
malam yang sangat panjang telah dara lewati seorang diri. tidurnya sama sekali tak nyenyak. pikiranya berkelana entah kemana arah dan tujuannya. hatinya gelisah.
dara meraih ponselnya. sudah pagi. batinnya.
dara bangkit dan langsung bersiap untuk membersihkan diri. setelah selesai, dara duduk termenung ditepian tempat tidur. matanya lekat menatap pintu kamar. menunggu orang yang ia harapkan kedatangannya.
dara menarik nafas dan menghembuskan pelan.
" baiklah. tidak perlu menunggunya lagi. kenapa aku membuat diriku sendiri tersiksa dengan berpikir macam macam. biarlah semua terjadi."
dara mengingat ucapan maria. bahwa, dia tidak boleh terlalu mencintai suaminya. karena cinta yang berlebihan, akan berujung
menyakitkan.
dara memutuskan untuk keluar kamar dan menuju meja makan. sudah ada hana mama dan maria yang juga baru sampai.
maria melihat ke arah dara yang sedang bersiap mengambil posisi duduk.
" mas braga kemana kak?
dara terdiam sesaat. lalu tersenyum menatap maria.
" dia tidur,.
" braga semalam tidur bersama hana dan ameera. "
saut mama yang terlihat sangat bahagia hari ini. dara terdiam. tak usah berkata apapun lagi. batinnya.
maria membulatkan matanya terkejut.
" apa?!
" kamu tidak dengar yang mama katakan?
braga tidur bersama hana dan ameera.
maria langsung berjalan menuju kamar hana dengan wajah marahnya.
" mau kemana kamu maria?! tanya mama dengan nada membentak.
" menyeret mas braga keluar dari sarang jin.
ucap maria tanpa menatap mama dan terus berjalan. hana menyusul maria dengan langkah setengah berlari.
dengan cepat, hana menyalip maria. merentangkan kedua tangannya. mencegah maria membangunkan braga.
" jangan membangunkan mas braga. dia sangat lelah hari ini.
maria mendesah sebal.
" lelah? memang apa yang dilakukan mas braga? minggir! atau, akan ku buat bentuk payudara mu yang tidak seimbang itu semakin parah.
hana menatap marah maria. matanya sedikit berair.
" kenapa kau selalu menghina fisik ku? aku menjadi seperti ini, karena harus melahirkan bayi.
__ADS_1
" menghina? kenapa kau merasa terkejut. bukankah dari dulu kau sudah hina? kenapa baru sekarang kau merasa terhina.
dara dengan cepat mendekati hana dan maria.
" maria, sudah. jangan bertengkar lagi. ayo kita sarapan. ayo maria....
ajak dara. sayangnya maria masih bersikukuh untuk membuat braga keluar dari kamar. mama hanya terdiam dimeja makan. tidak tertarik untuk ikut campur.
pintu terbuka. hana yang berdiri ditengah pintu dengan posisi menyender dan merentangkan tangan, terperanjak. tubuhnya jatuh kebelakang tepat didepan dada braga. reflek braga menahan tubuh hana.
maria menatap marah. dara memilih untuk melihat kearah lain. hana mencoba bangkit dari posisinya.
braga masih kebingungan, wajahnya nampak lelah. wajah baru bangkit dari tidur sangat terlihat jelas.
" kenapa kalian bertengkar sepagi ini?
maria membulatkan matanya.
" ya tuhan! rasanya aku ingin memukul kepala mu mas.
" maria, memang kenapa? " braga terdiam sesaat. tersadar bahwa ia berada dikamar hana. braga langsung menatap dara. seolah ingin menjelaskan. dara sama sekali tak melihat braga sedikitpun. dia sibuk menenangkan maria.
" maria, ayolah,.. kenapa kau meributkan hal sepele seperti ini? dara masih mencoba untuk menenangkan maria.
" sepele? kau tidak merasa di hianati oleh mas braga?
" tidak." jawab dara tegas.
" kau sudah ikut hilang akal ya kak?
" maria, sungguh. aku tidak perduli. kau jangan terlalu mencemaskan ku.
kata kata tidak perduli yang diucapkan dara, mengandung banyak arti. maria tersenyum menatap dara dan braga yang masih mematung di pintu.
" baiklah kak. itu bagus. jangan terlalu mencintai seseorang. kurangi kadar cintamu hingga tujuh puluh persen. dengan begitu, kau tidak akan merasa sakit saat dia menghianati mu. dan menjauhkan mu dari sifat rakus. " melirik hana.
" maria!!!! "bentak braga.
" kenapa kau mengatakan ini? kau ingin istriku tidak mencintaiku lagi? " tanya braga marah.
" aku tidak menyuruh kak dara menghilangkan rasa cintanya. aku hanya mau dia, mengurangi kadar cintanya sekitar tujuh puluh persen. " ucap maria tersenyum tanpa beban.
" maria, dara adalah istriku. mengenai dara, biar aku yang urus. kau tidak perlu memberikan saran gila mu itu!.
" huh! dia istrimu? jika di novel kan, judul ceritamu ini apa ya? ah,, istri yang tersakiti begitu?
" maria!!."
seisi rumah terkejut mendengar bentakan braga. selama ini, braga tidak pernah membentak orang lain sampai sekeras itu. mata dara memerah. ini kali pertama melihat suaminya terlihat sangat marah. tangannya menjadi gemetar.
" apa!!!
maria membentak braga.
" aku tidak takut dengan suara kerasmu! apa kau tahu? kak dara adalah wanita yang diminati banyak laki laki. aku rasa, diluar sana, akan banyak laki laki yang bisa mencintai dan menerima kekurangan kak dara. kalau kau begitu mencintai kak dara. lepaskan dia. biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri.
__ADS_1
braga sudah sangat kesal. tapi dia tidak ingin menakuti dara. braga terus melihat dara yang ketakutan.
" pergilah ke psikiater! "ditujukan untuk maria.ucap braga yang masih emosi.
" kau lah yang membutuhkan psikiater!
braga menggeser tubuh hana dengan kasar. terdengar hana sedikit mengaduh. braga meraih tangan dara. menggenggam jemari dara. menuntunnya untuk ikut menuju kamar mereka. berlalu meninggalkan maria dan hana. terdengar suara ameera yang menangis sangat kencang. jangankan untuk melihat ameera. perduli pun tidak.
mama berjalan menuju kamar hana karena ameera menangis. sejenak mama melewati maria dan menatapnya sinis.
" berhentilah membuat kekacauan!
" kondisi disini sudah kacau saat aku datang.
" jangan melawan maria!
" pepatah mengatakan, jangan pernah takut saat kau merasa benar. " ucap maria tanpa menatap mama.
" aku sudah salah mendidikmu.
" dan aku bersyukur. aku tidak dididik oleh mama. aku takut akan seperti mama. terimakasih ma, terimakasih karena mengirim ku ke amerika.
" jangan membuat mama emosi maria!
" setiap hari mama selalu emosi. dengan atau tanpa adanya aku.
mama mendesah sebal. tak ada lagi kata kata yang bisa di ucapkan kepada anak gadisnya itu. mama memilih pergi menghampiri ameera yang sedang menangis.
maria berjalan menuju meja makan. mendesah kesal.
" apa? pagi ini aku sarapan sendirian? huh! coba saja ada papa. papa kenapa sih harus keluar negeri? ah,.. sudah lah. setelah marah marah di pagi hari, perutku menjadi keroncongan. " gumam maria.
sementara dikamar. braga memeluk dara yang terlihat ketakutan.
" sayang, maaf. aku tidak bermaksut menakuti mu. aku hanya sangat marah mendengar kata kata maria.
dara hanya terdiam tak berniat menjawab.
braga melepaskan pelukannya. memegang wajah dara. menciumi kening dara dengan lembut.
" aku, tidak akan bisa menerima, jika rasa cintamu kepadaku berkurang. dan, jujur saja. aku sedikit kesal karena kau tidak perduli.
aku tidak melakukan apapun terhadap hana. aku juga tidak sadar tertidur dikamar hana.
" tidak perlu menjelaskannya mas. mulai sekarang, aku tidak akan,-
braga mencium bibir dara sebentar.
" jangan mengatakan hal yang membuat ku takut.
dara terdiam memandangi braga.
" sebenarnya apa yang membuatmu takut? kehilangan aku? tapi kau tidak takut untuk menyakitiku. lalu bagaimana aku tidak akan menghilang jika aku merasa sakit terus menerus. " batin dara.
.....................
__ADS_1