Ibu Dari Anak Suamiku

Ibu Dari Anak Suamiku
Pulang kerumah


__ADS_3

Dara dan Braga didalam perjalanan menuju rumah orang tua Braga.


"Sayang, kamu yakin anak-anak akan aman?" tanya Braga sembari fokus mengemudi.


"Iya. percayalah. kami bersama cukup lama. saat usia mereka hampir empat tahun, mereka memilih untuk tidak ditemani pengasuh. awalnya juga, aku takut Mas. tapi, Jojo itu sangat pintar dan bisa diandalkan. meskipun anak-anak sering bertengkar, Jojo tetap memperlakukan Jean penuh perhatian." ucap Dara sembari memainkan ponselnya.


"Iya. aku pernah melihat dia mengelus kepala Jean yang tertidur sembari membaca buku."mengingat betapa mengagumkan kedewasaan yang dimiliki Jojo.


"Mereka begitu karena aku. mereka tidak bergantung dengan siapapun karena aku sering meninggalkan mereka untuk bekerja. ucap Dara meletakkan ponselnya. rasa bersalah menghiasi wajahnya.


"Sudahlah. aku juga bersalah. yang paling penting, kau mendidik anak-anakku dengan baik." braga memegang tangan Dara. sebelah lagi tetap memegang kemudi.


Sesampainya dirumah orang tua Braga.


"Sayang ayo turun." ucap Braga yang telah membukakan pintu mobil untuk Dara.


"Masuklah dulu mas. aku agak sedikit gugup. aku akan menyusul." ucap Dara sembari tersenyum.


"Kamu yakin?


"hem,.." menganggukan kepala dan tersenyum. meyakinkan.


Braga masuk kedalam rumah dan hendak menuju ruang kerja pribadinya.


"Mas..! Mas Braga tunggu!


Braga membalikkan tubuhnya menatap Maria yang berlari ke arahnya hingga terengah.


"Ada apa?" penasaran. hal apa yang membuat Maria begitu antusias menyambut kepulangannya.


"Kau,.. kau akan sangat terkejut dan bahagia. aku sudah sangat bekerja keras." Maria menyerahkan amplop coklat yang lumayan tebal isinya.


"Ini apa?" tanya Braga yang enggan untuk membukanya.


Maria mendekatkan tubuhnya. dan menyuruh Braga menunduk. ingin berbisik. tapi karena tinggi Braga yang jauh dari Maria, membuat Braga mengikuti apa yang dikatakan adiknya itu.


"ini tentang si kembar. maksut ku, anak-anakmu." ucap Maria berbisik.


Braga tersenyum mendengar ucapan Maria. terlebih, Braga mengingat. bahwa, Jojo dan Jean mengatai Maria payah.


"Kau pasti bahagia ya? berterimakasih lah dengan tulus kepadaku." Maria menepuk dadanya bangga.


Braga hanya tersenyum dan mengangguk.


"baiklah. terimakasih adikku yang cantik.


"Hanya itu? dasar. kau seharusnya terkejut dan membukanya saat ini juga kan? apa dia benar-benar sedang jatuh cinta? sampai dia lupa tentang anaknya sendiri. " gerutu Maria dalam hati.


Braga melanjutkan langkahnya ingin menuju ruang kerja miliknya. namun, ia mengentikan langkahnya mengingat Dara masih ada diluar.

__ADS_1


"Boleh kah aku meminta tolong?


"Apa?!" langsung memalingkan pandangan. sebal. karena usahanya seperti tak dihargai.


"Tolong jemput seseorang diluar. pastikan tidak boleh terluka sedikitpun." ucap Braga dan langsung melanjutkan langkahnya.


"Apa-apaan orang ini? ah!!! aku benar-benar tidak habis pikir." gerutu Maria sembari berjalan keluar untuk melihat orang yang dimaksud Braga.


Dara masih berada didalam mobil berbicara kepada Jojo dan Jean yang begitu khawatir.


Dara melihat Maria yang seperti sedang mencari seseorang. Dara mengakhiri sambungan telephon nya. langsung keluar dari mobil.


Maria terperanjak. kaget melihat sosok yang keluar dari mobil. tak disangka. orang yang dicarinya berada didalam mobil.


Kagetnya bukan hanya sampai disitu. mata bulat sempurna. mulutnya terbuka lebar. jari telunjuknya menunjuk ke arah Dara.


"Ka, ka,.. kak Dara?" seperti tak percaya. melihat orang yang ia rindukan kini ada dihadapannya.


Dara berdiri tepat dihadapan Maria yang masih terperangah tak percaya.


"kapan kau akan memelukku? sampai kapan kau akan membuka mulutmu dan tidak bergerak. matamu seperti,ingin lari dari tempatnya.


"Ini benar-benar kak Dara?" masih tak percaya. beberapa kali menepuk nepuk pipinya untuk meyakinkan. setelah yakin, Maria memeluk Dara dengan erat.


"huuuu,...huuuuu,.. aku benar-benar merindukanmu kak.


"Iya. iya. baiklah. aku hampir mati kehabisan nafas. tidak bisakah kau berhenti?


"Pa,,.....! Pa,,.....! coba lihat siapa yang datang." suara Maria benar-benar sangat menggelegar. mungkin karena rasa bahagianya.


Papa keluar dari kamar sembari memasang kacamatanya. langkahnya terhenti saat melihat anak menantunya berada dihadapannya. matanya ber kaca-kaca. bahkan tangannya terlihat gemetar.


"Papa,?. " Dara berjalan mendekati Papa.


Bibir papa terlihat gemetar menahan tangis harunya. merentangkan tangan untuk memeluk Dara. tak menunggu lama. Dara langsung memeluk Papa dengan erat. tak bisa lagi menahan air mata yang ingin jatuh saat memeluk Papa.


Hana dan juga Mama ikut keluar Dari kamar. ingin melihat siapa yang datang. Hana benar-benar terlihat terkejut. tapi tidak dengan Mama. saat pulang tadi, wajahnya terlihat marah.


"Kamu akhirnya kembali?" Papa dan Dara melepas pelukannya.


"Iya. maaf Pa, waktu itu, aku pergi saat Papa tidak ada dirumah.


"Tida masalah. ini bukan salahmu.


Maria berjalan mendekati Dara. menggandeng lengan kanan Dara.


"jadi, Mas Braga tidak pulang karena kak Dara ya? hahahahaha,............pantas saja. aku pikir wanita mana yang akan membuat Mas Braga lupa jalan pulang kecuali kak Dara." ucap Maria menggoda Dara.


"Untuk apa kamu datang kemari? aku sudah memperingatkan mu. apa kamu masih tidak paham bahasa manusia hah?!!" sudah geram melihat keharmonisan yang ditunjukan oleh anak dan suaminya.

__ADS_1


"Jaga ucapannmu. kau masih saja tidak berperasaan. aku sudah mulai tidak tahan dengan sikapmu." ucap Papa mengancam.


"Jangan ikut campur. aku, tidak mau Ameera kehilangan Papanya. Ameera adalah cucuku satu-satunya. karena wanita ini, jarak antara Ameera dan Braga semakin jauh. dia benar-benar seperti Iblis yang tidak berperasaan." entah apa yang membuat Mama begitu membenci Dara. baik dulu maupun sekarang.


"Maaf nyonya. masalahnya, suamiku itu, dia sangat ingin aku temani. dia takut ditahan dirumah ini." ucap Dara sembari tersenyum elegan.


"Mama jangan keterlaluan. kak Dara kan juga punya,-.." Dara membungkam mulut Maria.


"Nyonya, tolong biasakan diri anda untuk sering melihat saya. bagaimanapun, saya masih menantu anda.


"Menantuku hanya Hana. tidak ada yang lain." sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Dara tersenyum menanggapi kemarahan Mama.


Hana mengepalkan tangannya kuat menahan amarah. menyadari. jika wanita yang membuat Braga semakin jauh darinya ternyata masih orang yang sama.


"Dara, kenapa memanggil Mama dengan sebutan Nyonya?" tanya Papa.


"Itu, Mama mertua yang menginginkannya Pa." raut wajah sedih.


Papa memijat keningnya.


"aku sudah tidak bisa lagi berkata. sebenarnya, apa yang membuatmu begitu membenci perempuan yang begitu baik ini."Papa menunjuk Dara.


"Baik?! dia itu tidak cocok untuk Braga. dia mandul. dia tidak seiman. dia terlalu banyak kekurangan." sudah sangat bersemangat menyebutkan kekurangan Dara.


"Apa sudah selesai? apa menindas istriku begitu menyenangkan Ma? " tanya Braga yang sedari tadi sudah mendengarkan pertengkaran mereka.


"Istri? akulah istrimu." Hana berucap dengan nada membentak. matanya berair. nafasnya tak beraturan menahan tangis.


"Benarkah? kapan kita menikah? aku tidak ingat." ucap Braga dengan santainya.


"Kapanpun itu. kau tidak bisa meninggalkan aku. kita sudah memiliki anak. kita sudah jadi keluarga." meyakinkan Braga.


Braga mendesah sebal.


"aku tidak ingin berdebat denganmu. sekarang,. jawab pertanyaan ku. siapa dari kalian yang masuk ke ruang kerja pribadiku?


"Yang jelas, pasti bukan aku dan Papa." ucap Maria.


"Bibi yang selalu masuk keruang kerjamu. memang siapa lagi?! " jawab Mama ketus.


"Selain Bibi. aku hanya mencurigai Mama dan Hana. apa aku salah?


Mama membulatkan matanya.


"kenapa kita harus masuk keruang kerjamu. kamu pikir kami tidak ada pekerjaan lain?


Braga berdecih. mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Saka.


'Saka, periksa rekaman kamera pengintai di ruang kerja pribadiku. laporkan padaku sesegera mungkin.

__ADS_1


"Aku. aku yang sudah masuk keruang kerjamu." ucap Hana. wajahnya tertunduk. tangannya mengepal kuat.


......................


__ADS_2