
Ingin menangis. benar-benar ingin menangis. rasanya sangat sulit ketika melihat orang yang dicintai, kini terlihat begitu bahagia bersama orang lain. tak dihargai juga tak diharapkan. sedikitpun tak ada tempat lagi.
Hana berjalan menuju Braga. Mama berada didepan Hana. jantungnya berdetak sangat kuat. bahkan, seperti ingin loncat keluar rasanya. marah juga cemburu tak dapat lagi ia tahan.
"Mas, aku mau cari teh herbal ya. kamu jangan pindah tempat lagi." ucap Dara mengingatkan Braga yang sedang sibuk memilih buah-buahan.
"Pergilah. aku akan tetap disini hingga kau kembali." ucap Braga tanpa mengalihkan pandangan. matanya begitu serius meneliti buah yang dipilihnya untuk diberikan kepada anak-anaknya.
"Iya." Baru ingin melangkah ke belakang, Dara kembali membalikkan tubuhnya. terkejut bukan main.langsung menjatuhkan wajahnya ke dada Braga.
Braga mengerutkan dahi bingung.
"sayang kamu kenapa? kamu tiba-tiba memancing jiwa nakal ku untuk bangkit.
"Bukan. bukan itu Mas. ada Mamamu dan Hana dibelakang kita.
Braga ingin menengok untuk melihat.
"jangan! jangan melihat kebelakang. tunggu!"
Dara mengeluarkan masker dan kaca mata hitam dari tasnya. langsung mengenakannya.
Braga kebingungan melihat Dara yang terlihat begitu panik.
"kamu, kenapa memakai itu?" tunjuk Braga pada wajah Dara.
"Diam lah mas. aku tidak mau mereka mengenaliku.
Braga menggaruk tengkuknya.
"kemarin kau bilang, akan memberi Mama hari-hari yang mengesankan. kenapa kau begitu gugup?
"Aku belum bersiap. lindungi wajahku. jangan sampa mereka mengenaliku. apa kau mengerti?
"Braga!" panggil Mama yang sudah berjarak kurang lebih tiga meter.
"Iya." Braga menoleh dan berpura-pura terkejut. sementara Dara, tetap berpura-pura sibuk memilih buah.
"Rasanya aneh melihat Putra ku berbelanja dan memegang keranjang belanjanya sendiri." mulutnya berucap kepada Braga. tapi tidak matanya. terus saja memperhatikan Dara.
"Iya. ini demi wanita yang kucintai. apapun akan aku lakukan." ucap Braga dengan wajah datar dan dingin seperti biasa menghadapi orang lain.
Hana mengepalkan tangan sangat kuat. tak tahan lagi melihat dan mendengar apa yang terjadi.
"Mas, apakah pantas kau berkata demikian? aku adalah Ibunya Ameera. dan kau adalah Papanya. seharusnya kau menjaga perasaanku bukan? kau bersenang-senang dengan wanita ini." sembari menunjuk Dara. sementara Dara hanya sibuk berpura-pura dan menguping pembicaraan Hana.
"aku lebih berhak atas dirimu dibandingkan wanita ini." sudah sangat marah dan cemburu. hingga tak sadar mata nya meneteskan air mata.
Braga tersenyum sinis.
"kau, banyak bicara. aku muak denganmu. bahkan, jika kau tidak bicara, aku juga muak melihatmu." sudah malas menahan amarah.
__ADS_1
'Plak!!!!!!!!
Mama menampar pipi Braga. Dara terperanjak hingga membalikkan tubuhnya untuk melihat keadaan Braga. Mama dan Hana hanya memelototi Dara dengan penuh kebencian. untunglah Dara menggunakan kaca mata hitam dan masker hingga sulit untuk dikenali.
Braga mengusap pipi bekas tamparan Mama. menatap Mama dengan tatapan marah dan kecewa. sementara Mama, menutup mulutnya menggunakan jemari. terkejut dengan apa yang barusan ia lakukan.
Dara menatap Braga dengan tatapan bersalah. Braga tersenyum kepada Dara. memegang jemarinya.
"aku baik-baik saja sayang. tidak perlu khawatir.
Mendengar ucapan Braga, Hana menjadi hilang kendali. mendekat ke arah Dara. mengayunkan tangan kanannya berniat menampar pipi Dara. dengan cepat, Braga mencengkram tangan Hana kuat. terdengar Hana mengaduh dan meringis kesakitan.
"Jangan berani melukai wanita yang kucintai. atau akan ku pastikan, kau akan kehilangan tangan mu ini." Braga menghempaskan tangan Hana dengan kasar.
"Aku akan membuat wanita ini menyesal telah merebut mu dariku. dan kau." Hana menunjuk Dara.
"seharusnya kau tahu diri. dia sudah milik orang lain. carilah pria lajang. jangan merebut milikku.
Dara tersenyum geli mendengar ancaman Hana. menekan pita suaranya agar terdengar sedikit berbeda dengan suara yang biasanya.
"bukankah dia juga bukan milikmu?
"Kau benar-benar seperti pekerja **** komersial!" bentak Mama yang terus ingin melindungi Hana. Matanya bulat sempurna.
"Hahaha,.... terimakasih. sepertinya, itu lebih cocok ditujukan untuk wanita disamping anda.
"sayang, kita harus cepat. setelah ini, kita akan bertemu orang penting kan? " melihat beberapa orang yang mulai tertarik untuk melihat, membuat Dara memutuskan untuk pergi.
Mama mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. menghubungi seseorang.
'*hallo,. dengarkan baik-baik. cepat cari tahu dimana putraku tinggal selama beberapa hari terakhir.
'Sekarang aku ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan nyonya.
'Kapan urusanmu berakhir?
'Besok pagi aku jamin sudah free.
'Bagus. lakukan besok pagi. aku mau hasilnya secepat mungkin.
'Baik*.
Sesampainya di Apartemen. Dara menghempaskan tubuhnya ditempat tidur. terkekeh sendiri mengingat ucapan Hana. Braga berjalan mendekati Dara. ikut merebahkan tubuhnya.
"Kenapa kau terlihat bahagia? aku mendapat tamparan hari ini. kau ingat?
Dara memiringkan tubuhnya menghadap Braga.
"tentu. maafkan aku. kau mendapat cap tangan dari Mama karena aku.
Braga ikut memiringkan tubuhnya untuk memeluk Dara.
__ADS_1
"tidak. ini bukan salahmu. kenapa kau terlihat bahagia?
"Kau ingat apa yang Hana katakan? aku merebut mu dari nya? itu menggelikan sekali. aku ingin sekali menyumpal mulutnya tadi.
"Sudahlah tidak perlu mengingatnya lagi. masih ada waktu beberapa jam lagi sampai anak-anak pulang kerumah. jadi, kira-kira, apa yang harus kita lakukan?" tersenyum nakal.
"Tidur Mas. aku lelah. jaga tanganmu jangan menggerayangi ku." ucap Dara sembari mengubah posisi untuk tidur.
Braga menghela nafas.
"Baiklah, aku hanya akan memelukmu.
Saat malam hari. Dara dan Braga tiba dikediaman Ibu.
"sepertinya mereka sudah lebih dulu sampai rumah Mas. kita langsung masuk saja." Dara menarik tangan Braga.
Dara menghentikan langkahnya merasakan tangan Braga yang begitu dingin dan gemetar. wajahnya terlihat gugup dan panik.
"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Dara yang khawatir.
"Tentu aku tidak baik-baik saja. aku gugup. bagaimana kalau anak-anak tidak menerima ku? bagaimana kalau mereka membenciku? bagaimana kalau mereka,.
"Sudah Mas. hentikan omong kosong mu. percayalah padaku. mereka akan sangat bahagia bertemu dengan mu." mencoba menguatkan Braga.
Braga menarik nafas pelan dan menghembuskan perlahan. Dara terkekeh. bahkan Braga tidak pernah segugup ini saat memimpin rapat umum untuk para petinggi.
Dara menggenggam tangan Braga dengan erat. saat sampai didalam, Ibu dan Ayah terkejut melihat Braga namun terlihat bahagia menyambut kedatangan Braga.
Braga mengerutkan dahi. bingung. melihat sepasang anak kembar yang ia jumpai di taman bermain.
"Kalian,. kamu Jojo. dan kamu Jean ya?" Braga menunjuk satu persatu sembari mengingat. Dara terkejut. dari mana Braga tahu nama anak-anak mereka. padahal tidak memberikan informasi sedikitpun kepada Braga
Jojo dan Jean tersenyum sembari menganggukkan kepala.
"well come Daddy,...." Jean berlari sembari merentangkan tangan meminta untuk dipeluk.
Braga menyambut pelukan dari Jean dengan hangat. tak dapat lagi menahan air matanya yang ingin jatuh dari pelupuk matanya.
"jadi kalian adalah anak-anak ku?." mengeratkan pelukannya.
Dara terperangah terkejut dengan apa yang terjadi. Ibu dan Ayah tak dapat menahan air mata bahagianya. Jojo masih tegak berdiri. memalingkan wajah. karena ada air mata yang berjatuhan di pipinya.
"Jojo,.. tidakkah kau ingin memeluk Daddy?" Braga merentangkan sebelah tangannya. sebelahnya lagi memeluk Jean.
Jojo mengepalkan tangannya. mengusap air mata dan berlari dengan cepat memeluk Braga.
"I,.. i miss you dad"
Braga tak sanggup lagi berkata-kata. hanya mengangguk dan sesegukan.
.....................
__ADS_1