
Pagi telah Datang. Dara terbangun dari tidurnya dengan buru-buru. memunguti baju yang berserakan dibawah tempat tidur. menaruhnya di sebuah wadah untuk baju kotor. sedikit membuka gorden untuk melihat sinar matahari.
"Oh ya ampun. ternyata sudah siang ya?" Dara berjalan dengan cepat untuk melihat jam di ponselnya. terkejut.
"ya ampun. sudah pukul delapan. aku kesiangan." Dara membangunkan Braga yang masih terlelap.
"Mas,..! Mas,...! bangun! ini sudah pukul delapan. bangunlah kita harus berangkat ke kantor.
Braga membuka sedikit matanya. lalu menarik kembali Dara agar jatuh ke pelukan nya.
"Mas,.! ini sudah pukul delapan. apa tidak dengar?
"Apa kau lupa ini hari minggu?" ucap Braga dengan mata tertutup dan masih memeluk Dara.
"Ya ampun,.. aku lupa hari Mas." malu sendiri. baru kali ini ia melupakan hari.
"Kau baru bekerja beberapa hari sudah lupa hari. jangan-jangan, nanti kau lupa suami dan anak-anak mu." sudah mulai mencari alasan agar Dara tidak lagi bekerja. terlebih lagi, atasannya seorang pria.
Dara terdiam tak ingin menjawab. percuma saja meladeninya, akhirnya dia juga yang terbukti bersalah.
"Mas, nanti malam anak-anak pulang." mencoba mengubah topik pembicaraan.
"Benarkah?
"Iya. aku lupa memberi tahu. semalam anak-anak mengirim pesan." tersenyum karena berhasil mengalihkan pembicaraan mengenai pekerjaan.
"Apa kau memberi tahu mereka aku akan bertemu dengan mereka?" wajah gembira tidak lagi bisa disembunyikan.
"Tidak." jawaban Dara membuat wajah Braga seketika kehilangan rona kebahagiaanya.
"Kenapa?" kalimat yang penuh keputus asaan.bersamaan dengan bergantinya dari rona bahagia kini menjadi kekecewaan.
"Aku hanya ingin memberi mereka kejutan." sudah tidak tahan melihat wajah Braga yang mulai berubah menjadi sedih. padahal memang Dara lupa memberi tahu anak-anak.
"Benarkah" berubah kembali menjadi sangat senang.
"lalu, apa aku bisa melihat photo mereka terlebih dulu?
"Tidak. ini kejutan untukmu dan anak-anak.
"Baiklah. mari kita pergi berbelanja. kita beli makanan dan barang kesukaan anak-anak kita." begitu antusias. membayangkan bisa bertemu dan memeluk anak-anaknya membuat Braga sudah tidak sabar lagi menunggu malam.
"Baiklah.
__ADS_1
Di rumah Braga dan keluarga.
Mama, Ameera, Hana, Papa dan Maria tengah menikmati sarapan mereka.
"Maria, apa ada kabar dari Braga? kenapa dia tidak juga pulang kerumah?" tanya Papa yang sudah selesai dengan sarapannya.
"Tidak tahu. biarkan saja. dia sudah cukup tua untuk dikhawatirkan. mungkin dia sedang jatuh cinta." ucap Maria yang sedang menjauhkan piringnya karena telah selesai dengan sarapannya.
"Berapapun umurnya, anak tetaplah anak. orang tua pasti akan mengkhawatirkannya. menurutmu, apa dia bisa jatuh cinta dengan wanita lain?" tanya Papa dengan wajah seriusnya.
"Em,... sepertinya begitu. dulu, saat pertama kali jatuh cinta dengan kak Dara, dia hampir tidak pernah pulang. dia selalu menginap dirumah temannya dan belajar merayu wanita. dia sungguh menggelikan." Maria terkekeh mengingat Braga yang begitu konyol saat jatuh cinta pada Dara.
Papa tersenyum mengingat apa yang dikatakan Maria benar adanya.
"dia adalah pria yang rupawan. dia memiliki nilai tambah. yaitu uang. siapa yang tidak mau dengannya. Papa harap, wanita itu seperti Dara.
Maria mengangguk tanda menyetujui apa yang di ucapkan Papa.
'Brak........!
Mama menggebrak meja dengan posisi duduk.
"Kalian ini apa-apaan! kalian tidak lihat ada Hana disini? sudah ada menantu. tidak akan ada yang lain." sudah entah seperti apa menyeramkan nya wajah Mama saat marah. semakin hari semakin menggila saat marah.
"Oh, iya maaf. maaf. aku sampai lupa kalau ada dia. sudah tidak perlu berteriak lagi. lihatlah. Ameera ketakutan melihat Mama kalau sedang marah seperti monster." menunjuk Ameera dengan bibirnya.
"Ayo Ameera. kita ke taman saja ya?" ucap Hana sembari menarik tangan Ameera untuk menuju taman.
Sesampainya di taman, Ameera langsung berlari untuk melihat bunga yang mulai bermekaran. Bibi dirumah ikut untuk mengajak bermain Ameera. Hana duduk terdiam di sebuah bangku dibawah pohon. mengingat apa yang dia dengar di ponsel membuat hatinya terasa sakit. tak tahan lagi, Hana mulai meneteskan air mata.
"Apa aku tak ada artinya? aku hanya ingin merasakan apa yang Dara rasakan. dicintai oleh Mas Braga. memiliki segalanya. kenapa aku tidak layak? aku juga cantik. apa, apa karena tubuh ku tidak sebagus tubuh Dara? tapi, tubuh ku begini karena pernah mengandung kan?" Hana menghapus air matanya.
"tidak. aku tidak akan membiarkan ini terjadi. aku akan menjadi istri Mas Braga apapun yang terjadi." gumam Hana dalam hati.
"Hana..!" panggil Mama.
Hana bangkit dari duduknya. dengan cepat mendekat ke arah Mama.
"iya Ma. ada apa?
"Ayo bergegas. aku ingin mengajakmu berbelanja. aku lihat kau murung sedari tadi. belanja akan membuat hati menjadi senang.
"Baik.
__ADS_1
Dikamar Maria. beberapa kali Maria mencoba untuk menghubungi Braga. tepat dipanggilan ke enam belas. Braga mengangkat teleponnya.
'*hallo Mas.
'Iya ada apa?
'Aku ingin memberi kabar penting.
'Apa? katakan saja.
'Kita bertemu saja. tidak bisa lewat telepon.
'Besok saja. aku sedang sibuk.
'Mas, kau memindahkan ponselku*?
Maria tertegun mendengar suara wanita di ponsel Braga. dengan cepat dia mengakhiri panggilan teleponnya.
"dia, Mas Braga dengan wanita? apa tidak salah? ah..! sudahlah. aku kan ingin memberikan informasi tentang anak Mas Braga dan kak Dara. biarlah. aku tunggu dia pulang saja." gumam Maria yang kembali memasukkan amplop coklat ke lemari.
"ah,.. keponakan kembar ku, aku sudah tidak sabar lagi." Maria tersenyum girang.
Di supermarket.
"Mas, ini terlalu banyak." Dara mengembalikan sayur-sayuran yang sudah Braga masukkan kedalam keranjang belanjaan.
"Tidak masalah. anak-anak menyukai sayuran kan?" kembali memasukkan sayuran kedalam keranjang belanja.
Dara mendesah sebal.
"Mas,. kalau membeli sebanyak ini, tidak akan habis. nanti sudah tidak segar lagi setelah beberapa hari tidak bisa digunakan lagi. memang kamu mau anakmu memakan sayuran yang layu?
"Tidak!" dengan cepat, Braga mengembalikan sayuran ditempatnya lagi. Dara tersenyum dan mengusap kepala Braga. layaknya anak-anak yang sedang patuh.
"Mah, itu,.. itu Mas Braga?" tunjuk Hana pada kearah seorang pria dan wanita.
Mama memperhatikan dengan seksama. saat Braga menghadap kesamping untuk menatap Dara, barulah Mama yakin itu adalah Braga.
"Iya kau benar. lalu siapa wanita itu?" kesulitan mengenali karena hanya nampak punggung belakang saja.
Hana mengepalkan tangannya dengan kuat. akhirnya memutuskan untuk mengikuti Mama yang sedang berjalan mendekat ke arah Braga. Mata Hana sudah tidak dapat menahan air matanya lagi.
"Jadi kamu tidak pulang kerumah karena wanita ini? aku akan membuat perhitungan dengan wanita penggoda ini." gumam Hana dalam hati sembari terus melangkah mendekati Braga.
__ADS_1
..............