
Bingung, gelisah,serba salah. Apa yang harus dijawab. Apa dan yang mana yang harus dipilih. Mengakui semuanya dan kehilangan banyak hal? atau diam dan membiarkan mereka berpikir dan menyimpulkan semua yang terburuk darinya?. Diam. Hanya diam pilihan Mama saat ini.
"Nyonya,... Jawablah pertanyaan Papa yang mewakili seluruh anggota keluarga mu." Ucap Hana sembari berjalan mendekati Mama. Menepuk pundaknya beberapa kali.
"Nyonya,.. Kau sudah tidak bisa lolos lagi." Ucap Hana mendekatkan bibirnya ditelinga Mama.
Mama hanya diam dalam kebingungan. Pilihan mana yang akan ia pilih.
"Ma, jawablah. Kenapa Mama begitu membenci Dara. Dulu Mama beralasan bahwa Dara tidak bisa memberiku anak. Tapi setelah kami memiliki anak, Mama justru semakin membencinya. Katakan Ma. Beri tahu aku apa yang sebenarnya. Aku janji. Aku tidak akan mendendam untuk apa yang sudah Mama lakukan." Pinta Braga sembari menatap Mama lekat.
"Karena, Karena Dara adalah anaknya Hengki dan Lisa. Mereka berdua menghianati ku." Ucap Mama sembari menunjuk Ibu dan Ayah yang kini berada dibelakang Dara.
"Kamu mendendam selama itu? kamu bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Jawab Ibu dengan nada sopan.
"Kamu merebut Hengki dariku. Karena kalian lah, Aku harus mengurus anak yang bukan anakku. Aku mengalami kesialan seumur hidupku itu semua karena kamu!" Ucap Mama dengan nada membentak. Jari telunjuknya menunjuk ke arah Ibu. Wajah marahnya sangat jelas terlihat.
"Jadi aku adalah salah satu kesialan itu ya?" Tanya Braga tertunduk menahan marah. tangannya semakin erat mengepal.
Mama hanya terdiam dengan tatapan sendu. Matanya lekat memandang wajah kecewa Braga.
"Kami menikah saat kau sudah lima tahun menikah dengan suamimu. Lalu dimana letak kesalahan kami? kami juga menikah karena dijodohkan oleh orang tua kami. Apa kami tidak berhak bahagia?" Tanya Ibu yang terlihat sedih dan merasa bersalah.
"Tidak! kalian tidak berhak untuk bahagia. Hengki dari awal adalah milikku. Dan kau, kau merebutnya. Saat itu aku berniat mengajak Hengki pergi jauh bersamaku. Tapi tidak disangka, dia menolak dan mengatakan jika kalian sudah menikah. Kalian penghianat.!" Ucap Mama sembari menyeka air matanya.
"Saat itu kamu sudah lama menikah. Bagaimana mungkin aku membawa istri orang untuk lari bersamaku. Seandainya kamu bisa melihat ketulusan pada suamimu, kamu pasti akan bahagia tanpa melihat masa lalu." Timpal Ayah yang merasa tidak tahan mendengar ucapan Mama yang menyakitkan itu.
"Jadi begitu ya?" Saut Papa. Wajahnya terlihat memerah.
__ADS_1
"Pa? aku minta maaf untuk ini." Ucap? Mama sembari meraih tangan Papa. Papa menepis dengan cepat tangan Mama.
"Tidak perlu. Sudah cukup. Bertahun-tahun lamanya aku selalu berusaha mencintaimu dan melupakan Rini. Sekarang aku tahu alasannya kenapa aku masih sulit mencintaimu." Ucap Papa dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? apa?! menceraikan ku? baiklah. Lakukan jika kau punya keberanian." Mama menantang ucapan Papa dengan percaya diri.
"Memang kenapa aku tidak berani?" Tanya Papa yang merasa diremehkan.
"Ingatlah. Dulu, saat perusahaan keluargamu terpuruk, keluargaku membantu keluargamu. Kau tidak bisa melupakan begitu saja kan? kau bisa sukses seperti sekarang karena keluargaku." Ucap Mama sembari menatap Papa tajam.
"Sayang sekali. Bantuan itu sudah aku kembalikan kepada keluargamu satu bulan setelah kita menikah. Dan, aku memberikan lima persen sebagai ucapan terimakasih. " Ucap Papa tegas.
"Apa?!" Mama terkejut.
"Tanyakan pada Papa mu. Aku tidak pernah menerima bantuan apapun lagi setelah itu." Jawab papa.
"Benar-benar kekanakan. Menghancurkan rumah tanggaku karena dendam sepele. mengancam Papa dengan debu seperti ini. Aku ini Bodoh atau idiot? aku mencintaimu sepenuh hatiku. Aku melakukan semua yang kau katakan. Tapi, aku terlalu buta. Benar-benar." Braga terisak. Dara menggenggam kepalan tangan mereka menggunakan satu lagi tangannya.
Braga menatap Dara. Tersenyum dan mengangguk.
"Wuah.... Nyonya, aku tersentuh mendengar cerita masa lalu anda." Ucap Hana memecahkan suasana sedih saat itu.
"Diam kamu wanita murahan! Kau tidak pantas mengkritik ku!. Kau bahkan tidak lebih baik dariku.!" Bentak Mama.
"Oh ya? benarkah? aku menjadi murahan karena anda. Anda membuat saya menjadi mesin untuk membuat anak. Anda memaksa saya untuk menggoda Mas Braga. Saya sampai merasa hina karena anda. Anda sudah menghancurkan hidup saya sampai ke akarnya. Kenapa anda tidak memaki diri anda juga?" Protes Hana sembari menatap penuh marah.
"Apa lagi ini. Apa maksut ucapan mu?" Tanya Papa yang terlihat semakin bingung.
__ADS_1
Hana mendekati Mama yang berada beberapa langkah darinya. Merapikan rambut Mama yang sedikit berantakan.
"Istri anda ini membuat saya gagal menikah. Dia datang kepada keluargaku menawarkan banyak uang. Mulanya kami menolak karena satu bulan lagi aku akan menikah. Tapi dia tidak perduli. Dia terus mengancam orang tuaku. Sampai akhirnya, aku harus dikorbankan untuk menjadi seorang Ibu tanpa dinikahi. Tidak sampai disitu. Dia selalu memaksaku untuk menggoda Mad Braga. Memaksaku untuk memisahkan Dara dan Mas Braga. Dia benar-benar membuatku kehilangan harga diri. Dia tidak pernah perduli sedikitpun tentang perasaan ku." Ucap Hana yang sudah mulai berair matanya.
"Hana,,,...?" Ucap Dara yang merasa terkejut juga prihatin terhadap Hana.
Hana tersenyum seolah isyarat bahwa dia baik-baik saja. Hana menarik nafas pelan dan menghembuskan perlahan sebelum melanjutkan ucapannya.
"Iya Dara. Aku tidak benar-benar menginginkan Mas Braga. Jujur saja, terkadang aku merasa hina dan menjijikan setiap saat Mas Braga menolak ku." Ucap Hana sembari tersenyum seperti tak menunjukan betapa sulit ia melalui itu semua.
'Plakk......!' Mama menampar Hana.
"Dasar pembohong! wanita gila. Berani sekali kau memfitnah ku.
Hana memegangi pipinya yang terasa panas.
"Hahahahahaha.......Nyonya, anda selalu memperlakukan ku seperti seonggok sampah. Anda merendahkan ku setiap waktu. Apa anda tidak pernah berpikir, Aku adalah seorang putri yang berharga dan dicintai oleh orang tuaku? jika anda terus melakukan ini, yang paling terluka adalah orang tuaku.
"Kenapa? kenapa kau seperti seorang monster? kenapa kau tega melakukan semua ini? kau menghancurkan banyak hati. Apa kau masih seorang manusia? apakah aku begitu gagal sebagai seorang suami? " Tanya Papa yang tidak percaya jika istrinya melakukan semua itu.
"Aku,... aku,.. aku minta maaf. Awalnya aku hanya ingin memisahkan Dara dan Braga saja." Jawab Mama tertunduk tak berdaya.
Nampak Selli yang semakin terlihat tegang. Perlahan ia memperhatikan kanan dan kiri. Melihat keadaan yang begitu canggung. Selli kehilangan kepercayaan diri saat melihat Hana yang terus membongkar aib Mama. Selli menjadi gelisah. Ia melangkahkan kaki mencoba untuk melarikan diri.
"Ups!! kau mau kemana?" Tanya Hana sembari memperhatikan langkah Selli yang semakin cepat menjauh.
Selli mengentikan langkahnya menatap Hana dengan tatapan mengancam.
__ADS_1
"Aku juga ada kejutan untukmu." Ucap Hana tersenyum licik.
.............................