Ibu Dari Anak Suamiku

Ibu Dari Anak Suamiku
Peka


__ADS_3

Malam semakin larut. Braga dan keluarga masih hanyut dalam pembahasan mereka.


"Jadi, waktu kau kembali kerumah itu ya? kulitmu penuh luka juga memar." Tanya Maria sembari menatap penuh tanya kepada Hana.


"Iya. Untung lah Mas Toni dan rekannya tiba tepat waktu. Kalau tidak, mungkin aku dan Dara sudah END." Jawab Hana. Bibirnya tersenyum seolah beban dan kesakitan itu menghilang seketika darinya.


Maria terdiam sesaat. Memalingkan wajahnya.


"Terimakasih." Ucap Maria pelan menahan gengsinya karena mengucapkan terimakasih kepada orang yang selalu ia musuhi.


"Sama-sama. Aku hanya ingin drama ini berakhir." Masih dengan senyum yang terlihat tulus.


"Ini semua adalah kesalahanku. Aku tidak memiliki ketegasan. Aku selalu menyakiti istriku. Aku membiarkan Mama melakukan kegilaan ini. Aku hanya bisa meminta maaf dan terimakasih. Jika memang ada yang harus disalahkan, maka hanya aku yang pantas disalahkan." Ucap Braga yang ditunjukan untuk Hana.


"Sudahlah,... Semua sudah berlalu. Aku harap, kau bisa menjadi suami yang tegas. Jangan membiarkan siapapun menyakiti Dara dan anaknya. Jika aku boleh jujur, kau memang lelaki idaman. Tapi kau tidak memiliki kepekaan. Kau menyakiti istrimu mesti kau menyadari itu. Mulai sekarang, pentingkan perasaan istrimu terlebih dulu. Karena istrimu tidak akan membuat hatimu gundah seperti Mamamu memperlakukan mu." Hana menasehati Braga yang mulai terlihat sebal.


"Aku tahu!. Aku tidak akan menjadi Braga yang tidak peka." Braga memalingkan pandangannya.


"Sudah,.. Lebih baik kita istirahat. Ini sudah malam." Ajak Papa yang sedari tadi banyak berdiam diri.


"Tunggu Pa!" Maria menghentikan langkah Papa yang sudah mulai melangkah.


"Ada apa?" Tanya Papa sembari memutar tubuhnya menghadap Maria.


"Mama? Mama dimana Pa?" Tanya Maria sedikit ragu tapi juga mengkhawatirkan Mamanya.


"Dia kembali kerumah Kakek mu. Biarkan dia disana. Jangan ada yang memintanya untuk kembali kesini. Kalau sampai Papa lihat dia disini, Papa lah yang akan pergi dari sini." Jawab Papa dan langsung melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang keluarga.


Maria terdiam dengan wajah lesu. Memegangi dadanya yang terasa sesak. Ingin membantah, tapi tak memiliki keberanian.


"Maria, aku tahu kami sedih, bersabarlah sedikit ya... Kita juga perlu memikirkan perasaan Papa dan Mas Braga untuk sementara ini." Bujuk Dara sembari memeluk Maria.


Maria mengangguk dan memeluk Dara dengan erat.


"Iya kak. Aku akan bersabar. Jika memang mereka akan berpisah, aku akan mencoba untuk menerimanya." Ucap Maria yang masih memeluk Dara.


"Iya, aku tahu kau gadis yang pengertian." Dara mengelus kepala Maria pelan.


Dering ponsel Maria memecahkan suasana sedih. Maria dengan cepat menolak panggilan itu dan menyembunyikan ponsel dibelakang tubuhnya.


"Panggilan dari siapa?" Tanya Braga yang melihat Maria begitu gugup.


"Bukan siapa-siapa. Aku akan ke kamarku." Ucap Maria sembari berlari menuju kamarnya.

__ADS_1


"Apa itu Mama?" Tanya Dara yang keheranan. Sikap yang tidak biasa dilakukan Maria.


"Entah aku tidak tahu." Jawab Braga.


"Dia pasti sudah punya pacar." Timpal Hana. Dara dan Braga kompak menatap Hana terkejut.


"Kalian tidak percaya ya? sudahlah,.. kami akan pergi tidur." Ucap Hana sembari bangkit dan menggandeng tangan Toni.


Braga membulatkan mata karena terkejut.


"Kau? kau mau mengajak dia tidur denganmu ya?" Tanya Braga sembari menunjuk Toni penuh tanda tanya.


"Tentu saja. Kenapa? kalau aku harus mengajakmu?" Ledek Hana.


"Kalian belum menikah. Kenapa tidur bersama?.


"Kau kuno.


"Apa?!." Tanya Braga yang mulai marah mendengar Hana mengatainya.


"Iya kau kuno. Banyak orang hidup bersama tanpa menikah. Memang apa salahnya?" Jawab Hana sembari memeluk lengan Toni.


"Itu,.. tapi,...


"Sudah lah Mas. Ini adalah hidupnya. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya." Timpal Dara sembari menatap Hana dengan senyum penuh kebahagiaan.


Braga mengantar Ibu dan Ayah yang sudah akan kembali kerumah.


"Ayah,Ibu. Hati-hati dijalan." Ucap Braga sembari membukakan pintu mobil untuk Ayah. Saat Ibu akan masuk, Braga menghentikan langkah Ibu.


"Ibu,....?


"Iya? ada apa nak?" Tanya Ibu yang selalu lemah lembut.


Braga memeluk Ibu dengan erat. Ibu terdiam kebingungan. Ayah tersenyum melihat Ibu dan menantunya yang terlihat saling menyayangi.


"Terimakasih banyak Bu. Ibu menyelamatkan aku saat itu. Terimakasih juga karena saat itu kandungan Ibu baik-baik saja. Kalau tidak," air mata Braga mulai menggenang.


"Sudah lah nak. Semua sudah berlalu. Kau hanya perlu memperlakukan putriku dengan baik ya?" Ibu menepuk punggung Braga.


"Iya Bu. Aku berjanji. Mulai hari ini, tidak akan ku biarkan Dara bersedih atau terluka." Ucap Braga sembari melepas pelukannya.


"Terimakasih nak. Semoga kamu bisa menepati janjimu.

__ADS_1


Braga mengangguk dan tersenyum.


"Aku rasa, aku pasti sudah jatuh cinta dengan Dara sebelum dia lahir Bu." Ucap Braga sembari tersenyum menatap Ibu.


"Kau ini." Ibu terkekeh.


Setelah Ibu dan Ayah kembali kerumahnya, Braga dengan cepat melangkahkan kaki menuju kamar. Sudah terencana di otaknya. Semalaman akan tidur memeluk istrinya. Bercerita tentang banyak hal. Mengelus perut istrinya. Semakin cepat Braga melangkahkan kaki.


"Sayang....?" Panggil Braga sembari membuka pintu. Wajahnya tersenyum penuh rona kebahagiaan.


"Ke,..kenapa kalian disini juga?" Tanya Braga yang agak kecewa melihat kedua anaknya memeluk Dara dari sisi kanan dan juga kirinya.


"Kami akan tidur bersama Mommy." Jawab Jojo sembari menyeringai licik.


"Tapi!." Braga terkejut mendengar nada suaranya sendiri. Begitu juga dengan Jojo, Dara dan Jean.


"Daddy mau menyingkirkan kami ya?!" Tanya Jean dengan wajah kesalnya.


"Iya. Daddy kira hanya Daddy yang merindukan Mommy?" Tanya Jojo dengan wajah dinginnya.


"Ti,..tidak. Mana mungkin. Daddy rasa, Tempat tidur ini tidak terlalu leluasa jika kita berempat disini. Apalagi Mommy sedang hamil." Braga mencari alasan sebaik dan sesopan mungkin. Mengingat kedua anaknya sangatlah cerdik.


Jojo tersenyum menatap Braga. Begitu juga dengan Jean yang menatap Braga dengan senyum diwajahnya.


"Daddy bisa tidur di sana kan?" Ucap Jean sembari menunjuk sofa didekat jendela kaca.


"Apa?!... Kenapa? kenapa Daddy harus tidur disana?" Tanya Braga dengan wajah sedih.


"Alasannya sudah Daddy katakan tadi." Timpal Jojo yang terlihat dingin dan licik.


"Iya. iya. itu benar." Ucap Jean kegirangan.


Dara hanya terkekeh.


Beberapa jam telah berlalu. Braga belum juga bisa memejamkan mata. Membolak balikan tubuh mencari posisi yang nyaman. Karena merasa tak tahan lagi, Braga membangunkan Dara pelan.


"Sayang, aku tidak bisa tidur disini. Tubuhku rasanya sakit." Ucap Braga yang telah membuat Dara terbangun.


"Tempat tidur ini cukup untuk kita. pindahkan Jojo didekat Jean. Kau bisa tidur disini." Ucap pelan.


Setelah berhasil memindahkan Jojo. Braga berada disamping Dara. Braga memeluk Dara. Meletakkan tangannya diperut dan terus mengusapnya.


"Apa kau tidak takut terjatuh Mas? sepertinya posisimu tidak nyaman." Tanya Dara yang menyadari jika tempat disampingnya sangat sedikit.

__ADS_1


"Tidak apa. Kau tahu kan? sepanjang aku tidur, aku tidak pernah merubah posisiku. Asal kau tidak banyak bergerak, aku tidak akan jatuh." Dara tersenyum dan memegangi tangan Braga yang masih terus mengelus perutnya.


...................................


__ADS_2