
Bagai kupu-kupu yang kehilangan sayap. Braga berjalan dengan lunglai. Putus asa juga marah yang menggoncang hatinya. Makian demi makian ia tunjukkan untuk dirinya sendiri. Memukuli dada juga kepalanya hingga berkali-kali.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Braga yang memecahkan keheningan diruang pantau CCTV.
"Semua anggota kami sudah bergerak Tuan. Saya akan segera menyusul." Pria itu melangkahkan kaki mendekati pintu. Ia teringat ada pesan yang harus ia sampaikan untuk Braga.
"Tuan, dokter ingin bertemu dengan anda. Beliau sudah menunggu anda dari tadi." Ucap pria itu sembari memohon untuk undur diri dan segera menuju ke lokasi selanjutnya.
"Beri aku kabar selanjutnya. Aku harus menemukan istriku malam ini juga." Ucap Braga kepada Saka yang sudah berada disana.
"Baik.
Braga berjalan untuk menemui dokter yang sedari tadi ingin menemuinya. Sesampainya disana, dokter mempersilahkan Braga untuk masuk dan mulai menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan. Mengingat, pasiennya kini tengah menghilang.
"Ini adalah hasil X-ray milik Nyonya Dara. Tidak ada masalah. dan,-
"Apa?! anda menunggu saya hanya untuk memberikan ini?" Tanya Braga yang merasa waktunya terbuang percuma.
"Nyonya Dara dalam keadaan hamil.
"Apa?!" Braga benar-benar terkejut mendengar pernyataan dokter.
"Maaf Tuan. Saya ingin menyampaikan tadi, tapi saat saya masuk, anda dan Nyonya sedang terlelap. Jadi, saya menunggu anda dan Nyonya bangun. Saya juga tidak tahu akan begini." Ujar dokter itu. Terlihat ada rada bersalah diwajahnya.
"Berapa usia kandungan istri saya?" Tanya Braga dengan wajah putus asa.
"Lima minggu Tuan.
Sudah bagaikan sambaran petir ratusan kali yang mengenai tubuhnya. Braga bangkit dari duduknya dan mencoba berjalan dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Tidak! tidak boleh! kamu tidak boleh meninggalkan aku lagi. Berikan aku kesempatan untuk merawat mu dan anak kita yang kamu kandung. Berikan aku kesempatan." Braga terjatuh dengan posisi berlutut. Air mata yang jatuh ke pipinya sudah tak terhitung lagi banyaknya.
Bagaimana kalau aku tidak muncul dihadapan mu juga?
Tidak tahu mengapa, tapi aku ingin mengatakan ini. aku mencintaimu Mas.
__ADS_1
Cuplikan kata-kata Dara semakin membuat Braga tak berdaya.
"Demi Tuhan! kalau sampai kamu tidak muncul dihadapan ku, aku akan membenci mu." Braga kembali terisak.
Dering ponsel Braga.
'Ada rekaman dasbor melihat mobil yang membawa Nyonya berada di sungai jalan lembayung.'
Braga langsung menutup sambungan teleponnya dan langsung menuju lokasi. Sesampainya disana, orang-orang suruhan Braga sudah mulai mencari dan menelusuri sungai. Bukan hanya pencarian Darat mereka juga melakukan pencarian lewat udara.
"Bagaimana? dimana istriku sekarang?!" Tanya Braga yang sudah kehilangan kontrol dalam dirinya. Entah bagaimana menggambarkan keadaan Braga yang terlihat sangat kacau ini.
"Kami sedang mencari Tuan.
"Dimana mobil yang membawa istriku?! kau mendapatkannya?! kau sudah menginterogasinya?!" Tanya Braga yang tidak sabaran. Berharap, jawaban yang akan ia dapatkan sesuai dengan yang ia inginkan.
"Maaf Tuan. Mereka sudah merencanakan ini dengan sangat matang. Plat mobil itu palsu jadi kami kesulitan untuk menemukannya. Rekaman CCTV di jalur ini juga tiba-tiba rusak. beruntunglah kita bisa mendapatkan informasi dari pemilik dasbor secepat ini." Ucap Pria itu. Merasa sudah melakukan yang terbaik.
'Buk.........!
"Kau bilang apa?! beruntung?!!! kau tidak waras ya?! apa yang beruntung?! bahkan istriku juga belum kembali. Apa kau tahu?! istriku sedang mengandung?!" Tanya Braga dengan nada membentak.
"Pak presdir. Tolong jangan begini. Dia sudah melakukan yang terbaik." Bujuk Saka yang merasa kalau presdirnya sudah kehilangan kendali.
Braga menepis tangan Saka. Berjalan menuju sungai. Langsung masuk kedalam air tanpa memperdulikan banyaknya orang yang meneriaki untuk mencegah.
"Tidak boleh. Kamu tidak boleh pergi. Aku tarik kata-kataku bahwa kamu tidak boleh muncul dimana-mana. Aku hanya ingin melindungi mu bukan membuatmu menghilang. Aku perintahkan kau untuk muncul sekarang. Ayo cepat muncul!! cepatlah!!..
Dua hari kemudian. Braga masih berada di dekat sungai. Terduduk lemah tak berdaya sembari menangis.
"Dara,... aku harus bagaimana? aku harus bagaimana lagi agar kau kembali." Ucap Braga lirih.
"Pak presdir, kita pergi dulu dari sini ya? ini tidak baik. Anda sudah dua hari mencari dan tanpa makan dan minum. Ini akan membahayakan tubuh anda." Bujuk Saka sembari mencoba untuk membantu Braga Bangun dari posisinya.
"Makan? kenapa aku harus makan? kenapa? aku tidak ingin makan. Aku ingin istriku."Ujar Braga sembari mengikuti langkah kaki Saka yang membantu memapahnya.
__ADS_1
"Saya tahu pak presdir sedang sangat sedih. Tapi masih ada anak-anak anda yang butuh anda saat ini. Mereka juga pasti sedang khawatir juga pasti cemas." Ucap Saka. Berharap dapat membuat Braga sedikit mengerti dan mau memakan makanan yang sudah ia siapkan.
"Anak-anak?" Braga mengusap wajahnya yang sembab karena terus menerus menangis.
"Apa yang harus aku katakan kepada anak-anak ku? apa aku harus mengatakan bahwa Mommy nya menghilang? bagaimana cara ku menghadapi dua anakku yang sangat mencintai Mommy nya. Jika aku boleh memilih, aku ingin menggantikan istriku. Anak-anakku lebih membutuhkan Mommy nya dibanding aku. kalau mereka tahu, mereka akan memiliki adik, tapi sekarang semuanya kacau. Bagaimana caraku menghadapi anak-anakku?" Braga memukul kepalanya sendiri.
"Tidak!. jangan begini pak presdir. Aku tahu ini tidak mudah. Bersabarlah, kami akan selalu membantumu.
Di rumah orang tua Braga.
Kedatangan Hana membuat suasana bahagia yang terlihat diwajah Selli menghilang seketika.
"Kamu kenapa? kemana saja kamu dua hari ini?" Tanya Selli yang penasaran melihat ada banyak luka goresan ditubuh Hana.
"Aku, aku mengalami kecelakaan lalu lintas dua hari yang lalu saat akan mengunjungi orang tua ku." Jawab Hana sembari menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Benarkah?" Tanya Selli dengan wajah menyelidik.
"Hubungi saja Ibuku jika kau ragu." Timpal Hana tanpa menatap Selli.
"Lukamu tidak mirip seperti luka kecelakaan lalu lintas pada umumnya." Ucap Selli sembari tersenyum penuh kecurigaan.
"Aku keluar dari mobil yang sedang melaju cukup kencang. Rem mobilku tiba-tiba blong. Seperti yang kau lihat dari lukaku. Aku terjatuh dijalanan yang banyak kerikil dan menjadi goresan-goresan begini." Jawab Hana tanpa menunjukan reaksi emosi apapun.
"Kau tidak sedang membodohi ku kan?" Tanya Selli menyelidik. tangannya memainkan rambut Hana dan menariknya cukup kuat.
"Awh......! Sakit!!! di bagian kepalaku juga ada luka. Jangan menarik rambutku." Hana mencengkram tangan Selli dan menghempaskan nya.
"Ku harap kau tidak berbohong." Ucap Selli. Wajahnya lebih menjurus ke arah mengancam.
"Memang apa untungnya untukku sampai harus berbohong padamu?" Tanya Hana menatap Selli tajam.
"Ya,... kau pikirkan saja sendiri. Oh iya, ngomong-ngomong, apa kau sudah tahu? Dara menghilang dari dua hari yang lalu?" Tanya Selli dengan senyum liciknya.
"Apa?!!! kenapa? ada apa dengan dia? bukankah dia berada dirumah sakit?
__ADS_1
..........................