
Dara menatap Braga yang terlelap disampingnya. wajah yang ia rindukan kini berada dihadapannya. tak ada yang bisa menebak. akan seperti apa masa depan. begitu juga dengan Dara. meskipun pikiranya menolak, tapi hati menginginkannya.
Braga membuka mata saat merasakan sentuhan dari jemari wanita yang sangat dicintainya. tersenyum menatap Dara yang juga tersenyum menatapnya. Braga memeluk tubuh Dara dengan erat.
"Kita berakhir begini Mas?" tanya Dara yang masih tak menyangka kini tengah tidur di ranjang yang sama dengan Braga.
"Siapa bilang ini berakhir. bukanya ini permulaan?
Tadi Malam.
"Mas, kenapa kita masuk kedalam? Apartemen ini milik siapa?" Dara kebingungan karena seluruh lampu mati.
"Tunggu sebentar. kamu akan tahu nanti.
Braga meraih ponselnya untuk penerang sementara.
"Mas. ingat ya. kamu tidak boleh berbuat mesum." mengingat kan Braga kembali.
Tak menjawab apapun. Braga berjalan meninggalkan Dara untuk menyalakan lampu.
saat seluruh lampu menyala, Dara tertegun melihat apa yang ada disekelilingnya.
Sebuah photo berukuran besar terpampang di tembok. begitu banyak photo dibeberapa tempat. ruangan yang dipenuhi barang-barang kesukaan Dara.
"Mas ini?
Braga tersenyum menatap Dara dari jarak beberapa meter.
"aku membeli Apartemen ini satu minggu sebelum kamu pergi. dan aku juga sempat membeli rumah dua hari sebelum kamu pergi. tadinya aku berpikir, aku ingin kamu yang memutuskan. dimana kita akan tinggal. tapi kamu lebih memilih untuk tinggal jauh dariku." raut wajah sedih dan kecewa menghiasi wajah Braga.
"Maaf mas. lagi pula, kamu yang membuatku melakukan itu." Dara mengalihkan pandanganya. seolah tak ingin Braga melihat rasa bersalah di wajah Dara.
Braga berjalan mendekati Dara. duduk di sofa dekat Dara. meraih jemarinya dan menariknya untuk duduk dipangkuan nya.
"Tubuh mu menjadi sangat ringan. apa kau tidak makan dengan baik?" tanya Braga sembari memeluk pinggang Dara.
"Bukankah kebanyakan wanita akan lebih menyukai bentuk tubuh seperti ini? kamu sendiri juga terlihat kurus. apa Hana mu tidak memberimu makanan bergizi?" tak mau kalah dari Braga yang memprotes berat badannya.
"Ah!!!!
Braga menggigit bahu Dara.
"Berhentilah meyebut namanya. kau pergi tanpa mengetahui yang sebenarnya. tidakkah kau menyesal saat kau tahu nanti?" sembari mencium bahu bekas gigitannya.
"Apa yang kamu bicarakan?" bingung. setahu Dara, tak ada hal yang tidak ia ketahui selama menjadi Istri Braga dulu.
"Baiklah. aku akan mengatakan yang sebenarnya. nanti, kau juga harus menjawab pertanyaan ku dengan jujur.
"dari awal hingga akhir, aku sama sekali tidak pernah tidur dengan Hana.
"Apa?!" tak pernah membayangkan jika Braga akan memberikan pernyataan yang akan sulit dicerna oleh otaknya.
"Aku tidak sedang berbohong." sudah tahu kalau apa yang ia ucapkan pasti akan sangat mengejutkan.
__ADS_1
Dara bangkit dan menatap Braga tajam.
"kamu sedang bercanda ya Mas?
"Tidak. aku serius.
"Mas, kamu sadar apa yang kamu bicarakan? kamu sungguh aneh. lalu dari mana Ameera berasal kalau kamu tidak pernah tidur dengan Ibunya?
Braga menarik tangan Dara. membuatnya jatuh duduk di sofa samping Braga.
"Inseminasi buatan. kami melakukan itu. untungnya, itu berhasil. jadi aku tidak perlu mengotori tubuhku.
Dara menatap wajah Braga yang benar-benar terlihat sangat jujur dan tulus.
"apa kau lupa? dulu kau pernah mengatakan jika kamu dan hana sudah tidur bersama. dia memakai bajuku lalu,-...
"Sssttt..." Braga menghentikan ucapan Dara.
"masalah itu aku minta maaf. itu, Mama yang menyuruhku mengatakan itu. maaf karena aku terlalu kemah saat itu.
Dara menangis mendengar semua ucapan Braga.
"jadi, semua ini karena Mama kamu? dia terus menciptakan kesalah pahaman di antara kita?" ucap Dara sembari terisak.
"Maaf karena membuatmu harus melalui ini semua. aku terlalu mencintai Mama. sampai dia melupakan seluruh batasannya. itu tidak akan terjadi lagi. aku janji.
Dara terdiam sesaat. mengingat ucapan Pingkan. "baiklah,.. ini saatnya memberikan kejutan untuk Mama mertua tercinta.batin Dara.
"Mas, bagaimana tentang surat cerai kita waktu itu? aku langsung pergi kan? bagaimana hasilnya?
"Tidak ada. aku merobek dan membuangnya di tong sampah waktu itu. berani sekali kamu berpikir untuk bercerai." wajahnya sudah mulai terlihat marah.
"Jadi kita belum bercerai?" tanya Dara dengan sumringah.
"Tidak. bukan belum. tapi tidak akan. kamu paham?" wajah tegas yang menyatakan sebuah ketegasan tentang hal yang diyakini.
"Baiklah. aku mengerti." memeluk tubuh braga dengan lembut.
"tunggu aku Mama. aku sangat merindukanmu. aku akan memberikan hari-hari yang mengesankan mulai hari ini." gumam Dara.
Braga menghembuskan nafas kasarnya. menepuk punggung Dara.
"jangan sampai ada kekerasan fisik ya sayang. aku tidak membela Mama. tapi, aku juga tidak akan bisa melihat ada yang terluka.
tapi, bukankah lebih baik jika kita tidak tinggal dengan Mama?
"Tentu saja. tapi, kamu harus sesering mungkin mengajakku bertemu Mama mu dan juga Hana mu." ucap Dara sembari meledek.
Braga bangkit dan meraih tubuh Dara. menggendongnya dan membawa masuk ke kamar.
"Tunggu Mas! kamu mau apa? Mas!
Braga merebahkan tubuh Dara di tempat tidur. Dara berhenti memberontak saat melihat photo pernikahannya terpampang di tembok. beberapa photo saat masa berpacaran juga terpajang dengan rapih.
__ADS_1
"Mas,.."panggil Dara.
menghentikan kegiatan Braga yang sudah mulai menciumi setiap lekuk tubuh Dara.
"Hem,.. jangan menyuruhku berhenti." melanjutkan kegiatannya kembali.
"Tidak. aku tidak,.." Dara diam dan mulai menikmati tiap sentuhan yang diberikan oleh Braga.
Melanjutkan obrolan paginya.
"Dara,."
"Apa?
"Sebenarnya, ada hal yang sangat ingin aku tanyakan dari semalam. kira-kira, apa kau akan menjawabnya? apa ka tidak akan marah?" berusaha selembut mungkin.
"Tentang apa?" Dara tersenyum seolah sudah mengetahui apa yang ingin Braga tanyakan.
"Tentang anak-anak. apa kau bersedia untuk memberitahuku tentang mereka?" wajah penuh harap. menahan rasa ingin tahu tentang anak-anaknya adalah hal yang sangat sulit untuk ditahan.
"Huh!!! karena kau terlihat begitu mencintaiku, maka akan ku beritahu." Braga tersenyum senang.
"aku juga tidak ingin membuat kalian susah untuk bertemu. aku tidak ingin seperti cerita dalam drama. lalu, bagian mana yang kamu ingin tahu tentang anak-anak kita?
Mendengar kata anak-anak kita membuat mata Braga berair karena terharu.
"seperti, makanan kesukaan mereka, hobi mereka, semua tentang mereka.
Dara menghela nafasnya.
"Mas, mereka tidak seperti anak-anak yang lain.
Braga mengerutkan dahinya.
"sa,sayang, apa mereka ada kelainan? aku tidak akan mempermasalahkan itu. apapun keadaan mereka, aku akan mencintai mereka sepenuh hatiku.
Dara terkekeh. Braga dibuat lebih bingung lagi melihat Dara tertawa.
"dengar mas. anak laki-laki kita, dia tidak suka taman bermain. tidak menyukai keramaian. bicaranya sangat sedikit. suka memerintah. dan paling suka melarang. makanan yang dia sukai adalah sayuran dan buah segar.
"anak perempuan kita, dia sangat dewasa dan pengertian. dia ramah dan suka bergaul dengan banyak orang. dia pintar membuat hati kita senang. dia kebalikan dari anak laki-laki kita. untuk makanan, dia memakan apapun yang aku berikan.
Braga meneteskan air mata.
"jadi kita punya anak laki-laki dan perempuan? mereka terdengar sangat pintar.
"Kita beruntung Mas. mereka masuk kategori jenius.
"Benarkah?" tak dapat lagi menahan air matanya. Braga mulai terisak. menyesali waktu yang telah membuatnya kehilangan masa-masa saat anak mereka tumbuh besar. mengutuk diri sendiri adalah yang paling benar bagi Braga.
"siapa nama mereka? bisakah mengajakku menemui mereka?
Dara memeluk Braga yang tengah terisak.
__ADS_1
"sejak kapan kamu cengeng begini. kamu akan tahu namanya saat kamu bertemu mereka.
............................