap langit malam yang dihiasi bintang-bintang di langit gelap. Memikirkan tiap kata yang keluar dari mulut Mama.


"Sebenarnya apa yang ada dipikiran Mama? kenapa memaksaku menikahi Selli. Benar-benar tidak masuk akal." Gumam Braga.


Dering ponsel Braga menyadarkan dari lamunannya.


Braga meraih ponselnya dan menerima telepon.


'Mas datang kerumah sekarang. Mama terus mencari mu." Maria.


'Aku berangkat sekarang.' Braga.


Sesampainya dirumah Mama. Braga berlari menuju kamar Mama untuk melihat keadaan Mama.


"Mama baik-baik saja?" Tanya Braga yang merasa sedih melihat keadaan Mama yang semakin tak baik.


"Bagaimana mungkin Mama baik-baik saja. Mama merasa, sudah tidak mungkin bisa lebih lama lagi melihat dunia ini." Jawab Mama sembari memegangi dadanya.


"Ma... Tidak baik mengatakan hal itu. Lebih baik kita kerumah sakit saja ya?." Saut Maria sembari mengelus punggung Mama. Membujuknya agar mau pergi kerumah sakit.


"Tidak. Mama tidak mau." Ketus Mama yang terlihat sedang menahan sakit.


"Kalau Mama begini terus, Mama pasti akan semakin parah. Memang apa salahnya pergi kerumah sakit? disana Mama akan dirawat lebih baik dari pada dirumah sendiri." Ucap Braga yang terlihat sedikit kesal karena Mama terus bersikukuh.


"Baiklah." Mama meraih pisau yang berada di piring buah disamping tempat tidurnya. Memegang dengan kuat pisau itu hingga terlihat gemetar tangannya. Mengarahkan ke arah urat nadi.


Braga dan Maria sontak berteriak karena terkejut.


"Mama!!!." Maria. Braga.


"Apa yang mau Mama lakukan?" Braga merebut pisau dari tangan Mama. Sayangnya, pisau itu sudah mengiris pergelangan tangan Mama.


Semua orang panik. Untunglah dokter masih disana untuk memeriksa.


"Bagaimana dok keadaan Mama saya?" Tanya Maria yang terlihat sangat panik.


"Apa kita harus membawanya kerumah sakit?" Tanya Braga sembari mengelus rambut Mama.


"Tidak perlu. Jangan khawatir. Lukanya tidak serius tidak sampai mengenai urat nadinya." Jawab dokter sembari membalut luka Mama.


"Baguslah." Jawab Maria sembari mendesah lega.


"Kenapa Mama bertindak seperti anak-anak begini?!" Tanya Braga sembari menatap Mama kesal.


"Bukan urusanmu. Memang apa ruginya untukmu. Jika Mama mati, ini akan melegakan untuk Mama. Tidak perlu melihatmu menderita karena kehilangan istri." Jawab Mama tanpa menatap Braga dan terus memperhatikan pergelangan tangannya yang sedang di balut.


"Aku juga tidak ingin kehilangan Dara. Aku butuh waktu untuk menerima semua ini. Mama hanya perlu mendoakan yang terbaik kan?


"Kamu tidak akan mudah melupakan ini jika kamu tidak menikah dengan Selli. Dia adalah wanita yang baik. Kamu juga dulu mencintai dia kan?" Ucap Mama. Matanya mulai berair.

__ADS_1


"Ma, tolong jangan menyuruhku menikahi Selli. Aku hanya mencintai Dara. Lagi pula itu semua hanya masa lalu. sekarang ini hanya Dara yang aku cintai." Jawab Braga dengan wajah memohon.


"Jika dulu kau bisa mencintai dia, maka sekarang juga pasti bisa. Dengar Braga. Mama tidak akan sembuh jika kamu tidak menikah dengan Selli. Dan dokter juga tidak perlu datang kerumah lagi." Ucap Mama sembari mengambil posisi untuk berbaring setelah luka dipergelangan tangan Mama selesai diobati.


Maria menggelengkan kepala sembari menatap Braga sendu.


"Jangan lakukan Mas. Kau sudah cukup menderita." Ucap Maria dalam hati.


"Kenapa Mama begitu yakin aku akan bahagia dengan Selli?" Tanya Braga sembari menatap Mama yang hanya diam tak bergeming.


Tak menjawab. Mama masih tetap diam tanpa ekspresi apapun. Braga keluar dari kamar dengan wajah murung.


"Jangan lakukan apapun yang Mama mu katakan." Ucap Papa sembari berjalan mendekati Braga.


"Tapi Pa, keadaan Mama benar-benar tidak baik." Jawab Braga dengan wajah sedih.


"Sudah cukup. Papa hanya ingin kamu bahagia dengan pilihanmu sendiri. Berhenti memikirkan Mamamu yang sudah tidak waras itu." Ucap Papa dengan wajah tegas. Tak nampak emosi apapun diwajahnya.


"Pa,... aku sudah kehilangan Dara. Aku tidak ingin lagi kehilangan Mama. Jika ini bisa membuat Mama bahagia dan mau pulih, aku tidak masalah." Ucap Braga sembari berjalan meninggalkan Papa yang masih berdiri disana.


"Braga! jangan berbuat bodoh!" Ucap Papa yang sudah mulai kesal. Braga tak menghiraukan dan terus melangkahkan kakinya menjauh dari Papa.


Di kamar Hana.


" Rencana mu berhasil ya Rubah tua? tapi sayangnya, aku juga sudah menyiapkan kejutan besar. Ah,. bukan. Sangat besar." Hana tersenyum sembari meletakkan ponselnya.


"Aku sudah merekam semua percakapan mu dan si Wanita licik itu. Tapi ini belum ada apa-apanya." Hana terkekeh sendiri. Membayangkan betapa serunya saat Hana membawa kejutan itu dihadapan Mama, Selli dan anggota keluarga yang lainya.


"Ada apa lagi?" Tanya Mama masih berbaring ditempat tidur.


"Sesuai keinginan Mama. Aku akan menikahi Selli." Ucap Braga sembari menahan kesedihannya. Tangannya mengepal kuat.


"Benarkah?" Tanya Mama memastikan. Wajahnya berubah segar dan bahagia.


"Iya." Jawab Braga tanpa ekspresi.


"Kalau begitu, Mama ingin kamu menikahi Selli dua hari dari sekarang. Bagaimana?" Tanya Mama yang sudah berubah posisinya menjadi duduk.


Braga terdiam sesaat.


"Terserah." Braga meninggalkan kamar Mama dengan setetes air mata yang jatuh dipipi nya.


"Sayang, maaf. Maaf. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi." Batin Braga. Air mata yang jatuh pun tak mampu ia tahan lagi.


"Dasar Wanita jahat. Kau benar-benar luar biasa. Lihatlah nanti. Aku akan membuat pernikahan itu menjadi momen paling menyedihkan dalam hidupmu dan juga kau Selli." Gumam Hana yang baru saja mendengarkan percakapan Mama dan Braga.


Hari dimana acara pernikahan itu diselenggarakan. Para tamu yang sebagian besar adalah keluarga dan kerabat terdekat sudah mulai berdatangan.


Papa dan Maria hadir tapi tak ada dari mereka yang terlihat bahagia. Sudah dua hari semenjak Braga menyetujui pernikahan itu, Papa tak pernah mengatakan sepatah katapun.

__ADS_1


Jojo dan Jean terdiam disudut ruangan.


"Aku benci Daddy." Ucap Jean sembari menyeka air matanya.


"Aku juga." Timpal Jojo sembari menggenggam tangan Jean.


"Kenapa Daddy menghianati Mommy?" Tanya Jean.


"Karena Daddy tidak mau kehilangan Oma." Jawab Jojo mencoba menenangkan Jean.


"Daddy sangat bodoh. Dia juga menangis semalam. Tapi dia tidak bisa menolak untuk menikah." Ucap Jean yang mengingat semalam ia melihat Braga menangis sembari memandangi photo Dara.


Jojo terdiam memandangi Braga yang sudah keluar dan bergabung bersama keluarga.


Acara pernikahan sudah dimulai. Namun, langsung berhenti tiba-tiba.


"Tunggu dulu!!!!!!" Hana datang memasuki ruangan. Berjalan ditengah-tengah jejeran para tamu yang sedang menyaksikan proses pernikahan itu.


Selli menatap Hana dengan kesalnya. Hana berjalan dengan penuh percaya diri. Yang paling membuatnya marah adalah, pakaian serba hitam yang ia kenakan. Padahal jelas-jelas ini adalah hari pernikahannya batin Selli.


"Apa-apaan kamu?!" Tanya Mama dengan nada membentak. Mama mencoba bangkit dari kursi rodanya tapi Maria mencegah. Entah mengapa, Maria merasa bahwa kedatangan Hana akan mencegah pernikahan ini terjadi.


"Oh Nyonya jangan marah-marah. Ingat. Tensi anda sedang tidak baik." Ucap Hana sembari tersenyum.


Braga hanya terdiam tak berniat mengatakan apapun.


"Pergi kamu! jangan merusak acara pernikahan anakku." Bentak Mama yang terlihat sangat terlihat sangat kesal.


"Anak? anak yang mana? maksudnya Mas Braga? hahahahaha,..... memang kamu yang melahirkan Mas Braga? bukan kan?" Hana melipat kedua lengannya meletakan didada dan tersenyum mengejek.


"Jaga ucapan mu!!!" Bentak Mama yang semakin dibakar amarah.


"Kenapa aku harus menjaga ucapan ku? aku datang untuk menyelamatkan Mas Braga dari belenggu iblis seperti mu." Jawab Hana penuh percaya diri.


"Dasar kurang ajar.!" Mama bangkit dari posisinya. Berjalan dengan cepat mendekati Hana.


'Plakkk.....!!?


Mama menampar Hana.


Hana tersenyum.


"Lihatlah! anda baik-baik saja Nyonya. Anda masih punya Banyak tenaga rupanya.


"Ini pantas untuk wanita hina sepertimu. Kau wanita licik. Kau murahan. Kau seorang pembohong kelas atas." Ucap Mama sembari menunjuk-nunjuk Hana.


"Hahaha...... Jangan membuatku tertawa Nyonya. Sekarang ini, belum waktunya untuk anda. Aku akan memberikan kejutan untukmu Selli yang cantik. Masuklah,......" Ucap Hana sembari tersenyum dan melihat ke arah pintu masuk.


Datanglah beberapa orang yang memasuki pintu itu. Braga membulatkan mata karena terkejut melihat seorang wanita yang kini tengah duduk dikursi roda. Matanya mulai berair.

__ADS_1


Selli dan Mama juga terkejut. Selli mengepalkan tangan dengan kuat. Mama menatap wanita itu penuh kebencian.


.....................


__ADS_2