
Hari demi hari Braga lewati penuh dengan kekecewaan. Harapan tetaplah masih menjadi harapan. Air mata yang jatuh sudah tak bisa lagi dihitung. Hanya bisa memeluk kenangan yang tak terlupakan.
Hari ini, lima bulan sudah Dara menghilang. Hampir setiap hari Braga tak pernah absen untuk datang ke lokasi tempat dimana Dara menghilang.
"Sayang,... Ini sudah lima bulan. Apakah kau masih ingin bersembunyi? aku sudah tidak memiliki air mata untuk menangis tapi kau masih tidak ingin menemui ku." Gumam Braga memandangi derasnya air sungai yang memiliki bebatuan tajam.
"Pak presdir,... Anda sudah cukup lama berdiri disini. Mari kita pergi sekarang. Tempat ini hanya akan membuat hati anda terguncang. Tabah adalah pilihan terbaik. Anda memiliki tiga orang anak yang membutuhkan anda." Ucap Saka sembari berjalan mendekat kesamping Braga.
"Semua orang bilang, Dara tidak mungkin selamat. Mereka bilang, Sungai ini memiliki bebatuan yang tajam dan air yang mengalir sangat deras. Tapi aku tidak bisa menerimanya. Aku merasa sangat marah saat ada yang mengatakan itu." Ucap Braga. Tangannya mengepal keras. Hatinya berkecamuk dengan jutaan rasa kecewa dan sedih yang mendalam.
"Tapi,... Merelakan adalah pilihan yang tepat presdir." Ucap Saka sedikit bergetar suaranya.
"Kau juga berpikir seperti mereka? aku benar-benar tidak bisa menerima. Aku tahu, anak-anak ku sangat membutuhkanku saat ini. Tapi aku juga kehilangan kekuatanku. Aku,-
"Pak presdir. Baiklah... Saya akan mengerahkan orang untuk terus mencari.
Di rumah orang tua Braga.
Mama dan Papa sedang duduk diruang keluarga. Mereka nampak canggung. Entah apa yang terjadi diantara mereka.
"Dari mana kamu?" Tanya Mama seraya bangkit dari duduknya. Berjalan menghampiri Hana.
"Aku tadi, mengunjungi temanku yang sedang sakit." Jawab Hana sembari mengarahkan jari telunjuk kebelakang tubuhnya.
"Temanmu? yang mana? ku perhatikan, kau bukanlah orang yang suka membuang-buang waktu untuk temen." Ujar Mama sembari menatap Hana curiga.
"Aku memang tidak memiliki banyak teman. Bukan berarti aku tidak bisa berteman kan?" Jawab Hana ketus.
Mama tersenyum licik.
"Kau tidak berhak keluar masuk rumah ini sesukamu. Kami masih bermurah hati mengizinkanmu tinggal itu sudah keberuntungan besar untukmu. Mulai sekarang, kau tidak diberikan izin untuk keluar dari rumah ini tanpa izin ku.
Papa melipat koran yang sedang ia baca. Membantingnya ke meja. Membuat Mama dan Hana terkejut. Ini adalah kali pertama Papa menunjukan rasa tidak suka nya secara langsung.
"Apa belum cukup masalah yang kau bawa kerumah ini?!" Tanya Papa dengan nada membentak. Tak menatap juga tak bergeming dari posisinya.
__ADS_1
"Iya,.. wanita ini memang perlu disiplinkan." Jawab Mama sembari melirik Hana yang berada disampingnya.
"Rubah tua. Kau benar-benar licik. Tunggu saja kejutan dariku." Batin Hana.
"Bukan dia tapi kamu!" Ucap Papa seraya bangun dan berjalan mendekati Mama.
"A,..apa maksud kamu Pa?" Tanya Mama gugup.
"Berapa banyak lagi rasa sakit yang akan kau berikan pada anakku? kau selalu menyakitinya. Kau melukai anakku berkali-kali. Aku selalu menasehati mu. Tapi apa? tetap saja kau dengan sengaja menyakiti anakku." Ucap Papa yang terlihat marah.
"Aku tidak melakukan apapun. Sebagai seorang Ibu, aku tentu,-
"Cukup!!!" Papa mengangkat telapak tangannya untuk menghentikan apa yang akan diucapkan Mama.
"Kau bukan Ibunya. Kau tidak pantas menjadi Ibunya." Ucap Papa sembari menatap Mama marah.
"Apa maksud ucapan mu? kenapa kau begitu tega mengatakan hal itu?" Jawab Mama sembari menatap Papa penuh tanya.
"Sudahlah... aku sudah cukup kecewa denganmu. Lebih baik kau renungkan semua perbuatan mu. Jangan lagi memberikan luka untuk anakku. Aku harap, kejadian ini tidak ada hubungannya dengan mu." Ucap Papa dan langsung meninggalkan Mama yang masih termangu tak percaya. Ini adalah kali pertama Papa membentaknya di depan orang lain.
"Sepertinya, Tuan besar sudah mulai kehilangan rasa cinta nya. Lalu, apa yang akan anda lakukan?
"Omong kosong! kau sudah mulai berani ya?!" Mendorong tubuh Hana dengan kuat hingga Hana menjauh beberapa langkah darinya.
"Hahahahaha.......Nyonya, kadang-kadang aku juga bertanya-tanya. Kenapa anda begitu jahat. Anda ingin menyingkirkan istrinya anak anda. Padahal, anda tahu kan? kalau anak anda hanya bisa bahagia bersama dengan istrinya? semua orang yang mengetahui ini, pasti akan bertanya-tanya. Anda ini ibu kandungnya atau bukan?. " Hana tersenyum meledek. Menyibakkan rambut dan berjalan meninggalkan Mama yang kini sedang memendam kekesalannya.
Dari jarak beberapa meter, Selli mengamati pertengkaran yang terjadi diantara Hana dan Mama.
"Jika ku perhatikan, akhir-akhir ini Hana sering pergi keluar. Kemana dia pergi? apa dia merencanakan sesuatu? aku pikir perempuan itu sangat bodoh. Jika tidak melihat cara dia bertengkar dengan Mamanya Mas Braga, aku tidak akan tahu jika dia sebenarnya tidak boleh diremehkan." Gumam Selli dalam hati. Matanya lekat menatap Hana yang mulai menjauh dari pandangannya.
Sesampainya dikamar. Hana duduk dipinggiran tempat tidur. Wajahnya nampak panik.
"Tadi itu Selli sedang mengintip ku kah? apa dia menyadari sesuatu? aku harus mencari alibi. Tapi apa? tidak. Aku tidak boleh memikirkan alibi terlebih dulu." Hana bangkit dari duduknya. Berjalan ke kanan dan ke kiri mencari ide untuk mencegah hal buruk terjadi.
"Jika dia mencurigai ku, dia tidak akan melepaskan ku. Dia akan menggunakan kelemahan ku. Dan kelemahan ku adalah Ameera. Jadi aku harus mengamankan Ameera. Iya. tidak ada jalan lain lagi. " Hana meraih ponselnya untuk menghubungi Braga. Dua kali panggilan tak juga mendapatkan jawaban. Akhirnya telat di panggilan ke tiga, Braga menjawab teleponnya.
__ADS_1
'Ada apa?' Braga.
'Mas, bisa aku bicara sebentar?' Hana.
'Apa?' Braga.
'Bolehkah aku menitipkan Ameera bersama mu di apartemen?' Hana.
'Kenapa?' Braga.
'Aku, aku mungkin akan kekurangan waktu untuk menjaga Ameera. Jojo dan Jean adalah anak-anak yang pintar. Aku berharap, dengan Ameera tinggal bersama mereka, akan membuat Ameera secerdas mereka.' Hana.
'Memang kesibukan apa yang mengharuskan mu melakukan itu?' Braga.
'Em,.. begini Mas. Aku memiliki sahabat karib yang saat ini sedang sakit. Dia tidak memiliki siapapun yang bisa menjaganya. Aku ingin menjaganya sampai dia pulih. Boleh kah?' Hana.
'Iya.' Braga.
'Terimakasih.' Hana.
"Ini adalah yang terbaik. apartemen Mas Braga dijaga oleh orang yang berpengalaman. Ameera juga akan baik-baik saja disana. Sekarang, aku harus tetap tenang. dan sementara waktu ini, aku harus bisa mengelabuhi Selli agar tidak menambah kecurigaan nya terhadap ku." Gumam Hana.
"Ada apa pak presdir?" Tanya Saka sembari membuka pintu dan mempersilahkan Braga masuk.
"Hana menitipkan Ameera padaku untuk sementara waktu." Jawab Braga saat Saka sudah memasuki mobil dan bersiap untuk mengambil posisi duduk.
"Kenapa? ini agak sedikit aneh pak presdir." Ujar Saka sembari memasang sabuk pengaman.
"Iya. Aku juga merasa agak aneh. Dia terlihat sibuk akhir-akhir ini. Maria selalu mengirim pesan pada ku saat menjaga Ameera. Hampir setiap hari dia pergi. Entah apa yang dia lakukan." Ucap Braga sembari memijat keningnya yang terasa agak pusing.
"Mungkinkah dia,-
"Dia apa?" Tanya Braga yang merasa penasaran karena Saka menghentikan ucapannya.
"Em... Apa mungkin, dia ada hubungannya dengan hilangnya Nyonya muda?" Tanya Saka sedikit ragu. menebak-nebak bukan masalah kan.
__ADS_1
.............................