
Matahari menyinari bumi. cuaca cerah membawa semangat pagi. kicauan burung sudah mulai bersautan. akan ada kehidupan baru. pengalaman baru yang terjadi hari ini. banyak orang menjalani harinya penuh semangat. tapi tidak untuk Braga. baginya, hari demi hari yang dilalui tanpa Dara, adalah hari paling buruk yang tidak ingin ia lalui.
tak ada suara apapun selain dentingan sendok yang saling bersautan dimeja makan. Braga dengan cepat menghabiskan sarapannya, tak menunggu lama, ia langsung pergi meninggalkan tempat tanpa kata. begitu juga Papa. tak lama disusul Maria. meskipun makanan di piringnya sedikit, Maria tak mau menghabiskan.
" Maria! " bentak Mama yang memperhatikan sarapan Maria yang hanya beberapa suap.
Maria menghentikan langkahnya, yang sudah beberapa langkah meninggalkan meja makan. membalikkan tubuh menghadap Mama.
" apa?
" habiskan sarapan mu. jangan banyak bertingkah. kalian bertiga membuat mama pusing. " ucap Mama yang tak tahan dengan perlakuan suami dan anak anaknya.
Maria menghela nafas. melipat kedua tangannya ke depan dada.
" ma, aku sarapan disini, hanya untuk menghargai mas Braga dan Papa. kalau mereka sudah pergi, buat apa aku masih disini?
" kenapa kalian melakukan ini? sudah enam tahun. mau sampai kapan kalian begini? Mama minta maaf kalau mama salah. cobalah untuk hidup seperti dulu. saat wanita itu belum masuk kerumah ini. " Mama meneteskan air mata. keluarga yang dia anggap akan baik baik saja setelah Dara pergi, justru sama sekali tak dapat dikatakan damai. semakin hari, semakin tersiksa batin Mama.
" ma, apa Mama tahu kenapa kami marah? itu semua karena Mama tidak pernah sadar akan semua kesalahan Mama. dan mulai sekarang, berhenti untuk menjodohkan aku dengan anak teman Mama. aku tidak berminat. tolong jangan ikut campur masalah jodohku.
" Maria meninggalkan Mama yang yang terisak. Hana mencoba menenangkan.
" Mama, Papa dimana? aku mau ajak Papa liburan. karena teman teman aku semua pergi liburan. " rengek Ameera yang berjalan setengah berlari mendekati Mama dan Hana.
" Papa sudah berangkat sayang. nanti malam saja ya bilang Papanya? " jawab Hana sembari mencium pipi kiri Ameera.
Ameera merengut. " Papa tidak sayang aku ya ma? semua teman teman aku, pergi liburan. dan kalau akhir pekan pergi jalan jalan dengan Mama Papa. kenapa Papa tidak pernah mengajakku pergi jalan jalan? " rengek Ameera.
" nanti malam, Mama coba bilang Papa ya. kamu jangan ngambek lagi ok?
Ameera menganggukkan kepala.
Di tempat lain.
Jojo dan Jean asyik bermain di taman belakang rumah milik orang tua Dara.
" sayang, " Dara memanggil kedua anaknya dan mendekati mereka.
" hari ini, Mommy akan kerumah sakit, kalian tinggal disini dengan Uncle ya? kalau kalian lapar, nanti minta sama Uncle ya.
" Ok Mommy. Jean.
" mom, kenapa kita tidak boleh ikut? kami belum bertemu dengan kakek. tidak bisakah Mommy mengajak kami? " tanya Jojo masih dengan wajah dingin tapi mengkhawatirkan Dara.
Dara tersenyum sembari mengusap kepala Jojo.
" kamu khawatir tentang Mommy?
__ADS_1
" apa terlihat diwajah ku?
tanya Jojo sembari memalingkan wajah dari pandangan Dara.
Dara terkekeh.
" Mommy Ok. jangan khawatir. hari ini Kakek akan menjalani operasi jantung. doakan saja Kakek cepat pulih.
" kalau Kakek sudah sehat, bisakah Mommy mengajak kami pergi ke bali? " tanya Jean penuh harap.
" kalian ingin pergi kesana?
" kami hanya penasaran, setiap kali teman teman disana bertanya dari negara mana kami berasal, mereka selalu menceritakan bali. " ucap Jojo.
" iya benar. kami orang indonesia.tapi tidak tahu bali. " saut Jean dengan wajah kecewa.
" baiklah Mommy janji. setelah Kakek sembuh. kita akan pergi ke bali.
" yeay.... Jean memeluk Dara dengan girang.
" tidak perlu begitu senang jean. kau memalukan. apa kau tidak merasa tingkahmu berlebihan? " ejek Jojo dengan wajah dingin tanpa exspresi.
" hahaha,... jangan berpura pura. kita masih anak anak. bertingkah lah layaknya anak seusia kita. " jawab Jean sembari memasang wajah sebal.
" aku tidak mau. lagi pula, untuk apa melakukan itu. menjadi diri sendiri lebih penting. " Jojo meninggalkan Jean yang masih mendengus kesal. duduk dikursi memasang kaca mata hitamnya. menyenderkan tubuhnya di senderan kursi.
" terserah. jangan berbicara lagi. aku pusing mendengar suaramu.
Dara terheran dengan tingkah dua anaknya. hanya bisa tersenyum dan menghela nafas saat mereka berdebat.
sesampainya dirumah sakit. Dara menghampiri Ibunya yang sedang duduk dikursi tunggu menunggu operasinya selesai.
nampak Ibu yang sangat lusuh dan berwajah cemas. Dara menggenggam tangan ibu dan menatapnya.
" Ibu, Ayah pasti sembuh. operasinya juga pasti berjalan lancar. dokter sudah bilang kan, kalau tingkat keberhasilannya sangat tinggi. jadi jangan khawatir.
Ibu menganggukan kepala dan tersenyum. sesaat Ibu menatap Dara. seperti ingin menyampaikan sesuatu. Dara menyadari itu.
" ada apa bu?
" ah,. bukan apa apa Dara.
" Dara tahu ada yang mau ibu sampaikan. " Dara terus menatap Ibu.
Ibu menarik nafas. " dulu, sebelum kamu datang kerumah, suami kamu juga datang untuk mencari kamu. wajahnya sangat,-
" sudahlah bu, semua sudah berlalu. aku tidak ingin mengingat lagi. aku sudah cukup bahagia sekarang. jangan mengingatkan tentang dia lagi. " Dara menatap Ibu seolah memohon.
__ADS_1
Ibu hanya terdiam tanpa reaksi apapun.
" kamu tidak tahu Dara. wajahnya sangat jelas terlihat kacau. dia sangat mencintai kamu. tapi Ibu tidak berhak ikut campur. Ibu hanya berharap, setiap kamu melangkah, akan ada kebahagiaan di hadapanmu. " batin Ibu.
" Dara, boleh ibu bertanya?
Dara mengangguk sembari tersenyum.
" kenapa kamu tidak mengizinkan siapapun tahu kamu tinggal di negara apa selama ini? bahkan kamu merahasiakan ini dari orang tuamu sendiri.
Dara mengeratkan genggamannya. menatap Ibu dengan lembut.
" bu, Dara janji. nanti, Dara akan ceritakan semuanya. tapi, sekarang ini bukan waktu yang tepat bu. tunggu Ayah sembuh ya?
Ibu mengangguk mengiyakan.
Tak lama kemudian, Dokter yang mengoperasi keluar dari ruangan dan menyampaikan, bahwa operasinya berjalan lancar. Dara dan Ibu berpelukan dengan bahagia. setelah beberapa saat, Dara dan Ibu ikut mengantar para perawat yang sedang mengantarkan Ayah keruang perawatan. langkahnya terhenti melihat sosok laki laki yang ia kenal sedang duduk terisak dengan mencengkram rambutnya.
" bu, aku ada yang mau aku sapa. nanti aku susul ibu ya. " ibu mengiyakan.
Dara mendekati laki laki itu dan berdiri didepannya. laki laki itu masih tetap menunduk sembari terisak. tak lama, ia menyadari ada sepasang kaki dihadapannya.laki laki itu mengangkat kepalanya dan menatap wajah wanita yang berdiri dihadapannya.
sontak langsung berdiri. " Dara. " langsung memeluk dengan erat sembari terisak.
" mas Bima, ada apa? kenapa kamu menangis? " tanya Dara sembari menepuk nepuk punggung Bima mencoba menenangkan.
Dara mengajak Bima untuk duduk.
" tenang mas, ada apa? " tanya Dara dengan nada lembut.
" dia,. istriku, dia meninggal Dara. " Bima kembali menangis.
Dara menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. lalu memeluk kembali Bima dengan erat.
" sabar mas. aku tahu, kamu pasti sangat sedih sekarang. kamu harus ingat, semua yang hidup, pasti akan meninggal. kita hanya menunggu waktu. Tuhan pasti sayang istrimu mas.
" ini semua salahku Dara. seandainya dia tidak melahirkan anakku, dia tidak akan meninggal.
Dara melepaskan pelukannya. menggenggam tangan Bima dan menatapnya.
" dia meninggal karena melahirkan anakmu?
Bima mengangguk sembari sesegukan.
" dia berjuang untuk anakmu. dia pasti sangat mencintai anakmu. jangan menyalahkan dirimu. istrimu pasti sangat kecewa karena kau menyalahkan anakmu. jagalah dan cintai anakmu. dia pasti akan bahagia disana.
bima mengangguk.
__ADS_1
.......................