
Hana terduduk dilantai sembari menangis. mengingat penolakan demi penolakan yang diterima selama ini. tak ada tempat untuk mencurahkan isi hati. betapa sakit serta malunya. merendahkan diri sendiri hanya untuk ditiduri oleh seorang laki-laki.
"Apa aku begitu menjijikan? apa aku sama sekali tidak pantas? kenapa semua orang tidak menginginkan ku? kenapa aku harus mengalami ini semua?" pertanyaan demi pertanyaan menusuk dihati. semakin banyak pertanyaan, maka rasanya terasa amat menyakitkan.
Hana bangkit dari posisinya. berjalan mendekati sebuah lemari dan mengeluarkan amplop berwarna coklat. dengan kuat Hana memegang amplop itu hingga terlihat gemetar tangannya.
"Ini semua karena mu. aku menderita karna mu. aku harus melalui ini semua karena mu. akan aku balas hingga tuntas. lihatlah saja. kau, tidak akan pernah aku lepaskan. kau, akan mendapatkan kesakitan yang teramat." ucap Hana sembari memandangi sebuah amplop berwarna coklat yang kini tengah ia pegang dengan kuat.
Didalam ruangan kerja pribadi milik Braga. Dara dan Braga telah usai melakukan kegiatan mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi Mas?" tanya Dara sembari membenahi pakaiannya.
"Sepertinya, Hana memasukkan obat perangsang di makananku." jawab Braga sembari membantu Dara merapikan pakaiannya.
"Lalu, sudah sejauh apa kalian tadi?" tanya Dara. matanya menatap Braga menyelidik.
Braga menghela nafas dan menghentikan tangannya yang kini sedang merapikan rambut Dara.
"sejauh apa tadi kamu lihat sendiri kan? aku tidak melihat apapun. aku tidak melakukan apapun. kau bisa memeriksa rekaman CCTV kalau kau tidak percaya" ucap Braga yang mulai terlihat sedikit kesal dan mulai kembali merapihkan rambut Dara.
"Heh?! kamu bisa kesal juga rupanya Mas." ucap Dara sembari memegang wajah Braga.
"Tidak. aku tidak kesal. hanya sedikit kecewa. ternyata, kau masih tidak mempercayai ku." jawab Braga sembari memeluk tubuh Dara yang kini ada dipangkuan nya.
"Baiklah,.. maafkan aku. aku tidak akan meragukan mu lagi." ucap Dara sembari memeluk Braga.
"Ingat terus kata-katamu ini. jangan sampai, aku harus mengingatkanmu." jawab Braga sembari membalas pelukan dari Dara.
"Baiklah.
Ke esokan paginya. setelah sarapan pagi, Mama datang kekamar Hana. melihat Mama yang begitu antusias datang kekamar nya sepagi ini, Hana sudah mengerti apa yang akan dibicarakan. Hana meminta Ameera untuk pergi bermain.
"Kamu pasti sudah tahu apa yang akan aku bicarakan." ucap Mama sembari melipat kedua lengannya dan meletakkannya didepan dadanya.
"Aku sudah tahu." jawab Hana sembari mengambil posisi duduk ditepian tempat tidur.
__ADS_1
"Kalau begitu, cepat pergilah dari sini. karena sebentar lagi, akan ada wanita yang mampu menggantikan mu." ucap Mama sembari berjalan dan berhenti tepat dihadapan Hana yang kini tengah terduduk.
Bukan marah, Hana justru terkekeh.
"apa yang kau tertawakan?!" tanya Mama yang terlihat kesal.
"Aku hanya mengingatkan Mama saja. tidak mudah menyingkirkan Dara." ucap Hana sembari menatap remeh Mama.
"Cih!!!. jangan memandang remeh diriku. jika aku tidak bisa menyingkirkan Dara, maka, yang perlu aku singkirkan adalah, rasa cinta Braga untuk Dara." ucap Mama. bibirnya tersenyum licik. matanya lekat menatap Hana.
"Dasar rubah tua!!!. lihat saja. aku akan membuat hidup kalian semua hancur. sama seperti kalian menghancurkan hidupku." ucap Hana dalam hati.
"lakukan saja,.. aku hanya akan melihat, seberapa besar usaha Mama dalam memisahkan Braga dan Dara.
"Yang pasti, sekarang cepatlah kau tinggalkan rumah ini. besok, dia akan datang kemari." ucap Mama. matanya tajam tertuju pada hana.
"Ck...ck...ck.. rubah tua ini tidak sabaran. aku harus mencari cara untuk tetap berada didekat rubah tua yang licik ini." batin Hana.
"lalu, bagaimana dengan anakku?" tanya Hana. bibirnya tersenyum seolah yakin tidak akan terpisahkan dengan Ameera.
"Tidak. aku tidak bisa jauh dari putriku." ucap Hana. matanya mulai terlihat ingin menangis.
"Jangan berpura-pura. kau dengar sendiri kan? Braga juga sudah mengusir mu." ucap Mama sembari beranjak menjauhi jendela dan kembali berada didepan Hana.
"Aku akan memohon juga pada Mas Braga. aku tidak mau jauh dari putriku." pinta Hana. wajahnya benar-benar terlihat sedih dan tak berdaya.
"Cukup!! jangan menguji kesabaran ku. pergilah. kalau kau tetap ada disini, kau akan merusak rencana ku." ucap Mama semakin dibuat kesal.
Hana mulai meneteskan air mata. bersimpuh di kaki Mama. memegangi kedua kaki Mama.
"aku mohon Ma, kau tahu kan bagai mana kedua orang tuaku memperlakukan aku? aku tidak ingin kembali kesana. aku mohon jangan buang aku. anggap saja aku bekerja sebagai pengasuh Ameera." pinta Hana sembari terus menangis.
"Jangan memohon padaku. tidak ada gunanya." ucap Mama sembari mendorong tubuh Hana.
"Tidak... aku hanya punya Ameera. tidak ada lagi yang lain. aku mohon." Hana mengatupkan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Mama mendesah sebal. melihat Hana yang begitu memohon,ada sedikit rasa kasihan.
" terserah. jika Braga memberimu izin untuk tinggal, maka terserah kau saja. tapi ingat. jangan sampai kau merusak rencana ku." ucap Mama mengangkat jari telunjuknya ke atas. mengingatkan.
"Baik." ucap Hana yang masih bersimpuh dilantai.
Mama meninggalkan kamar Hana. Hana bangkit dari posisinya. mengusap kedua lututnya dengan kedua tangannya. mengusap air matanya. merapikan rambut sembari menyeringai licik.
"Tidak masalah aku melakukan ini. aku sudah kehabisan harga diri. tidak perlu gengsi. dan kau rubah tua yang licik. lihatlah,... permainanmu ini akan berhasil atau tidak." ucap Hana yang kini tengah duduk didepan meja riasnya.
Mama kembali kekamar dan menghubungi orang yang dia maksut.
'Hallo... datanglah besok. lakukan sesuai rencana. jangan sampai ada kesalahan sedikitpun.'
Hana tersenyum mendengarkan suara yang ada di ponsel nya.
"hahaha,...... kau bahkan tidak sadar ya aku sudah menyadap ponselmu." ucap Hana menertawakan percakapan Mama dan lawan bicaranya sembari menatap pantulan gambarnya di cermin.
"kau mau menyingkirkan Dara harus sampai sejauh ini? apa rubah ini tidak punya otak? kenapa dia semangat sekali menyakiti anak dan menantunya." gumam Hana.
"tunggu?! anak? apa mungkin ada seorang Ibu kandung yang akan terus menyakiti anaknya seperti ini? dilihat dari manapun, mustahil memisahkan Dara dan Braga. huh!! ini akan semakin seru. aku perlu banyak menggali tentang rubah tua itu. akan ku ciptakan senjata yang akan membuatmu tidak bisa mengangkat kepala mu lagi." gumam Hana.
Sepanjang hari, Mama terlihat baik dan suasana hatinya sedang kondusif. tak terlihat memusuhi Jojo dan Jean lagi. Papa dan Maria saling menatap seolah bertanya. ada apa dengan Mama.
Keesokan paginya.
Dara dan Braga, datang kerumah orang tuanya untuk mengantarJojo dan Jean. Dara menunggu di mobil. sedangkan Braga ikut masuk kedalam untuk mengantar kedua anaknya.
"Mas.........?!" suara yang tak asing dan sudah lama tak pernah Braga dengar.
"Selli?." ucap Braga sembari menatap Selli lekat. tak percaya, bahwa ia akan bertemu dengannya lagi.
"Aku benar-benar merindukanmu Mas." Selli sudah berjalan mendekat dan ingin memeluk Braga.
................
__ADS_1