Ibu Dari Anak Suamiku

Ibu Dari Anak Suamiku
Enam tahun yang lalu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju kerumah, Dara tak henti hentinya menghela nafas. pikiranya tertuju dengan sebuah kalimat yang terucap dari bibir Pingkan.


" mengambil kembali milikku? apa aku perlu melakukanya? " gumam Dara sembari tetap fokus mengemudi.


Sesampainya dirumah. Dara sudah ditunggu oleh kedua orang tua adik dan anak anaknya. Dara tersenyum melihat kedua orang tuanya sedang bercengkrama dengan anak anaknya.


"Dara, " Ibu mendekati Dara yang menatap mereka dengan senyum diwajahnya.


" kamu dari mana nak? kenapa lama sekali kamu pergi. " kekhawatiran seorang Ibu yang pernah ditinggalkan anaknya selama bertahun tahun.


Dara tersenyum. memegang kedua lengan Ibu. " aku bertemu teman bu.


"Siapa? " menyadari jika teman Dara tidaklah banyak membuat Ibu menjadi khawatir. terlebih Dara tidak menyebutkan nama teman yang di maksut.


"Pingkan bu namanya. dia yang membantu ku selama aku tinggal di Belanda. dari hamil sampai usia anak anak lima tahun, dia selalu membantuku.


" Kenapa tidak membawanya kemari nak? Ibu ingin berterimakasih padanya. " ucap Ibu dengan raut wajah sedih. mengingat, bahwa dia tidak bisa bersama Dara saat hamil, melahirkan hingga membesarkan anak. Ibu tidak ada bersamanya.


"Ibu, Dara tahu apa yang Ibu pikirkan saat ini. itu bukan kesalahan Ibu. aku yang menginginkan itu. jadi, jangan merasa bersalah.


" Kalau begitu, ceritakan apa yang terjadi dulu. kenapa kamu meninggalkan kami semua. setelah empat tahun kamu pergi karena memilih suamimu, itu kali pertama kamu datang dan langsung meninggalkan kami hingga enam tahun. mengapa kamu menghukum kami Dara? " Ibu sesegukan mengingat semua yang terjadi.


" Ibu tenang, anak anak mendengar ucapan ibu. " Dara tak sengaja melihat Jojo yang begitu serius menatap dan mendengarkan ucapan ibu dengan wajah menyelidik.


Dara berjalan meninggalkan Ibu dan mendekati Jojo.


" Mommy, are you ok?


" Ya, Mommy ok. sayang, kamu ajak Jean masuk ke kamar dan tidur ya. ini sudah malam. besok, kita pergi untuk urus perihal sekolah kalian. " ucap Dara sembari mengelus pipi Jojo.


Tanpa kata, Jojo menggandeng tangan Jean masuk ke kamar. setelah sampai dikamar, Jean memukul kepala Jojo.


" ah! it hurt. " Jojo menatap Jean marah.


" Kenapa kamu tidak berpura pura saja tidak mendengar? tanya Jean yang kesal. niatnya ingin tetap berada diruang keluarga sembari menguping ternyata digagalkan oleh Jojo.


" Percuma saja. selama ada kita, Mommy tidak akan mengatakan apapun. " jawab Jojo sedikit kesal karena menerima pukulan dari Jean.


" listen to me. tidur sekarang. " perintah Jojo.


" What?! i can't . aku mau dengar Mommy bicara. " kapan lagi akan mengetahuinya kalau tidur sekarang. batinnya.


" Ok. believe me. im promise. i can,-


" Stop! aku tidak mau tidur titik. jangan memaksaku lagi.


Jojo menggenggam jemari Jean.


" biarkan aku yang mencari tahu tentang Daddy. aku tidak akan mengecewakanmu. percayalah. sekarang, lebih baik kau tidur. kau tidak bisa tidur terlalu malam. kau mudah sakit. percayalah padaku. " ucap Jojo meyakinkan Jean.


Jean mengangguk dengan wajah sedih.

__ADS_1


" berjanjilah Jojo. suatu hari nanti, akan membawaku bertemu Daddy.


" Ya. promise.


Jean dan Jojo membaringkan tubuhnya. Jean telah lelap tertidur. tapi tidak untuk Jojo. ia hanya berpura pura memejamkan mata saat Dara masuk untuk memeriksa apakah mereka sudah tidur atau belum.


Jojo bangun dari posisinya. mengeluarkan ponselnya.


" huh,. untung aku sempat melakukan panggilan melalui ponsel Jean ke ponsel ku.


Tiga puluh menit yang lalu. Jojo melakukan panggilan telepon melalui ponsel Jean yang terletak dimeja. lalu meletakan didekat kakinya dan menggeser ke bawah sofa duduk perlahan tanpa ada yang mengetahui sembari memperhatikan keadaan.saat Dara sibuk berbincang dengan Ibu dan Jean asyik bercanda dengan Ayah. Rian sibuk dengan ponselnya. Jojo sudah tahu kalau Dara pasti tidak akan berbicara apapun saat ada mereka.


Diruang keluarga, Dara menceritakan semua yang terjadi enam tahun lalu tanpa menyadari kalau Jojo mendengar melalui sambungan telepon.


Flash back.....


" Dara, kamu yakin akan pergi?


" Iya. aku tidak memiliki alasan yang lain. aku tidak ingin tinggal dirumah itu lagi. aku tidak ingin stres dan kehilangan bayiku lagi. Pingkan, terimakasih karena telah menawarkan bantuan sebesar ini. aku janji akan membalas semua kebaikan mu.


" Sudahlah, jangan berterimakasih. aku hanya, tidak habis pikir. apa maunya Mama mertua dan Suami mu itu? mereka membawa perempuan itu di pesta dan mengenalkannya kepada tamu. benar benar menjijikan. " Pingkan merasa kesal.


" Untungnya aku datang ke pesta. kalau tidak, aku tidak akan bertemu dengan penolongku kan? sebenarnya, suamiku juga enggan bersama wanita itu. karena Mama mertua alasan wanita itu ada disana. " ucap Dara dengan wajah kesalnya.


Pingkan menatap Dara lekat.


" aku akan merawat mu dan anak mu dengan baik. aku janji. tapi, kau tidak mau mempertimbangkan lagi. maksut ku Braga akan sangat sedih nantinya.


"aku tidak ingin membicarakan tentang dia. aku tidak ingin hatiku goyah. keputusan ini sudah bulat.


" Baiklah. ini adalah keputusanmu. aku tidak akan mencegah.


Dara menggenggam jemari Pingkan dengan wajah memohon.


"Pingkan, bolehkah aku meminta tolong padamu?


" apa? katakan saja.


Dara menyerahkan box di meja. Pingkan meraih dan membukanya karena penasaran.


" apa ini? " tanya Pingkan yang bingung. memegang sebuah kaset DVD.


" Ini adalah video rekaman milikku. aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun dari video ini. aku ingin kau memberikan ini kepada Maria. bisakah?


" Tentu saja.


Setelah selesai bertemu dengan Pingkan, Dara kembali kerumah untuk mengemas barang barang dan memasukkannya kedalam sebuah koper besar. saat malam tiba, Dara sengaja meminta semua orang berangkat terlebih dahulu. saat rumah kosong, dengan cepat Dara menghubungi Pingkan untuk menjemputnya.


Diperjalanan.


" kau yakin tidak akan menemui orang tuamu sekarang?

__ADS_1


" tidak. aku yakin, tidak lama lagi mas Braga akan datang mencari ku disana. lagi pula, aku sudah putus hubungan dengan keluargaku. mereka pasti tidak mau bertemu denganku. " ucap Dara dengan wajah sedih. setitik air mata jatuh membasahi pipinya.


" Tidak mungkin Dara. mereka adalah keluargamu. tidak mungkin mereka membencimu. temui mereka sebelum kau pergi. kalau suamimu datang kesana, lalu mengetahui apa yang terjadi, pasti orang tuamu sangat shock.


" Baiklah. kita Datang tengah malam. dan pastikan mas Braga tidak ada disana.


" Ok. aku akan menyuruh pengawal ku untuk memantau rumah kedua orang tuamu.


Tak lama kemudian.


" Dara, suamimu datang kerumah mu. sekitar tiga puluh menit yang lalu. dan sekarang sudah pergi. apa kau akan kesana sekarang?


Agak sedikit ragu, tapi Dara mengangguk.


sesampainya dirumah orang tua Dara.


Dara berdiri didepan pintu rumahnya. tangannya ragu untuk mengetuk pintu. mengigat kejadian beberapa tahun lalu saat dia memutuskan hubungan dengan keluarganya sendiri. Dara menarik nafas dalam dalam. menghembuskan perlahan. lalu mengetuk pintu.


Ibu membuka pintu. terkejut melihat sosok cantik yang selalu ia rindukan. tak terasa air matanya deras berjatuhan.


" Da, Dara?


Dara meneteskan air mata melihat ibunya menangis. " iya bu.


Ibu langsung memeluk tubuh Dara erat. matanya terus meneteskan air mata bahagia melihat putrinya kembali ke rumah.


" Siapa bu? tanya Ayah yang mendengar Ibu sesegukan. Ayah berjalan keluar dari kamar menuju pintu utama. terkejut dan juga haru.


" Ayah, " Dara mendekati Ayah. bersujud dikaki ayah memohon ampunan karena telah meninggalkan keluarganya demi Braga.


Ayah juga tak dapat menahan air matanya lagi. mengangkat bahu Dara agar tegak berdiri.


" sudah. tidak apa apa. kami sudah tahu semua. sekarang duduklah. kamu pasti lelah butuh istirahat. " Ayah hendak menuntun Dara untuk mengikutinya.


" Tidak ayah. " ucap Dara yang masih sesegukan.


Ayah terkejut mendengar bantahan Dara.


" ada apa?


Dara menundukkan kepala masih sesegukan.


" aku akan pergi sekarang.


" Lagi?! " tanya Ibu dengan ke putus asaan.


Dara mengangguk. tangisannya semakin tak terkendali.


" maaf Ayah. maaf Ibu. aku akan pergi keluar negeri. dan aku tidak bisa memastikan kapan akan kembali.


.......................

__ADS_1


__ADS_2