Ibu Dari Anak Suamiku

Ibu Dari Anak Suamiku
Tamparan Untuk Jojo


__ADS_3

Jojo dan Jean berada tepat di pintu utama rumah milik orang tua Braga. saling menatap dan meyakinkan.


"Are you ready?" tanya Jojo sembari memberikan telapak tangan kanannya.


"Im ready." Jean menyambut tangan Jojo. berjalan bergandengan untuk memasuki rumah orang tua Braga.


Langkah Jean dan Jojo terhenti saat melihat ruangan yang kini telah diubah menjadi serba pink. dekorasi, lampu hias, balon-balon yag menggantung di beberapa sisi ruangan juga berwarna pink. tempat untuk menyediakan hidangan juga ikut berwarna pink.


Jean mendekati salah satu Bibi yang biasa bekerja dirumah untuk bertanya.


"permisi ibu,. apakah ini birtday?


Bibi menatap Jean penuh kekaguman. bibirnya tersenyum senang melihat anak majikannya yang begitu sopan dan tidak menjaga jarak darinya.


"iya Nona Jean. ini hari ulang tahun Nona Ameera.


"Menjijikan. dekorasinya membuat mataku sakit." ucap Jojo sembari menatap sekeliling ruangan yang diubah serba pink.


"Iya benar. dia itu kekanak-kanakan sekali." timpal Jean.


Bibi yang sudah terkejut mendengar ucapan Jojo, kini semakin merinding mendengar Jean yang memberikan pendapatnya. bukankah anak perempuan akan menyukai ini. batinnya.


"Baiklah Ibu,.. aku akan pergi kekamar tante Maria. selamat bekerja." ucap Jean sembari tersenyum dan melangkahkan kaki menuju kamar Maria.


"Ba,.. baik Nona Jean." jawab Bibi yang masih terpaku mengingat ucapan Jean dan Jojo.


Jojo melangkahkan kaki mengikuti Jean yang sudah jauh darinya. langkahnya terhenti saat tak sengaja mendengar percakapan Hana di balkon. Jojo mencoba mendengarkan ucapan Hana dengan seksama. kalau bukan untuk rahasia, tidak mungkin akan melakukan panggilan telepon di balkon yang jarang dilewati orang. batin Jojo.


'Aku mau obat yang paling efektif. dan ingat. aku ingin yang mengkonsumsi obat itu nanti tidak akan bisa menolak. pastikan obat itu sampai sebelum jam delapan malam. kau mengerti?!" ucap Hana.


"Obat?" gumam Jojo bingung.


"untuk siapa? aku tidak boleh melepaskan pandanganku dari Bibi jahat ini." batin Jojo yang masih terus mengamati Hana.


Melihat Hana yang berjalan ke arahnya, Jojo dengan cepat berbalik arah dan kembali berdiri di tengah-tengah ruangan yang akan digunakan untuk acara ulang tahun Ameera.


Entah mengapa, melihat Jojo berdiri ditempat yang kini sedang ia gunakan untuk acara ulang tahun Ameera menjadi kesal. dengan cepat Hana menghampiri Jojo yang juga membalas tatapan tajam Hana.


"Untuk apa kamu ada disini?" tanya Hana. kedua lengannya melipat dan meletakkannya di bagia dada.


"Menurut Bibi? apa yang sedang aku lakukan?" tanya Jojo. tak mau kalah dengan tatapan Hana yang tajam, Jojo semakin menajamkan tatapannya. iya,. dia paling mahir dalam hal ini.

__ADS_1


"Kau pikir aku takut melihat tatapan mu itu?" masih dengan wajah tak sukanya.


"Apa kau merasa terganggu dengan tatapanku?" tanya Jojo balik. kali ini, ada sedikit senyum licik diwajahnya.


"Kau masih anak-anak. bertingkah lah layaknya anak-anak seusia mu." kali ini merubah posisi. kedua tangannya berada di kedua sisi pinggang.


"Heh....?! bisa tolong jelaskan kata-kata Bibi barusan?" wajah Jojo terlihat meremehkan lawan bicaranya.


"Kau ini seharusnya bertingkah lebih sopan padaku. apa Ibu mu tidak mengajarimu sopan santun?" tanya Hana. mencoba memprovokasi Jojo yang tidak terlihat ketakutan sama sekali.


Jojo terlihat sedikit marah. namun, bukan Jojo namanya jika tidak dapat mengendalikan emosinya.


"apa Bibi meragukan Mommy ku? Bibi tahu? perbedaan Bibi dan Mommy?


"Aku tidak butuh untuk mengetahui hal tidak penting itu." nyatanya, Hana sendirilah yang terbakar oleh emosinya sendiri.


"Hehe,.. aku ingat, apa Bibi ingat saat mau memukul Lilu?. jika itu Mommy, dia tidak akan melakukan hal yang bersifat kekanak-kanakan. jadi, yang perlu bertingkah seusianya, bukan aku. tapi Bibi sendiri." ucap Jojo sembari menatap Hana tajam. bibirnya dihiasi dengan senyum yang terkesan sangat dingin.


"Kau benar-benar membuatku muak.!!" ucap Hana dengan wajah marah. tangannya mengangkat ke atas. siap untuk mengayunkan ke pipi Jojo.


"Berhenti.!!!" bentak Maria. wajahnya benar-benar terlihat marah. jemarinya mengepal dengan kuat.


Hana menurunkan tangannya. wajahnya masih terlihat sangat kesal.


"Ini tidak ada urusannya denganmu. anak ini butuh pelajaran. jika tidak,-


"Apa?! lakukan saja. jika aku hanya mampu mematahkan tanganmu, maka mas Braga, akan menendang mu keluar dan tidak akan ada tempat untukmu bisa kembali lagi." ucap Maria sembari terus mengeratkan genggamannya. menahan emosi.


"Tante...! jangan memarahi Mamaku." pekik Ameera sembari berlari dan memeluk pinggang Hana.


"Tante, ini bukan salah Mamaku. ini salah anak itu yang mengganggu Mama." Ameera menunjuk Jojo.


Jojo tersenyum sinis." kau, menjijikan sekali. sama seperti tempat yang diubah menjadi menjijikan ini. apa kau tidak malu? usia mu tujuh tahun tapi kau bertingkah seperti balita yang berumur dua tahun." ucap Jojo sembari menatap Ameera tajam.


'Plakkkk.......!


Hana benar-benar kehilangan kesabaran. tak bisa lagi menahan tangannya untuk menampar pipi Jojo.


Lain halnya dengan Jojo. bukannya mengaduh kesakitan, Jojo justru terdengar tertawa kecil. seolah meremehkan sikap Hana.


"Kau mau mati ya?!" bentak Maria. tangannya meremas baju di bagian depan dada Hana. matanya tajam seolah sedang bersiap untuk memangsa.

__ADS_1


"Apa kau tidak dengar? anak ini yang memprovokasi ku." ucap Hana sembari menepis tangan Maria.


"Kau sudah benar-benar tida sayang dengan nyawamu ya?! baiklah." Maria bersiap untuk menampar pipi Hana.


"Tunggu!!!" Mama mencegah Maria yang sudah siap untuk menampar pipi Hana.


"Apa?! mau membela perempuan ini? lakukan saja. aku akan mengadukannya. dia menampar Jojo. aku akan membuatmu ditendang sejauh mungkin dari rumah ini." ucap Maria yang semakin kesal dengan kedatangan Mama.


"Diam!" bentak Mama yang kini berada dihadapan Maria.


"Sudahlah tante. tidak perlu berdebat lagi. biarkan saja mereka seperti itu. aku percaya, Jojo bukan orang yang kurang kerjaan sampai harus mencari masalah dengan Bibi." ucap Jean sembari menggenggam tangan Maria yang terus mengepal.


"Aku bukan Bibi mu. apa kau tida punya sopan santun? panggilan Bibi, hanya ditujukan untuk para pembantu dirumah ini." masih dengan wajah kesal tanpa penyesalan.


"Kau mau kami memanggilmu apa?" tanya Jojo yang menatap tajam Hana.


Hana menyunggingkan senyumnya.


"kau bisa memanggilku Nyonya kan?" nada bicara yang lembut. tapi matanya mengancam.


Jojo dan Jean saling menatap. kemudian mereka terkekeh. Maria terperangah tak percaya.


"Aku benar-benar tidak tahu. sebenarnya, kau ini manusia atau iblis?" tanya Maria dengan wajah marah.


"Jangan berdebat. ini adalah hari bahagia untuk cucuku tercinta. lihatlah,.. cucu Oma terlihat sangat cantik hari ini. " Mama mengusap kepala Ameera.


"Cih!!! meskipun Jean menyebalkan. Tapi Jean jauh lebih cantik dari cucu tercintamu." ucap Jojo sembari menatap Ameera.


Geram dan kesal. setiap kali Jojo membuka mulut, hanya akan ada dua hal. menyakiti dan menghina. selain itu, sangat jarang dia berucap.


"Biarkan saja mereka. ayo sayang, kita pergi dari sini." ajak Maria sembari menggandeng Jojo dan Jean.


"Baiklah,. aku dan Jojo juga tidak suka tempat yang terlihat aneh ini." timpal Jean.


"Lebih tepatnya, ini menjijikan. mataku sakit saat melihatnya." ucap Jojo sembari berjalan bersama Jean dan Maria.


Sementara dikantor. Braga mengepalkan tangannya dengan kuat. matanya menatap benci juga marah. membanting sebuah Tab yang terhubung melalui CCTV. menunjukan aktivitas yang terjadi dirumah orang tuanya saat ini.


"Saka!" bentak Braga. membuat Saka yang berdiri tidak jauh darinya terperanjak.


"Iya presdir." Saka berjalan mendekati Braga yang terlihat kesal.

__ADS_1


"Batalkan meeting sore ini. kita pulang kerumah sekarang." ucap Braga sembari menahan marah.


......................


__ADS_2