
Keheningan terjadi. Braga berjalan dengan kaki yang lemas gemetar. Percaya atau tidak? nyata atau hanya halusinasi rasanya sulit untuk membedakan. Braga memandangi seseorang yang kini tengah terduduk dikursi roda. Setelah jaraknya sangat dekat, tangan gemetar nya mencoba menyentuh wajah wanita itu. Hingga tak terasa air mata jatuh dipipi nya. Mereka saling menatap dalam diam dan air mata menahan rindu yang sudah tidak bisa dijelaskan lagi.
"Ini nyata? kau kembali?" Braga terjatuh dengan posisi berlutut. Sudah tak ada tenaga lagi untuk menopang berat tubuhnya.
"Aku kembali Mas." Mengelus kepala Braga yang kini tertunduk sembari menangis.
"Sayang, maaf... Maafkan aku. Kau datang disaat aku akan menikahi wanita lain. apa sekarang kau membenci ku?" Tanya Braga sembari menatap Dara yang terlihat pucat.
Dara menggelengkan kepala.
"Aku tahu Mas, hatimu tidak akan mencintai wanita lain. Aku tidak marah. Ini bukan salahmu juga bukan keinginan mu." Ucap Dara sembari menyeka air mata Braga.
Braga memeluk Dara dengan posisi berlutut dan Dara tetap berada dikursi rodanya.
"Mommy!." Teriak Jojo dan Jean sembari berlari dan memeluk Dara. Bingung yang dirasakan para tamu undangan. Bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Air mata haru penuh kebahagian dirasakan oleh Maria, Papa termasuk Hana.
"Apa ini? kenapa dia masih hidup? ini rencana Hana? tapi, saat aku menyelidiki nya, dia tidak melakukan pergerakan apapun yang mencurigakan. Sial!! aku terkecoh oleh tampang bodohnya. Aku harus tenang. Tidak ada bukti yang memberatkan ku kan?" Ucap Selli dalam hati.
"Jadi apa kalian akan mempersilahkan tamy-tamu ini untuk kembali ke rumah?" Tanya Hana sembari menatap Mama dan Selli bergantian.
"Tidak!! jangan membuat Mama malu Braga. Kau tidak bisa membatalkan pernikahan ini." Ucap Mama sembari menatap Braga marah.
Braga mencoba bangkit dengan posisinya. Terlihat agak gemetaran. Saka datang mendekati Braga dan membantunya untuk tegak berdiri.
"Maaf Ma. Istriku kembali. Aku tidak akan menikahi Selli. Maaf, semoga Mama bisa memahami ini." Pinta Braga yang terlihat bersalah.
"Tidak bisa Braga. Kau akan membuat Selli kehilangan muka. Kau harus tetap menikahinya. Tidak masalah bukan memiliki istri lebih dari satu." Ucap Mama yang masih bersikukuh.
'Plak..........!
Papa menampar pipi Mama. Terlihat wajah Papa yang sangat marah. Membuat tamu undangan mulai berbisik lebih ramai dari sebelumnya.
"Pa...?" Mama menatap Papa dengan wajah sedih. Seolah bertanya kenapa Papa menamparnya.
"Cukup! aku sudah muak. Kau selalu mengekang anakku. Kau pikir kau pantas?" Tanya Papa dengan nada membentak. Wajah marahnya benar-benar terlihat sangat jelas. Padahal, Papa adalah tipe orang yang tertutup dan lebih suka membicarakan masalah tanpa sepengetahuan orang lain.
__ADS_1
"Tapi kau tidak perlu memukul ku dihadapan banyak orang kan?" Tanya Mama yang sudah mulai meneteskan air mata.
Semua anggota keluarga hanya terdiam juga terkejut. Tak mampu mengatakan apapun. Papa terlihat sangat marah.
"Kalau tidak ku pukul, mulut mu itu akan semakin hilang kendali." Jawab Papa tegas.
"Kau juga tidak boleh mengatakan itu. Braga juga anakku." Protes Mama.
"Hahahaaa...... Nyonya, anda pintar berakting rupanya. Memang kapan anda melahirkan Mas Braga? Mas Braga sama sekali tidak mirip dengan anda. Ngomong-ngomong aku punya bukti loh kalau Mas Braga bukan anak kandung anda." Ucap Hana sembari tersenyum melihat Mama yang sudah mulai kehilangan kepercayaan diri.
"Omong kosong!! Dasar wanita murahan! jaga ucapan mu! " Bentak Mama. Mata juga jari telunjuknya tajam menusuk Hana.
Semua orang terkejut mendengar ucapan Hana. Terkecuali Papa yang hanya bisa diam menahan sedih.
"Apa maksud ucapan mu? aku bukan anak kadung Mama?" Tanya Braga sembari menatap Mama dan Papa bergantian. Menuntut untuk sebuah jawaban.
"Iya itu benar. Dia bukan Mama kandung mu." Jawab Hana tegas.
"Pa, lalu aku anak siapa?" Tanya Braga dengan wajah penuh tanya.
"Lalu Mama?" Tanya Braga yang masih belum paham.
"Dengar nak. Kau adalah anakku dengan wanita yang lain. Mama mu bukanlah dia." Papa menunjuk Mama.
Braga menjadi tidak bisa mengendalikan dirinya yang merasa dibodohi selama ini. Braga mengusap wajahnya dengan kasar. Dara dengan cepat meraih menggenggam tangan Braga. Menatapnya dengan senyum untuk menguatkan. Braga mengeratkan genggamannya.
"Lalu dimana Mama kandungku?" Tanya Braga yang mulai merasa bisa mengendalikan diri.
"Papa tidak tahu. Saat kau lahir, Papa sedang berada diluar negeri. Keluarga Papa dan Mama sudah menjodohkan Papa dan Mama saat kami masih remaja. Papa dan Mama bersikukuh menolak. Tapi tidak didengar. Papa jatuh cinta dengan Mama kandungmu. Lalu kami bersama secara diam-diam. Papa tidak tahu jika keluarga Papa mengetahui semua itu. Mereka membawa mu pergi sesaat setelah kau lahir." Ucap Papa sembari berjalan mendekati Braga.
"Siapa nama Mama kandung ku Pa?" Tanya Braga penasaran sedih juga kasihan dengan apa yang di alami Mama kandungnya.
"Rini. namanya Rini. Dia adalah anak salah satu asisten rumah tangga dirumah Kakek dan Nenekmu.
"Kenapa Papa tidak mencoba mencari?" Tanya Braga mulai kesal juga kecewa.
__ADS_1
"Keluarga Mama dan Papa menyembunyikan Rini dan informasinya sangat rapat. Beberapa kali Papa mencoba mencari, tapi selalu berakhir kekecewaan." Ucap Papa yang terlihat sedih.
"Kenapa keluarga Papa sangat menakutkan?" Tanya Braga.
"Bukan hanya keluarga Papa keluarga Mamamu juga sama menakutkan. Itulah sebabnya Papa berhenti mencarinya. Papa tidak ingin mencelakakan mereka." jawab Papa.
"Lalu? Lalu aku anak siapa?" Tanya Maria yang sudah mulai berderai air mata.
"Kau anakku. Kau anak kami." Jawab Mama menatap tegas Maria.
"Papa? aku mau Papa yang menjawab." Ucap Maria.
"Kau anak kami. Kau lahir saat Braga pulih dari trauma karena kecelakaan mobil." Jawab Papa sembari mengelus kepala Maria.
"Itu artinya? Mama juga berjasa kan untuk hidup Mas Braga." Merasa kasihan melihat Mamanya disudutkan, Maria mencoba sedikit memperbaiki citra buruk Mamanya.
Mendengar pertanyaan Maria, Braga menekan genggamannya kuat. Dara ingin mengaduh tapi melihat suaminya yang sedang sangat tertekan, ia mencoba menahannya sekuat mungkin.
"Oh iya tentang itu ya? Kamu tidak perlu khawatir Mas. Saat itu, yang menyelamatkan kamu bukan Mama palsu kamu itu. Tapi Ibunya Dara." Timpal Hana.
"Apa?
Semakin terkejut bukan main. Dari mana Hana mendapatkan semua informasinya itu.
"Jangan asal menebak! " Bentak Mama. Mencoba menghentikan Hana yang sepertinya banyak mengetahui tentang dirinya.
"Kau punya bukti? jelaskan padaku." Pinta Braga. Dara terdiam karena sudah mengetahui semuanya sebelum ia datang.
"Iya akan kupersingkat. Nyonya dan Ibunya Dara, dulu adalah sahabat. Saat itu, Nyonya membawa kamu untuk bertemu dengan Ibunya Dara. Lalu dia meninggalkan kamu bersama dengan Ibunya Dara. Kau terus menangis mencari Nyonya dan berjalan keluar saat Ibunya Dara sedang membeli minuman untukmu. Saat itu, Ibunya Dara menyadari jika ada mobil yang hampir menabrak mu. Dia berlari menghampirimu dan menyelamat kan mu. Kau tahu? Ibunya Dara sedang mengandung Dara saat itu. Untung saja tidak terjadi apa-apa pada kandungannya. Kalau tidak, kau tidak akan bisa bersama istrimu saat ini." Ucap Hana sembari tersenyum menatap Dara. Dara tersenyum sembari menahan tangis menatap Hana.
"Bohong! bohong! dia berbohong." Bantah Mama sembari menggelengkan kepala tak percaya. Rahasia yang ia simpan begitu rapat kini dibongkar didepan umum.
"Jadi, apa maksut dan tujuanmu selama ini? kenapa kau membenci Dara? kenapa kau tidak punya sifat kemanusiaan? " Tanya Papa sembari menatap Mama. Ada kekecewaan serta kemarahan diwajah Papa yang terlihat sangat jelas.
"Katakan Nyonya, apa perlu aku memberitahu yang sebenarnya?" Ucap Hana sembari tersenyum.
__ADS_1
..........................