Ibu Dari Anak Suamiku

Ibu Dari Anak Suamiku
Rumah sakit


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Pagi telah datang untuk menyapa. Dara terbangun dari tidurnya. merasai tubuhnya yang terasa sakit dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Terlintas tentang apa yang terjadi semalam. Dara menjadi ketakutan. Air mata nya menetes membayangkan wajah menakutkan dari kedua pria yang hendak melecehkan nya.


"Mas,......" Panggil Dara yang melihat Braga yang masih duduk dan tertidur.


Braga membuka matanya perlahan.


"Sayang,... kamu sudah bangun? apa ada yang tidak nyaman? kamu mau sarapan? atau kamu mau ke toilet?." Tanya Braga sembari bangkit dan memeriksa wajah Dara yang terlihat masih lebam.


Dara terkekeh sembari menghapus air matanya.


"Kamu membuatku kehilangan rada sedihku Mas." Ucap Dara sembari memeluk Braga yang kini membungkuk didekatnya.


"Benarkah?" Tanya Braga sembari tersenyum dan mengelus pelan kepala Dara.


"Mas, orang-orang semalam kenapa melakukan itu? apa sudah tertangkap?" Tanya Dara sembari mengeratkan pelukannya.


"Mereka lolos. Saka sedang menggali informasi. Kamu fokus saja supaya cepat pulih.


"Aku masih gemetar membayangkan mereka akan memper,-


"Sudahlah. Jangan mengatakan itu lagi. Biarkan aku dan Saka mengurus masalah ini. Aku tidak akan melepaskan mereka begitu saja. Kau tenang saja ya?." Bujuk Braga.


Tak lama kemudian, suara pintu terbuka. Mama dan Selli datang untuk menjenguk Dara.


"Semoga cepat sembuh." Ucap Selli sembari berjalan mendekat dan meletakkan berbagai macam buah-buahan dimeja samping tempat tidur Dara. Mama hanya diam tak terlihat ingin mengatakan apapun.


"Terimakasih. Tapi sungguh, aku tidak perlu kau jenguk." Ucap Dara sembari menatap Selli tajam.


Selli tersenyum sembari menyibakkan rambutnya. Duduk dipinggiran tempat tidur Dara. Bersebrangan dengan Braga yang hanya bisa menatap Selli dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kau terlalu cemburuan. Aku ini hanyalah cinta pertama Mas Braga. Kami menjalin hubungan itu selama tiga tahun. Meskipun sangat sulit untuk melupakan kenangan masa lalu, tapi aku tetap menghargai dan menghormatimu sebagai istrinya." Entah apa yang ada dipikiran Selli.


Dara meraih jemari tangan Braga membuatnya menjadi sebuah genggaman.


"Aku juga tidak perduli. Masa lalu hanyalah masa lalu. Sekarang, hanya ada aku dan juga anak-anak kami. Iya kan Mas?" mengalihkan pertanyaan untuk menekan Selli. Matanya mengancam tapi bibir tersenyum.


Braga tidak bisa menahan tawa melihat mata dan bibir Dara yang tidak sinkron.


"Iya tentu saja. Ngomong-ngomong, kau tidak perlu menggunakan matamu untuk mengancam ku. Aku sangat mencintaimu. Dimata ku, kamu adalah wanita yang paling cocok untukku." Braga menjatuhkan wajah Dara ke dadanya. Mengelus perlahan penuh kasih sayang.


"Anak tidak berguna." Batin Mama yang menatap tajam. Sebal juga Marah melihat anaknya begitu tak menganggapnya ada didekatnya.


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Siapa tahu Mas Braga bosan denganmu." Ucap Selli sembari tersenyum menatap Dara dan Braga yang masih saling memeluk.


"Jaga ucapan mu. Semakin lama, mulut mu semakin hilang kendali. Dara adalah istriku. Aku tidak akan menerima perlakuan buruk terhadap istriku. " Protes Braga sembari menatap Selli marah.


"Baiklah,.... Maafkan aku. Aku hanya mengingatkan Mas. memang benar kan, kita tidak tahu tentang masa de,-


"Pergilah. Jangan memprovokasi ku." Perintah Braga tanpa menatap Selli.


"Ayo pergi Selli. Kedatangan kita tidak diharapkan." Ucap Mama sembari menarik tangan Selli. Mengajaknya keluar dengan paksa.


Braga terlihat sedikit murung saat Mama pergi. Ada perasaan bersalah karena menyakiti hati Ibunya.

__ADS_1


"Lihatlah perempuan tidak berguna itu berani menentang ku. Aku tidak akan mengulur waktuku lagi." Batin Selli yang masih mengikuti langkah kaki Mama yang masih menyeret tangannya.


"Sudah aku bilang. Lebih baik kita tidak usah datang. Kau lihat? Braga semakin menjauhi mu. Dasar tidak berguna.!" Bentak Mama yang sudah mulai jauh dari bangsal Dara.


"Oh ya? aku tidak berguna? kita lihat saja. Apa setelah ini anda masih menganggap ku tidak berguna." Ucap Selli sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan langsung menghubungi seseorang.


'Hallo. Jalankan rencana selanjutnya. Posisi berubah. Mangsa berada di rumah sakit sekarang. Baiklah. Aku tunggu kabar baik darimu.' Selli tersenyum menatap Mama sembari memutuskan sambungan teleponnya.


"Apa yang kamu rencanakan?" Tanya Mama yang merasa tidak beres dengan senyum Selli.


"Lihat saja. Aku akan membuktikan padamu. Aku bukanlah orang yang mudah untuk diremehkan." Jawab Selli sembari beranjak meninggalkan Mama yang masih membeku mendengar ucapan Selli.


"Wanita ini benar-benar membuatku merasa harus waspada." gumam Mama dalam hati sembari beranjak untuk menyusul Selli yang mulai menjauh darinya.


"Mas, apakah kejadian semalam ada hubungannya dengan Selli?" Tanya Dara. Sedikit ragu, tapi dia berharap bahwa tidak akan orang yang sejahat itu.


"Sampai sekarang belum ada bukti yang ditemukan. Mulai dari CCTV yang tidak berfungsi. Lalu, mereka juga tidak terlihat keluar dari pintu utama hotel itu. Ini sudah direncanakan dengan matang." Jawab Braga sembari mencoba untuk bangkit dari duduknya.


Dara mencengkram selimut dengan kuat. Merasa takut juga marah.


"Kenapa ada orang yang sepicik itu? apa yang dia inginkan?" gumam Dara bertanya pada diri sendiri.


"Masih belum jelas. Mungkin dari saingan bisnis ku. Mungkin juga orang yang kita kenal. Saat ini masih sulit menemukan bukti. Bersabarlah sedikit. Untuk sementara ini, jangan pergi bekerja. Aku akan menemui Erick nanti." Ucap Braga yang terlihat mulai gusar.


"Baiklah... setelah ini, aku tidak akan muncul dimana-mana dulu." Ucap Dara sembari tersenyum menatap Braga. Berharap senyuman itu mampu mengusir kegusaran Braga.


"Iya. Jangan menunjukan dirimu jika aku tidak memintamu melakukan itu." Timpal Braga.


"Baiklah bos. Lalu bagaimana kalau aku tidak muncul dihadapan mu juga?" Tanya Dara sembari terkekeh.


"Berjanjilah Mas. Apapun yang terjadi, kita tidak boleh saling menghianati." Pinta Dara yang kini tengah memeluk tubuh Braga.


"Iya aku janji." Jawab Braga.


"Untuk saat ini, aku tidak mengizinkan anak-anak datang menjenguk. Aku takut akan terjadi hal buruk pada mereka. Tidak masalah kan?


"Iya. Lalu, anak-anak ada dimana sekarang?" Tanya Dara mulai khawatir.


"Di apartemen. Untuk sementara, Rian akan menjaga mereka. Aku juga sudah menyiapkan dua pengawal untuk berjaga-jaga.


"Baguslah." Batin Dara.


Dering ponsel membangunkan Dara dan Braga yang mulai tertidur. Dengan cepat Braga menerima panggilan masuk ke ponselnya.


'Hallo. Ada apa?. Apa?!. Ok aku kesana.'


"Ada apa Mas?" Tanya Dara yang Khawatir melihat Braga begitu kaget.


"Sayang, Maria telepon. Mama pingsan dan kepalanya terbentur sudut meja." Jawab Braga dengan panik.


"Kalau begitu kamu pulang saja Mas. Mamamu juga membutuhkanmu.


Dengan berat hati Braga menyetujui untuk kembali kerumah dan memastikan kondisi Mama.

__ADS_1


"Aku akan menghubungi orang untuk menjagamu sampai aku datang." Ucap Braga sembari mengusap pipi Dara.


"Iya." Jawab Dara dengan senyum diwajahnya.


Braga mulai melangkahkan kakinya mendekati pintu.


" Tunggu Mas." Dara menghentikan langkah kaki Braga.


Braga membalikkan tubuhnya menghadap Dara.


"Iya. Ada apa?


"Tidak tahu mengapa aku ingin mengatakan ini. Aku mencintaimu Mas." Ucap Dara dengan senyum diwajahnya.


"Aku juga mencintaimu. Jaga dirimu sampai orang suruhan ku datang ya?


Dara tersenyum dan mengangguk.


Setelah sampai dirumah orang tua Braga.


dengan cepat, Braga melangkahkan kaki secepat mungkin untuk melihat kondisi Mama.


"Bagaimana keadaan Mama?" Tanya Braga yang telah membuka pintu kamar Mama.


Braga mengerutkan dahinya bingung melihat keadaan Mama yang terlihat baik-baik saja.


"Apa maksudmu? Mama kenapa memangnya?" Tanya Mama balik. Heran kenapa tiba-tiba Braga menanyakan kabarnya.


"Apa!!! Sial!!


Braga berlari meninggalkan kamar Mama. Tak sengaja, ada Maria yang kini tengah duduk diruang keluarga sembari memainkan ponselnya.


"Maria!! kenapa kau menghubungi ku tadi? kenapa kau mengatakan Mama pingsan?!" Tanya Braga sembari terengah.


"Aku? kapan aku menghubungimu?" Tanya Maria balik.


"Jadi bukan kau?


"Bukan.


"Sial!!" Maki Braga sembari sembari berlari menuju pintu keluar.


Ponsel Braga berdering.


'Hallo.


'Tuan. Saya sudah sampai di rumah sakit. Tapi Nyonya tidak ada DI bagsalnya.


'Cari dia!


'Baik. Saya sedang memeriksa CCTV.


'Bergerak cepat. Kerahkan semua anggota mu!

__ADS_1


'Baik.


................


__ADS_2