
Dara menggenggam erat kemudi mobilnya. menarik nafas dan menghembuskan perlahan. ia melakukan hal ini berkali kali. pikiranya melayang membayangkan teman masa kecilnya kini adalah Bos yang harus ia layani. terlebih harus melihat adegan gila hari ini.
" semoga, aku tidak melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan. ini hanya untuk dua tahun kan? baiklah. aku hanya perlu sedikit menjaga jarak dari Erick. " Dara menghela nafas. " apakah dia tidak takut tertular penyakit? dia sungguh menjadi pria yang menjijikan. bahkan saat aku kembali dari toilet, dia dan asistennya bermesraan begitu. ah! sudahlah tidak perlu memikirkan Bos gila itu.
Satu pesan masuk me ponsel Dara. membuyarkan lamunannya.
Pingkan:ku tunggu di golden cafe sekarang. dua puluh menit tidak datang aku pergi.
Dara berdecih sebal. melemparkan ponselnya kembali ke kursi sampingnya.
Tak lama kemudian, Dara sampai di kafe yang telah ditentukan oleh Pingkan. sesampainya disana, Dara memarkirkan mobilnya dihalaman kafe dan langsung masuk kedalam untuk menemui Pingkan.
Dara mengelilingi ruangan menggunakan matanya. Dara tersenyum sebal melihat Pingkan yang tersenyum dari kejauhan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Dara duduk tepat didepan Pingkan. wajahnya menatap Pingkan sebal.
Pingkan terkekeh melihat wajah Dara yang begitu masam dan terlihat sangat sebal.
" apa kau tidak menikmati hari pertama kerjamu ini Dara?
Dara berdecih sebal. menatap Pingkan kecewa.
" apa kau sengaja? apa kau tahu? dia sangat menjijikan. dan yang lebih parahnya, dia adalah teman sekolah menengah pertamaku.
Pingkan tersenyum tapi entah apa maksut dari senyumnya.
"aku tahu itu Dara. kau, butuh bertemu orang seperti Erick. aku tidak bermaksut menjodohkan kalian. aku hanya ingin, kau tidak mengemas dirimu dalam luka yang menahun.
Dara mengerutkan dahi. tidak paham sama sekali apa yang dikatakan Pingkan.
" apa maksut dari perkataan mu?
Pingkan mendesah sebal. menatap Dara tajam dan menggenggam jemari Dara dengan erat.
" kau kesulitan melupakan masa lalu kan? belajarlah dari Erick. yang kau lalui tak sebanding dengan apa yang dilalui Erick selama ini.
" apa maksutnya? memang dia kenapa? dia terlihat seperti bedebah gila wanita. " ucap Dara yang mengingat kejadian dikantor hari ini.
Pingkan tersenyum sembari menggelengkan kepala.
" kau tahu rasanya melihat orang tuamu mati mengenaskan di depan matamu?
Dara membulatkan matanya terkejut.
" omong kosong apa yang kau bicarakan? menyeramkan sekali ucapan mu itu. " Dara mengusap kedua sisi lengannya merinding mendengar pertanyaan Pingkan.
__ADS_1
" Tapi Erick sudah melaluinya.
" Apa?! bagaimana bisa? apa, apa yang terjadi kepada orang tuanya? " ngeri bercampur penasaran. tak menyangka. jika orang yang nampak tak punya beban hidup itu telah melalui masa yang begitu suram.
" Orang tuanya saling terkam. mereka adalah anak tunggal. terbiasa hidup dengan manja. ketika mereka diterpa masalah mereka saling menyalahkan satu sama lain. hingga akhirnya, saling tikam dan meninggal. saat kejadian itu, Erick pulang membawa beberapa teman untuk merayakan ulang tahunnya. dan Erick mendapat kejutan ulang tahun yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. bukan hanya itu. setelah kejadian itu, adik perempuannya menjadi sangat syok berat dan harus dirawat diluar negeri.
Dara menggenggam erat genggamannya. jantungnya berdetak kencang.
" dia, kenapa bisa sekuat itu?
" Ya. itulah dia. beberapa tahun yang lalu, dia hanya menghabiskan waktu bersama adik perempuannya. dia juga kuliah diluar negeri agar bisa menemani adiknya. sebenarnya, dia memiliki kakak laki - laki. hanya saja, untuk memegang kendali dua perusahaan inti sangatlah melelahkan. itu lah mengapa akhirnya Erick dipaksa untuk bergabung.
Dara terdiam tanpa kata. tak bisa dibayangkan rasanya jika ia harus menjalani hidup seperti Erick.
Satu panggilan telepon mengalihkan fokus Dara. " siapa ini? tidak ada namanya di ponsel ku. " batin Dara.
'Hallo. Dara membuka matanya lebar.
'Iya. Baiklah. iya. iya.selamat malam juga.
" Siapa? " tanya Pingkan penasaran melihat wajah Dara yang langsung berubah ekspresi.
Dara mengakhiri panggilan teleponnya.
" Erick.
" Itu, dia mengajakku menghadiri sebuah pesta besok. dan dia,.
" Apa?!
" Menyuruhku menyimpan nomornya. berdandan lebih cantik. dan memanggilnya Erick hanya Erick bukan Tuan ataupun Presdir. " Dara hanya kebingungan dengan apa yang Erick ucapkan ditelepon.
Pingkan terkekeh geli.
" aku rasa, kau tidak akan berani datang kesana.
" Kenapa? " bingung dengan ucapan Pingkan.
"Karena ada orang yang sangat kau cintai dan kau rindukan.
" Apa maksut mu? " masih juga kebingungan.
" Mas Braga mu adalah salah satu tamu kehormatan disana. " ucap Pingkan sembari tersenyum meledek.
"Si,.. siapa bilang aku tidak berani? aku hanya belum siap mengahadapi dia. " ucap Dara gugup. matanya mulai tak fokus.
__ADS_1
" Jadi? kau yakin akan datang?" tanya Pingkan untuk memastikan?
" Aku tidak tahu. besok aku ada janji saat malam. " ucap Dara tanpa menatap Pingkan. dari pada terlihat berbohong, lebih baik tidak menatap Pingkan. karena mata kan tidak bisa berbohong. batin Dara.
"Tentu saja kau tidak berani. kalau aku jadi kau. aku akan mengobrak abrik hidup Mertuamu yang tengah damai itu. ambil kembali milikmu. anak-anak butuh Braga. apalagi dia akan bersekolah kan.
Dara terdiam sesaat.
" apa aku mampu melakukannya? aku bisa mendapatkan kembali apa yang pernah ku miliki dulu? " akhirnya terucap juga. kenyataan yang coba ia tutupi selama bertahun tahun tak dapat lagi ia rahasiakan.
Pingkan tersenyum. " kenapa kau ragu? apa kau takut? apa kau merasa tidak sepadan dengan wanita yang di idamkan oleh mantan Mertuamu dulu?
" Aku tidak merasa begitu. " ucap Dara sedikit kesal karena disepelekan.
" Kalau begitu kamu sudah siap sekarang? " tanya Pingkan dengan senyum meledeknya.
" Tentu saja. " ada keraguan dihati Dara. tapi mau bagaimana lagi. tidak mungkin juga akan terus lari dari kenyataan.
Dara dan Pingkan telah kembali ke rumah masing-masing. Dara memandangi sebuah ponsel yang berada digenggaman nya.
" tiba-tiba nyali besar yang tadi menggebu kini telah lenyap. aku merasa belum siap harus bertemu Mas Braga. jantungku berdegup kencang hanya dengan menyebutkan namanya. apa aku harus mengubungi Erick? tapi, apa yang akan Pingkan pikirkan tentangku? " gumam Dara masih memandangi ponselnya. ragu ingin menghubungi Erick untuk memberitahu bahwa ia tidak bisa hadir.
Dara masih sibuk dari lamunannya. tanpa sadar, Jojo tengah berdiri dibelakangnya dan telah mendengar gumaman Dara. meskipun tak terlalu besar nada suaranya, tapi cukup jelas ditelinga Jojo.
"Kenapa Mommy belum siap bertemu Braga? apa Braga yang Mommy maksut sama dengan orang yang saat ini aku pikirkan? kalau iya, apa hubungan Mommy dan Paman Braga? " batin Jojo.sekilas Jojo teringat dengan ucapan beberapa pengunjung taman bermain yang mengatakan, jika wajahnya dan wajah Braga sangat mirip.
"apa aku dan Jean adalah anak Paman Braga? lebih baik aku mulai investigasi sebelum menyimpulkan. batin Jojo.
" Mommy!.." panggil Jojo. mengubah sedemikian mimik wajahnya yang dingin agar tak terlihat kaku.
Dara terperanjak mendengar suara Jojo.
"Jojo,. sejak kapan kamu ada disini? " mencari tahu apakah Jojo mendengar ucapannya atau tidak.
" Aku baru saja sampai." ucap Jojo sembari mengambil posisi duduk disamping Dara.
" Mommy tidak tahu kau ada disini dengan tiba-tiba. " gugup karena takut Jojo mendengar ucapannya.
" Mommy terlalu sibuk memandangi ponsel Mommy. aku sudah beberapa kali memanggil.
"Be,benarkah?
"Iya.Mommy jangan terus memastikan. ini membuatku merasa bersalah karena ada disini. " ucap Jojo dengan wajah dinginnya.
" Iya baiklah anak kesayanganku.
__ADS_1
.................................